Dua puluh persen. Itu bukan angka kecil.
Koreksi Indeks Harga Saham Gabungan sepanjang 2026, dihitung hingga 11 Mei, sudah menembus level yang secara teknikal masuk kategori bear market. Bersamaan, rupiah terus tergerus. Dua sinyal ini terjadi seiring, dan agaknya bukan kebetulan belaka.
Perlemahan nilai tukar dan tekanan di pasar saham hampir selalu punya satu benang merah: arus keluar modal asing. Saat investor asing mulai menarik dananya, mereka tidak sekadar jual saham. Mereka juga kirim pesan bahwa Indonesia, setidaknya saat ini, bukan tempat yang cukup aman untuk parkir uang.
Badiul Hadi, Manajer Riset Seknas Fitra, menilai kondisi ini mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap ketahanan ekonomi Indonesia, yang terjepit dari dua sisi sekaligus, tekanan global yang belum reda dan ketidakpastian kebijakan domestik.
Dari sisi eksternal, kombinasinya berat: suku bunga global masih tinggi, geopolitik bergejolak, ekonomi dunia melambat. Tidak ada satu pun faktor itu yang bisa diselesaikan dari Senayan atau Sudirman. Faktor internal? Itu soal lain.
Persepsi terhadap arah fiskal nasional ikut menggerus sentimen. Pasar mulai mempertanyakan efektivitas belanja negara, terutama soal kebocoran anggaran dan korupsi yang belum tuntas. Ketika uang negara tidak terasa sampai ke produktivitas riil, investor jangka panjang mulai berhitung ulang. Pertanyaannya, berapa lama kesabaran mereka bertahan?
Kalau tekanan ini berkepanjangan, dampaknya tidak akan berhenti di layar Bloomberg. Rupiah yang terus amblas mengerek biaya impor, menekan margin korporasi yang bahan bakunya bergantung dolar, dan pada ujungnya bisa memukul konsumsi. Ekspansi bisnis pun ikut ditahan, setidaknya itu skenario yang ditakutkan.
Bagi investor ritel, situasi ini memunculkan pertanyaan praktis: ke mana uang ditempatkan? Instrumen berbasis dolar atau komoditas yang tidak berkorelasi negatif dengan rupiah kembali menarik perhatian. Emas, obligasi dolar, reksa dana pasar uang berbasis valas, atau saham eksportir yang justru diuntungkan kurs lemah, bisa jadi pilihan yang masuk akal sambil menunggu kondisi berbalik arah.
Bukan lagi soal apakah pasar akan rebound. Yang lebih mendesak: seberapa cepat pemerintah memberi sinyal yang cukup meyakinkan untuk menghentikan perdarahan kepercayaan ini.