UNCTAD melempar angka yang cukup membuat investor berpikir ulang: pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 diperkirakan hanya 2,6%, turun dari 2,9% yang dibukukan tahun lalu. Badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan itu merilis proyeksi ini pada Jumat (9/10/2026), dengan satu benang merah yang terus berulang di seluruh laporannya, yakni krisis Timur Tengah yang belum juga reda.
Yang agak mengejutkan adalah paradoks yang terjadi di negara-negara Teluk. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan enam anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) rata-rata melambat 4,3% tahun ini, meski harga minyak tengah tinggi. Harga energi yang naik ternyata tidak cukup untuk menambal lubang yang ditinggalkan oleh penurunan volume ekspor, disrupsi penerbangan, dan terganggunya rantai pasok regional. Bukan angka kecil.
Gambaran di sektor energi makin kompleks. Beberapa pengiriman LNG Qatar memang sudah dilanjutkan, tapi QatarEnergy memperpanjang klausul force majeure hingga awal Desember, setelah sebelumnya membatalkan sekitar 35 pengiriman antara April dan awal Desember. Total gas yang terdampak ditaksir sekitar 4,6 miliar meter kubik, sebagian besar yang seharusnya mendarat di terminal LNG Adriatik Italia milik Edison. Eropa pun terpaksa berburu pasokan alternatif, dan ini bukan lagi sekadar masalah kawasan.
Sektor penerbangan tak kalah babak belur. Data IATA menunjukkan lalu lintas penumpang maskapai Timur Tengah pada Agustus amblas 14,6% secara tahunan, sementara kapasitas menyusut 9,3%. Emirates, Qatar Airways, dan Etihad, yang selama ini mengandalkan kombinasi penumpang transit dan wisatawan, terpaksa menempuh rute lebih panjang akibat penutupan wilayah udara. Biaya bahan bakar membengkak. Keuntungan kecil dari pengalihan penumpang internasional, kata konsultan penerbangan Omar Hashmi, agaknya tidak akan menutup kerugian itu.
Fragmentasi perdagangan jadi cerita tersendiri di level global. Perdagangan antara China dan AS telah anjlok lebih dari 20% sejak 2024, sementara Asia Timur justru memperkuat koneksi dagang dengan kedua kutub itu secara bersamaan. Perdagangan barang dan jasa global sendiri diproyeksikan tumbuh 4% tahun ini, setelah rekor US$ 35 triliun tercatat di 2025. Tapi UNCTAD mengingatkan: sebagian besar pertumbuhan itu didorong kenaikan harga energi, bukan ekspansi volume riil.
Asia masih jadi penyelamat. 59% dari total pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini diperkirakan berasal dari kawasan ini, dengan India memimpin di angka 7,3%, Indonesia di 5,2%, dan China 4,5%. Indonesia, entah kebetulan atau tidak, berada di posisi yang relatif nyaman dibanding banyak negara berkembang lain.
Soal AI, UNCTAD melontarkan peringatan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Lonjakan perdagangan produk berbasis AI, terutama semikonduktor, memang jadi motor ekspor baru. Tapi badan itu menegaskan bahwa pertumbuhan perdagangan AI tidak otomatis berarti manfaat pembangunan yang merata. Lebih jauh lagi, ketergantungan pasar pada segelintir perusahaan teknologi raksasa disebut membawa risiko stabilitas keuangan tersendiri.
IMF sedikit lebih optimistis dengan proyeksi 3%, sementara Bank Dunia di bulan Juni sudah memangkas estimasinya ke 2,5% dengan skenario terburuk minus 1,3%. Jarak antar proyeksi ketiga lembaga ini, jujur saja, mencerminkan betapa sulitnya memetakan arah ekonomi global ketika variabel geopolitiknya masih bergerak setiap hari. Pertanyaannya, sampai kapan pasar bisa terus bersabar?
Bagi investor lokal, angka pertumbuhan Indonesia di 5,2% memang menenangkan. Tapi selama krisis Timur Tengah belum menemukan titik penyelesaian, tekanan pada harga energi dan rantai pasok global akan tetap jadi bayangan yang sulit dihindari.