Kamis kemarin, IHSG jadi anomali. Indeks terperosok 3,54 persen ke level 6.094,94, sementara sebagian besar bursa Asia justru melanjutkan reli yang sudah berlangsung hampir sebulan.
Dua sentimen domestik yang paling telak menghantam. Pertama, Bank Indonesia mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin sekaligus, dari 4,75 persen langsung ke 5,25 persen. Langkah ini dibaca pasar sebagai sinyal kepanikan terhadap rupiah yang terus tertekan dolar AS. Bukan main.
"Pemicu utamanya adalah kejutan kenaikan suku bunga BI sebesar 50 bps ke level 5,25 persen, sebuah dilema klasik yang bertujuan menahan depresiasi rupiah, namun di sisi lain menekan pasar ekuitas," papar Azharys Hardian, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia.
Suku bunga lebih tinggi memang bisa menguatkan rupiah, tapi harganya mahal bagi pasar saham. Likuiditas mengering, biaya pinjaman naik, ekspektasi laba emiten otomatis dipangkas. Sektor perbankan dan saham growth paling rentan, kalau data historis bisa jadi acuan, pola ini berulang setiap kali BI terpaksa mengerek bunga dalam satu gebrakan besar.
Sentimen kedua datang dari arah berbeda. Pemerintah menggodok skema ekspor satu pintu lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), entitas baru di bawah Danantara Indonesia yang lahir dari Peraturan Pemerintah soal tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Ekspor sejumlah komoditas strategis wajib melewati BUMN yang ditunjuk. Danantara sudah menunjuk Luke Thomas Mahony, mantan Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO), sebagai Direktur Utama DSI.
Masalahnya: mekanisme teknisnya kabur. Pelaku pasar belum tahu persis bagaimana skema ini bekerja, siapa yang terdampak, dan seberapa dalam potensinya memotong margin eksportir yang selama ini punya jaringan pemasaran internasional sendiri. Ketidakjelasan itulah yang bikin banyak investor lebih memilih duduk diam.
"Sentimen ini diperparah oleh ketidakpastian skema baru ekspor satu pintu lewat BUMN, minimnya detail teknis membuat pelaku pasar cenderung wait and see karena khawatir kebijakan ini berpotensi menggerus margin para eksportir," ungkap Azharys.
Dari sisi arus modal, tekanan asing cukup serius. Net sell investor asing mencapai Rp508 miliar sepanjang perdagangan Kamis. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) paling banyak dilepas, dengan net sell Rp204 miliar. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menanggung masing-masing Rp146 miliar dan Rp142 miliar. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menyusul, masing-masing Rp135 miliar dan Rp120 miliar.
Ada yang menarik dari pola beli asing hari itu: mereka memilah, bukan kabur total. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat net buy terbesar senilai Rp204 miliar, disusul PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp173 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp88 miliar, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp63 miliar, dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp60 miliar. Agaknya asing memilah komoditas mana yang mereka anggap tak terlalu terhajar regulasi DSI.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai pelemahan ini lebih dari sekadar reaksi sesaat. Investor global kini mulai memasukkan faktor risiko Indonesia ke kalkulasi mereka, seiring tekanan rupiah, ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, serta kekhawatiran perlambatan ekonomi. "Tekanan di IHSG lebih mencerminkan faktor trust dan arus modal asing sehingga pergerakannya belum bisa naik seiring bursa Asia secara umum," kata Reydi.
Untuk Jumat ini, CGS International Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG melanjutkan pelemahan dengan support di kisaran 6.000-5.900 dan resistance di 6.190-6.285. Ada juga sentimen tambahan yang perlu dicermati: aksi jual lanjutan pada saham-saham yang keluar dari indeks MSCI, ditambah pelemahan harga komoditas dan tekanan rupiah yang belum reda. Sekuritas ini merekomendasikan HMSP, WIIM, CPIN, BRIS, SSIA, dan AMRT untuk trading harian.
Level 6.000 akan jadi ujian psikologis yang sesungguhnya. Pertanyaannya, berapa lama pasar sanggup bertahan sebelum kapitulasi?