SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  BBRI: Laba 8 Bulan Naik 7%, tapi Kuartal III Mulai...

Bisnis

BBRI: Laba 8 Bulan Naik 7%, tapi Kuartal III Mulai Beri Sinyal Berbeda

Laba bersih BBRI tumbuh 7% secara tahunan sepanjang delapan bulan pertama 2026, namun tekanan cost of funds mulai terasa di kuartal ketiga. Di saat bersamaan, limited review laporan September memunculkan tanda tanya soal aksi korporasi.

🏦 BBRI: Laba Bersih Bank Only 8M26 Tumbuh +7% YoY; Time Deposits Naik Signifikan — Stockbit Snips | Berita Saham

Laba bersih PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai Rp34,77 triliun, tumbuh sekitar 7% secara tahunan. Angka itu setara 59% dari estimasi konsolidasi penuh 2026 versi konsensus analis, sedikit di atas realisasi periode sama tahun lalu yang ada di 58%.

Tapi angka kumulatif itu menyembunyikan sesuatu. Khusus Juli-Agustus 2026, laba bersih justru tergerus 7% secara tahunan. Kontras tajam dengan kinerja paruh pertama 2026 yang masih melesat 11% YoY. Perlambatan nyata begitu kuartal ketiga bergulir.

Bukan kredit macet penyebabnya. Bukan pula lonjakan NPL. Yang bikin laba kempis adalah cost of funds yang merangkak naik diam-diam. Beban bunga periode Juli-Agustus melonjak 9% secara tahunan, berbalik dari penurunan 12% yang sempat dicatat sepanjang semester pertama. Pemicunya: lonjakan agresif di pos time deposits, yang terkerek sekitar 15% hanya dalam rentang Juni hingga Agustus 2026. Sementara pertumbuhan kredit dan CASA masing-masing cuma bergerak 1% di periode yang sama. Ketimpangan ini langsung menggerus Net Interest Margin, yang untuk Juli-Agustus jatuh ke bawah 6%, turun dari level 6,4% yang dibukukan di 1H26.

Kenapa tiba-tiba agresif di time deposits? Manajemen punya penjelasannya. Berdasarkan diskusi dengan investor relasi BBRI, langkah ini ditempuh sebagai antisipasi ditariknya sebagian dana saldo anggaran lebih (SAL) milik pemerintah pada kuartal keempat tahun ini. Dari total sekitar Rp300 triliun dana SAL yang ditempatkan di bank-bank Himbara, hanya sekitar Rp200 triliun yang akan diperpanjang hingga Juli 2027. Sisanya ditarik kembali. BBRI, agaknya, membangun bantalan likuiditas lebih awal sebelum kran itu resmi ditutup.

Sisi kualitas aset justru bercerita sebaliknya. Beban pencadangan Agustus 2026 turun ke Rp3,1 triliun, minus 11% secara tahunan dan minus 14% dibanding Juli. Credit cost melandai ke 2,6% untuk bulan itu. Secara kumulatif delapan bulan pertama 2026, angkanya ada di 3,2%, lebih rendah dari 3,3% yang tercatat di periode sama tahun lalu, meski kredit tumbuh 14% YoY. Tren yang konsisten, dan kalau data ini bisa dipercaya, ini sinyal bahwa kualitas portofolio memang sedang membaik. Total penyaluran kredit BBRI per Agustus 2026 sudah menembus Rp1.446,98 triliun, sementara dana pihak ketiga mencapai Rp1.655,84 triliun, keduanya tumbuh belasan persen secara tahunan.

Ada satu hal lain yang membuat pasar mengernyitkan dahi pekan ini. Pada 22 September 2026, BBRI mengumumkan akan melakukan limited review atas laporan keuangan per 30 September 2026 dalam rangka "rencana aksi korporasi dan/atau pelaksanaan aspirasi pemegang saham." Frasa itu cukup untuk bikin investor gelisah.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi kemudian meluruskan. "Tidak ada rencana korporasi lain. Kami hanya mendukung rencana streamlining (penggabungan anak usaha bank Himbara) oleh Danantara," kata Hery kepada Kontan, Senin (28/9/2026). Ia menjelaskan proses penggabungan sejumlah anak usaha masih berjalan: lini asset management sudah rampung, sementara untuk perusahaan asuransi, sekuritas, dan multifinance masih berproses. Sebagai pengingat, pada April 2026, BRI sudah lebih dulu mengalihkan kepemilikan saham BRI Manajemen Investasi kepada Danantara.

Bagi pelaku pasar, pernyataan itu belum sepenuhnya menenangkan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan limited review bisa menjadi indikasi persiapan agenda korporasi, tapi bentuknya belum bisa diasumsikan sebelum ada keterbukaan informasi lebih lanjut. "Karena manajemen belum mengungkapkan bentuk aksi korporasinya, investor sebaiknya tidak langsung mengasumsikan bahwa aksi tertentu sudah pasti dilakukan," ujar Nafan. Dari sisi fundamental, ia mencatat CAR BBRI masih kokoh di sekitar 21,5% per kuartal II, dan mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp3.920 per saham.

Hendra Wardana, Founder Republik Investor, memberikan rekomendasi speculative buy dengan target lebih konservatif di Rp3.430 per saham. "Indikasi yang paling penting justru akan terlihat dari keterbukaan informasi berikutnya, termasuk tujuan transaksi, struktur aksi, kebutuhan modal, serta dampaknya terhadap kepemilikan dan laba per saham," ujar Hendra. Kinerja kuartal III 2026, kata dia, akan jadi batu uji berikutnya.

Saham BBRI ditutup di Rp3.140 per saham pada Senin (28/9), amblas 0,32% di hari itu. Dalam sepekan sudah terkoreksi hampir 5%, dan year-to-date masih minus 14,21%. Selisih antara target analis dan harga saat ini lumayan lebar. Pertanyaannya: katalis apa yang akan menutup gap itu?