SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Haji Isam Borong PACK Nyaris Rp1 Triliun, Pasar Mu...

Finansial

Haji Isam Borong PACK Nyaris Rp1 Triliun, Pasar Mulai Tanya-tanya

Pengusaha tambang Haji Isam memborong 6,83 miliar saham PACK senilai Rp936,65 miliar, memicu ARA dan gelombang masuknya investor asing. Tapi apakah fundamentalnya sebanding dengan euforia pasar?

Tujuan Haji Isam Akuisisi PACK, Sinyal Integrasi Aset Smelter dan Pabrik Ternary Precusor?

Rp936,65 miliar. Dalam satu transaksi. Ke satu saham.

Itulah yang dilakukan Andi Syamsuddin Arsyad, lebih dikenal sebagai Haji Isam, ketika ia memborong sekitar 6,83 miliar lembar saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) di harga Rp137 per saham pada 13 Mei 2026. Transaksi lewat broker SQ alias BCA Sekuritas itu langsung mendongkrak kepemilikannya ke 21,12 persen, dan saham PACK pun kena auto rejection atas (ARA) hari itu juga.

Pasar tak butuh waktu lama untuk bereaksi. Sejak akhir April, harga PACK sudah merangkak dari area 214 sebelum akhirnya menyentuh 312 di sesi 13 Mei. Pada perdagangan hari itu saja, PACK melonjak hampir 10 persen, nilai transaksi tembus Rp197 miliar, volume menembus 6,46 juta lot. Untuk saham yang sebelumnya relatif sepi, ini seperti lampu sorot yang tiba-tiba menyala di panggung gelap.

Yang bikin cerita makin ramai adalah arus dana asing yang ikut masuk berduyun-duyun. Net foreign buy PACK pada 13 Mei mencapai Rp31,20 miliar, dengan nilai pembelian asing Rp46,04 miliar jauh melampaui penjualan di kisaran Rp14,84 miliar. Tapi asing sebenarnya sudah mulai masuk lebih awal: Rp11,34 miliar pada 6 Mei, Rp11,80 miliar pada 8 Mei, dan Rp8,04 miliar pada 11 Mei. Bukan masuk mendadak. Akumulasi yang sudah terbangun sebelum transaksi jumbo Haji Isam terjadi.

Basis investor pun mekar. Data KSEI mencatat pemegang saham PACK naik ke 25.497 investor per akhir April 2026, bertambah hampir 5.700 orang hanya dalam satu bulan. Kalau ditarik sejak November 2025, angkanya hampir tiga kali lipat dari 9.465 investor. Pertumbuhan seperti ini, entah kebetulan atau tidak, jarang terjadi tanpa ada yang menggerakkan.

Namun di balik gegap gempita itu, fundamentalnya perlu dicermati dengan kepala dingin. Kinerja 2025 PACK memang terlihat mengkilap di permukaan: laba bersih melesat 3.076 persen menjadi Rp28,57 miliar, pendapatan naik 299 persen ke Rp218 miliar. Tapi lonjakan laba itu bukan dari bisnis utamanya. Gross profit margin PACK hanya 2,02 persen, tipis sekali untuk ukuran emiten tambang. Kontributor sesungguhnya adalah dua entitas asosiasi, PT Karyatama Konawe Utara dan PT Konatara Sejati, yang menyumbang sekitar Rp35 miliar ke laba bersih PACK.

Ada lagi yang agak mengganjal. Right issue jumbo senilai Rp3,2 triliun di awal 2026 memang menghasilkan dilusi besar, tapi Rp2,8 triliun dari dana itu langsung dipakai melunasi akuisisi dua entitas asosiasi tersebut. Setelah semua selesai, struktur kepemilikan tidak banyak berubah. PACK tetap memegang porsi yang sama di kedua entitas itu, yakni sekitar 34,5 persen dan 30 persen. Kalau data ini bisa dipercaya, fundamentalnya belum beranjak jauh.

Lantas kenapa Haji Isam masuk? Di sinilah konteksnya menjadi lebih menarik. Sejak 2022, Haji Isam sudah bermitra dengan CNGR, perusahaan China yang juga menjadi pengendali saham PACK lewat PT Eco Energi Perkasa dengan porsi 61,71 persen. Bersama CNGR, Grup Jhonlin milik Haji Isam membangun smelter nikel sekaligus berencana memproduksi ternary precursor berbasis nikel untuk baterai lithium, dengan kapasitas 20.000 ton per tahun. Ternary precursor adalah bahan perantara katoda baterai, salah satu mata rantai penting dalam ekosistem kendaraan listrik.

Dengan latar belakang itu, masuknya Haji Isam ke PACK bisa dibaca sebagai upaya integrasi aset, dari hulu penambangan bijih nikel hingga hilir produksi material baterai. Skenario yang, kalau terwujud, menjadikan PACK lebih dari sekadar emiten nikel kecil. Tapi ini masih spekulasi yang belum terkonfirmasi. Setidaknya itu yang bisa disimpulkan sebelum ada langkah korporasi konkret.

Sejarah menunjukkan pola yang konsisten di balik nama Haji Isam. Ketika ia masuk ke TEBE di harga Rp500 per saham pada Maret 2025, harga melesat 587 persen ke Rp4.550 sebelum kemudian ambles 73 persen ke kisaran Rp1.180. Di FAST, efek tidak langsung dari investasi di anak usahanya mendorong harga naik 476 persen, lalu tergerus 66 persen. Polanya serupa: euforia besar, koreksi tajam, dan dampak bisnis nyata yang belum terlihat jelas. Pola klasik yang veteran pasar hafal di luar kepala.

Pertanyaan buat investor ritel sekarang bukan sekadar apakah PACK bisa tembus Rp1.000 per saham. Yang lebih relevan: apakah kali ini ceritanya benar-benar berbeda dari TEBE dan FAST?