Harga kontrak berjangka minyak kelapa sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup di level MYR4.672 per ton pada Jumat (25/9/2026), anjlok 2,10% dari penutupan sehari sebelumnya sebesar MYR4.772 per ton. Secara mingguan, koreksinya lebih dalam: minus 4,61% dari MYR4.898 per ton pada Jumat sebelumnya, sekaligus menjadi level penutupan terendah dalam lebih dari tujuh pekan.
Bukan kebetulan harga rontok justru ketika produksi masih deras. Puncak musim panen September membuat pasokan Malaysia terus membengkak, sementara serapan ekspor justru melempem. Data Intertek Testing Services (ITS) mencatat ekspor produk sawit Malaysia sepanjang 1-25 September hanya 887.557 ton, turun 15,1% dibanding periode yang sama bulan lalu. Pasar Uni Eropa menyusut dari 284.061 ton menjadi 184.372 ton, China terpangkas dari 94.800 ton ke 55.000 ton. India memang naik tipis ke 199.630 ton dari 193.620 ton, tapi tidak cukup untuk menambal lubang yang ditinggalkan dua pasar besar itu.
Stok Malaysia yang per Agustus sudah berada di 2,82 juta ton, level tertinggi dalam delapan bulan, diperkirakan akan menembus angka psikologis 3 juta ton pada akhir September. Kepala Riset Sunvin Group Anilkumar Bagani bahkan memproyeksikan stok bisa menyentuh 3,1 juta ton jika tren produksi tinggi dan ekspor lesu ini berlanjut. Dalam sejarah Malaysia, level 3 juta ton hanya pernah tertembus lima kali. "Meningkatnya tingkat persediaan minyak sawit, yang berpotensi mencapai rekor tertinggi dalam 1-3 bulan ke depan, diperkirakan akan membatasi kenaikan harga tahun ini," tulis analis Bloomberg Intelligence Alvin Tai dan Jason F Miner dalam catatan risetnya.
Ada satu katalis positif yang sempat memberi harapan. India memangkas bea masuk dasar CPO dari 10% menjadi 5%, berlaku sejak 24 September, seiring musim festival yang biasanya mengerek konsumsi minyak nabati. Tarif minyak sawit olahan juga diturunkan dari 32,5% ke 27,5%. Secara teori, impor jadi lebih murah. Pasar agaknya sudah terlanjur pesimis, dan The Edge Malaysia menilai pembelian India akan melambat setelah negara itu melakukan pembelian agresif selama dua bulan terakhir. Belum lagi selisih harga CPO terhadap minyak kedelai yang kian menyempit, membuat pembeli India punya lebih banyak alasan untuk melirik opsi lain.
Tekanan datang dari segala sudut sekaligus. Harga soyoil di Chicago Board of Trade ikut tergerus 1,13% pada hari yang sama. Minyak mentah dunia pun melemah seiring spekulasi gencatan senjata AS-Iran, yang langsung memangkas daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel. Kombinasi ini bak dua tangan yang mendorong harga dari arah berlawanan.
Cerita CPO tidak berhenti di situ. Ironisnya, faktor yang kini menekan harga secara jangka pendek justru bisa menjadi pembalik arah beberapa bulan ke depan. El Niño yang mengering perkebunan Kalimantan ibarat pedang bermata dua: stok saat ini masih berlimpah karena tanaman yang sudah terlanjur berbuah, tapi dampak kekeringan baru akan terasa ke produktivitas 12-18 bulan mendatang.
Survei Bloomberg News terhadap tujuh analis memproyeksikan produksi gabungan Indonesia dan Malaysia turun sekitar 3% pada 2027. Indonesia diperkirakan hanya mencatat 49 juta ton, Malaysia 19,5 juta ton. BMKG mengonfirmasi musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mundur hingga November-Desember, dengan sekitar 61% wilayah mengalami keterlambatan. Kebakaran hutan di Kalimantan mencatat titik api tertinggi dalam dekade terakhir, mengganggu operasional perkebunan dari pemupukan hingga distribusi. "Kalimantan sangat terdampak oleh kabut asap," kata Warren Tay, trader dari Eco Palm International Sdn. "Kami memperkirakan wilayah tersebut akan menyumbang porsi terbesar dari penurunan produksi tahun depan."
Asosiasi Kelapa Sawit Indonesia merevisi perkiraan penurunan produksi 2027 menjadi 3%, lebih moderat dari estimasi awal 5%. Pertanyaannya, berapa lama tren pemulihan ini butuh waktu untuk benar-benar terasa? Tiga analis Bloomberg memproyeksikan harga acuan bisa mendaki mendekati MYR5.000 per ton tahun depan, level yang nyaris tercapai pada Agustus sebelum berbalik. "Fenomena El Niño yang terjadi saat ini secara luas diprediksi akan berdampak pada produksi 2027, tetapi besaran dampaknya bergantung pada tingkat keparahan dan durasi fenomena tersebut," kata Sathia Varqa, analis senior Fastmarkets Palm Oil Analytics.
Situasinya terbelah tajam. Jangka pendek: suram, dihajar banjir pasokan dan ekspor yang amblas. Jangka menengah: skenario bisa berbalik, kalau data El Niño ini bisa dipercaya dan kekeringan benar-benar menggigit produksi 2027. Bagi investor yang pegang saham emiten sawit, ini bukan momen untuk terburu-buru ke mana pun.