MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  IHSG Sepekan: Lebih Baik dari KOSPI, Tapi Kepercay...

Finansial

IHSG Sepekan: Lebih Baik dari KOSPI, Tapi Kepercayaan Investor Masih Rapuh

IHSG menutup pekan dengan penguatan 2,28% di Jumat, memangkas akumulasi penurunan menjadi hanya 0,35%. Namun di balik angka itu, ada cerita yang lebih dalam soal krisis kepercayaan investor.

IHSG Masih Tertekan, Tapi Tidak Seburuk Korea Selatan - Market

Sepanjang pekan ini, IHSG memberi investor dua hal sekaligus: sedikit kelegaan dan banyak pertanyaan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (3/7/2026), indeks menguat 2,28% ke level 5.875. Reli di ujung pekan itu lumayan menyelamatkan muka, memangkas akumulasi koreksi mingguan menjadi 0,35% dari posisi penutupan pekan lalu di 5.896. Dalam konteks kawasan Asia Pasifik, angka itu masih jauh lebih baik dibanding KOSPI Korea Selatan yang ambles 3,84% dalam periode yang sama, menjadikannya laggard terburuk se-Asia Pasifik. Tapi "lebih baik dari Korea" bukan persis argumen yang bikin investor tidur nyenyak.

Di lingkup ASEAN, IHSG tetap menempati posisi kedua terbawah setelah VN-Index Vietnam, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia. Volatilitas tinggi sepanjang pekan ini dihajar kombinasi sentimen yang tidak ringan: PMI manufaktur Indonesia yang berkontraksi ke 46,9 pada Juni 2026, plus ketegangan geopolitik dari negosiasi damai AS-Iran yang masih tarik ulur.

Andry Hakim, Founder Stockwise, melihat gambar yang lebih besar dari sekadar data PMI atau dinamika Timur Tengah. Pada Investor Daily Roundtable di BEI beberapa hari lalu, ia menyebut bahwa tekanan pada IHSG saat ini berakar dari dalam negeri sendiri. "Sebenarnya penurunan saat ini gara-gara domestik sih, gara-gara ekonomi dalam negeri. Tadinya awal-awal crash di Februari itu gara-gara MSCI. Namun, sekarang sudah bukan masalah MSCI, masalah kebijakan dalam negeri," tegasnya.

Awal tahun, crash Februari memang dipicu keluarnya Indonesia dari sejumlah indeks global. Babak itu agaknya sudah berlalu. Yang kini mengganjal adalah kekhawatiran investor asing terhadap kondisi fiskal, terutama besarnya belanja pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya efisien dan tepat sasaran. Dampaknya tidak kecil: dana asing yang keluar dari BEI sejak tahun lalu kini mendekati Rp 60 triliun. Outflow sebesar itu menekan rupiah karena dana dikonversi ke dolar AS sebelum keluar.

Rp 60 triliun. Angka yang tidak main-main.

"Pengeluaran pemerintah terlalu besar dan terlalu jor-joran dan tidak di tempat yang tepat. Programnya mungkin bagus, tetapi eksekusinya sangat buruk," kata Andry tanpa tedeng aling-aling.

Yang lebih mengkhawatirkan, sentimen negatif ini tidak lagi hanya milik investor asing. Kepercayaan investor domestik pun ikut tergerus, kata Andry. "Sangat lemah saat ini. Bahkan domestik dalam negeri juga lagi lemah tingkat kepercayaannya. Jadi luar negeri lemah, dalam negeri juga kurang yakin dengan ekonomi Indonesia saat ini," ujarnya. Kondisi semacam ini jarang terjadi dan, kalau data ini bisa dipercaya, lebih sulit dipulihkan dibanding sekadar menunggu arus dana asing balik.

Pertanyaannya, berapa lama kepercayaan itu bisa dibangun kembali?

Andry menunjuk satu variabel: kredibilitas fiskal. Pemerintah perlu membuktikan bahwa pengelolaan anggaran bisa lebih disiplin, efisien, dan terukur. Bukan retorika. Bukti nyata yang bisa dibaca pasar. Tanpa sinyal itu, ia skeptis rebound IHSG akan datang dari faktor bursa semata, meski langkah-langkah pembenahan yang dilakukan BEI untuk merespons rekomendasi MSCI ia akui sudah cukup baik arahnya.

"Kalau langkah-langkah yang dilakukan bursa sudah baik. Yang penting kita fokus memperkuat dalam negeri. Kalau dalam negeri kuat, asing juga pasti masuk lagi ke bursa Indonesia," simpul Andry. Kalimat yang terdengar sederhana, tapi justru di situlah sulitnya.