Sabtu pagi di kawasan Sao Braz, Curitiba, berubah mencekam ketika seorang pria melompati pagar CMEI Sao Braz, taman kanak-kanak milik pemerintah kota, lalu mengunci diri bersama 13 anak di dalam ruang kelas. Situasi langsung genting sejak menit pertama.
Pelaku datang menggunakan sepeda. Ia membawa pisau, korek api, zat mudah terbakar, serta benda yang sempat diduga senjata api tapi ternyata replika. Yang membuat nyali polisi ciut, pelaku menuangkan cairan berbau bensin ke dalam ruang kelas dan berulang kali mengancam akan menyulut api, ke tubuhnya sendiri maupun ke para sandera kecil yang terjebak di sana. Belakangan terungkap ia mengidap skizofrenia.
Rekaman televisi lokal memperlihatkan para orang tua menangis dan berkerumun di luar pagar sekolah, menunggu kabar sementara negosiasi berjalan alot di dalam.
Lebih dari dua jam. Segitu waktu yang dihabiskan tim negosiasi Kepolisian Militer negara bagian Parana untuk mencari celah aman. Tapi pelaku tak memberi ruang. Sepanjang proses itu ia terus dikelilingi anak-anak, bahkan memangku salah satu dari mereka. "Selama seluruh proses negosiasi berlangsung, ia tetap dikelilingi oleh anak-anak dan memangku salah satu dari mereka," ungkap Komandan Unit Pasukan Khusus Kepolisian Militer Parana, Alexandre Lopes Dias, kepada wartawan.
Titik balik datang ketika kondisi anak-anak mulai ambruk. Pelaku dilaporkan mulai melakukan kekerasan fisik terhadap sandera, dan itu yang akhirnya memaksa tangan polisi bergerak. "Begitu kami menyadari anak-anak semakin panik dan pelaku mulai melakukan penganiayaan fisik terhadap mereka, kami memutuskan untuk melakukan intervensi taktis guna mencegah dampak yang lebih buruk," kata Lopes Dias. Operasi, ia tegaskan, dijalankan dengan pendekatan yang menekan risiko bagi anak-anak semaksimal mungkin. "Kami memasuki ruang kelas dengan pendekatan yang sangat taktis, dengan risiko yang kecil bagi anak-anak."
Dua ledakan terdengar, kemungkinan bom kilat. Sesaat kemudian petugas keluar dari bangunan sambil menggendong anak-anak. Pelaku tewas di tempat. Setidaknya satu anak mengalami luka-luka, selebihnya selamat.
Juru bicara kepolisian Leticia Martins membenarkan seluruh anak berhasil dibebaskan, meski enggan merinci bagaimana pelaku dilumpuhkan. Identitas resmi pelaku dan motif di balik aksinya, termasuk apakah ada hubungan personal dengan seseorang di sekolah, belum diumumkan.
Wali Kota Curitiba Eduardo Pimentel langsung angkat bicara lewat Instagram setelah operasi tuntas. "Setelah momen-momen yang mencemaskan dan menegangkan, inilah kabar yang kita semua tunggu-tunggu. Ke-13 anak tersebut selamat dan dalam kondisi aman!" tulisnya. Pemerintah kota juga mengumumkan pendampingan psikologis bagi seluruh anak dan staf sekolah yang terdampak.
Curitiba, kota sekitar 1,8 juta jiwa di Brasil selatan dan berjarak sekitar 400 kilometer dari Sao Paulo, kini menyisakan pertanyaan yang agaknya belum terjawab: seberapa siap sekolah-sekolah di kota itu menghadapi ancaman semacam ini? Bukan pertanyaan yang nyaman. Tapi perlu diajukan.