Hanya beberapa jam setelah Komite Nobel Oslo mengumumkan pemenang Nobel Perdamaian 2026, Donald Trump sudah berdiri di podium kampanye di Syracuse, New York, dengan muka merah.
Pemenangnya bukan Trump. Melainkan Navi Pillay, hakim senior asal Afrika Selatan yang menghabiskan lebih dari tiga dekade mengadili kasus kejahatan perang, genosida, dan kejahatan terhadap kemanusiaan di berbagai tribunal internasional. Bagi Komite Nobel, pilihan ini gamblang. Bagi Trump, penghinaan.
"Hari ini mereka memberikan hadiah itu kepada orang yang saya, maupun orang lain, tak pernah dengar sebelumnya," kata Trump di hadapan pendukungnya. "Sosok misterius," tambahnya, seolah rekam jejak Pillay sebagai presiden Pengadilan Pidana Internasional untuk Rwanda, hakim ketua ICC, hingga Komisioner Tinggi PBB untuk HAM itu tidak pernah ada.
Dari panggung yang sama, Trump mengeklaim sudah menghentikan delapan perang sepanjang masa kepresidenannya, termasuk konflik antara India-Pakistan, Korea Utara-Korea Selatan, Jepang-Korea Utara, dan China-Taiwan. Nol bukti untuk satu pun klaim itu. "Untuk satu dari delapan perang itu saja, harusnya pantas diganjar Nobel. Belum ada presiden yang bisa seperti ini sebelum saya," tegasnya.
Serangan Trump tidak berhenti di panggung kampanye. Lewat Truth Social, ia lanjut menghujani Pillay, menyebut hakim itu sebagai seseorang yang "jelas-jelas membenci Israel" karena perannya memimpin komisi PBB yang pada periode 2021-2025 menyimpulkan Israel melakukan genosida di Jalur Gaza. Temuan yang dibantah keras oleh Israel.
Ketua Komite Nobel Norwegia Jorgen Watne Frydnes tidak bergeming. Pillay, katanya, telah berperan "sangat penting dalam memastikan bahwa kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida diadili". Dewan juri menilai komitmen Pillay terhadap prinsip hukum universal konsisten sepanjang kariernya. Bukan profil orang yang "tak dikenal siapapun".
Pillay sendiri agaknya tidak terlalu terusik. Saat disambut standing ovation di Nuremberg pascapengumuman, ia berkelakar bahwa mungkin akan berbagi penghargaan ini dengan Trump, kalau saja tepuk tangan hadirin cukup meriah. Penonton pun makin ramai bertepuk.
Kekecewaan tahunan. Trump sudah berulang kali mengincar Nobel Perdamaian, dan ritualnya tiap tahun gagal praktis sudah bisa diprediksi. Tahun lalu, ketika Nobel jatuh ke tangan tokoh oposisi Venezuela Maria Corina Machado, Machado justru menyerahkan medali emas Nobel miliknya kepada Trump, sebuah gestur yang, entah kebetulan atau tidak, agaknya tidak cukup mengobati.
Trump menutup pidato dengan nada ancaman terselubung. "Ini adalah noda yang tak terhapuskan bagi Norwegia dan orang-orang yang mengambil keputusan yang begitu tercela itu," katanya. "Dan kami tidak akan melupakan hal ini, Norwegia."
Pernyataan keras terhadap sekutu NATO sekaligus mitra dagang AS itu bisa jadi lebih dari sekadar luapan emosi kampanye. Atau bisa jadi memang tidak lebih dari itu. Pelaku pasar geopolitik, kalau data ini bisa dipercaya, sudah hafal polanya.