IHSG menutup perdagangan Jumat (26/6/2026) dengan koreksi 102,9 poin atau 1,7% ke level 5.896,1. Tekanan datang dari aksi jual di sektor teknologi global yang merambat ke bursa Asia dan Eropa, dipicu kekhawatiran soal membengkaknya biaya infrastruktur AI. Awal pekan ini, tekanan belum selesai.
Phintraco Sekuritas memetakan kondisi teknikal yang tidak ramah: IHSG ditutup di bawah MA5, MA10, sekaligus MA20. Histogram MACD yang sempat positif mulai layu, dan stochastic RSI sudah masuk area pivot. Level 5.700-5.800 menjadi zona yang berpotensi diuji sebelum pasar sempat mencerna deretan rilis data penting, yakni PMI manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi.
Satu sinyal yang menolak ikut tenggelam datang dari nilai tukar. Rupiah justru menguat tipis 0,04% ke Rp17.918 per dolar AS, tertolong operasi moneter Bank Indonesia lewat lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kecil, memang. Tapi rupiah tidak ikut amblas.
Di balik gambaran teknikal yang suram itu, ada perspektif lain yang agaknya perlu didengar. UOB Kay Hian, dalam riset yang terbit 26 Juni 2026, mencatat valuasi IHSG kini mendekati level krisis keuangan global 2008-2009. Indeks ini sudah tergerus 32% secara year-to-date, menjadikannya salah satu yang paling babak belur di dunia sepanjang tahun ini. Price to earnings (PE) untuk estimasi 2026 hanya 10 kali. Untuk 2027, angkanya turun lagi ke 8,6 kali.
"Risiko-risiko yang membayangi pasar dinilai sudah banyak tercermin dalam harga saham," tulis analis Willinoy Sitorus bersama Indonesia Research Team.
Bukan klaim enteng. Diskon sedalam ini, ditambah gap valuasi yang lebar terhadap pasar regional, membuka risk-reward yang menarik bagi investor yang mau bersabar. Sektor perbankan jadi cermin paling gamblang. Saham BBCA dan BBRI kini diperdagangkan mendekati price to book value (PBV) terendah sejak krisis 2008. BMRI dan BBNI bahkan sudah lebih rendah dari level valuasi 2018. Kompensasinya, imbal hasil dividen keempat bank ini berkisar 6% hingga 10%. Angka yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Pemulihan sektor ini, entah kebetulan atau tidak, tergantung pada satu hal yang sama: likuiditas. UOB menegaskan re-rating baru bisa terjadi kalau likuiditas benar-benar mengalir kembali ke ekonomi riil, sesuatu yang masih terhambat kebijakan SRBI dan selektivitas penyaluran kredit.
Risiko makro? Masih antri panjang. Tekanan fiskal, prospek negatif dari Fitch Ratings dan Moody's, ancaman downgrade, pelebaran defisit akibat program Makan Bergizi Gratis dan subsidi energi, semuanya belum pergi. Bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets pun sudah melorot dari hampir 3% ke sekitar 0,5%, dan jumlah saham yang masuk indeks tersebut menyusut dari lebih dari 20 emiten menjadi hanya 11. Otoritas pasar modal punya waktu hingga November 2026 untuk membuktikan reformasi transparansi dan tata kelola bukan sekadar janji.
Dengan semua latar belakang itu, UOB Kay Hian memasang target IHSG akhir 2026 di level 7.500, berdasarkan asumsi PE 12 kali estimasi 2026 dan proyeksi pertumbuhan laba 8,3%. Strategi yang disarankan: akumulasi selektif dengan portofolio yang membagi bobot antara perbankan, komoditas, dan saham defensif. Nama-nama yang masuk daftar pilihan mereka antara lain AMMN, ASII, BBCA, BMRI, BULL, BRMS, CMRY, DEWA, JPFA, MDKA, dan TLKM.
Untuk trader dengan cakrawala lebih pendek, KB Valbury Sekuritas merekomendasikan enam saham untuk Senin ini. BBCA disarankan dengan target 6.300 dan area masuk 6.050-6.175. UNVR masuk sebagai kandidat buy on weakness dengan target 3.100 dari zona masuk 2.840-2.940.
Dua narasi, satu pasar. Trader jangka pendek perlu awasi level 5.700. Investor jangka menengah yang tahan banting, bisa jadi, sedang disuguhi peluang yang tidak datang setiap musim.