Kerugian akibat El Niño tahun ini diperkirakan melampaui Rp120 triliun, dan dampaknya sudah mulai terasa dari ladang tebu Brasil hingga dapur rumah tangga Indonesia.
Harga gula mentah di bursa New York amblas 3,26% pada Kamis, 8 Oktober 2026. Kontrak Maret 2027 ditutup di level 20,15 sen per pon, koreksi harian terdalam sejak reli dua pekan terakhir bergulir, sehari setelah harga sempat menyentuh level tertinggi 19 bulan untuk kontrak terdekat. Gula putih London kontrak Desember ikut tergerus 2,63%, setelah sehari sebelumnya mencatatkan rekor 22 bulan.
Pemicunya sudah bisa ditebak: aksi ambil untung besar-besaran oleh dana institusional setelah harga terangkat lebih dari 9% dalam dua pekan. Tekanan jual terlihat sejak awal sesi dan terus meluas hingga penutupan. Penguatan dolar AS turut memperparah situasi, karena komoditas berdenominasi greenback memang selalu terseret saat mata uang AS menguat.
Koreksi ini bisa jadi sekadar jeda, bukan pembalikan arah. Fundamental pasarnya masih tegang. Organisasi Gula Internasional (ISO) memperkirakan produksi gula global musim 2026/27 menyusut 1% secara tahunan menjadi 180,1 juta metrik ton, dengan defisit 200 ribu metrik ton, berbalik dari surplus 1,1 juta metrik ton di musim sebelumnya. Tiga produsen utama dunia serentak kena masalah: Brasil diguyur hujan terus-menerus yang mengganggu panen, India dipangkas proyeksi produksinya oleh USDA dari 33,6 juta menjadi 29,5 juta metrik ton, dan Thailand diperkirakan anjlok 17% menjadi 10 juta metrik ton.
Gangguan di tiga negara itu bukan kebetulan. Semuanya bermuara ke satu fenomena: El Niño, yang tahun ini disebut-sebut sebagai salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun terakhir.
Di Indonesia, ancaman ini sudah cukup membuat Menteri Keuangan Suahasil Nazara angkat bicara. Dalam konferensi pers APBN Kita, Jumat, 9 Oktober 2026, Suahasil mewanti-wanti seluruh institusi terkait agar mencermati kenaikan harga pangan yang mulai terasa. Cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, hingga beras, semuanya mencatat kenaikan akibat pasokan yang tertekan dari daerah-daerah sentra produksi.
"Kita mewaspadai inflasi komponen volatile food, karena kita akan menuju El Niño atau kekeringan, sehingga nanti dampaknya di harga pangan akan kelihatan," kata Suahasil.
Angkanya sudah bicara. Inflasi volatile food per September 2026 tercatat 5,03% secara tahunan, cukup untuk bikin pengelola fiskal gelisah. Inflasi inti justru turun tipis ke 2,84% dari 2,92% di Agustus, ditopang tren harga emas yang melandai sejak Maret 2026. Administered price stabil di 3,25%, sebagian karena subsidi dan penetapan harga oleh pemerintah. Tapi tekanan dari sisi pangan bergejolak belum reda.
Skalanya yang membuat ini lebih pelik. Bloomberg Businessweek Indonesia edisi Oktober 2026 menjadikan biaya ekonomi El Niño sebagai sorotan utama. Angka Rp120 triliun yang disebut sebagai estimasi kerugian itu pun belum mencakup biaya kesehatan jangka panjang. El Niño yang diramal berlangsung hingga Maret 2027 ini datang di waktu yang tidak ideal: perekonomian domestik sudah terseok menghadapi tekanan harga energi dari guncangan geopolitik, ditambah lingkungan suku bunga global yang masih tinggi.
Satu ironi yang patut dicermati. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kerap dibanggakan di atas 5%, tapi analisis Growth Incidence Curve terbaru justru menunjukkan kelompok terkaya yang paling menikmatinya. Kalangan menengah? Paling pahit nasibnya. Ketika volatile food melonjak, mereka yang pertama kali merasakannya di dompet, bukan di statistik.
Pertanyaannya, sampai kapan ketahanan mereka bertahan?
Untuk pergerakan harga gula terdekat, analis memperkirakan fase konsolidasi dengan kecenderungan menguji support di kisaran 19,38 hingga 19,82 sen per pon. Kalau gangguan panen di Brasil, defisit India dan Thailand, serta ancaman El Niño kembali memantik aksi beli teknikal, harga berpeluang berbalik menuju resistance 20,76 hingga 21,36 sen. Jendela waktu itu, entah kebetulan atau tidak, persis bersamaan dengan musim tanam paling kritis di beberapa negara produsen utama.