SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Netanyahu Diam-diam ke UEA, AS-Iran Saling Gertak...

Internasional

Netanyahu Diam-diam ke UEA, AS-Iran Saling Gertak soal Negosiasi

Di tengah ketegangan nuklir yang belum mereda, Netanyahu terbang diam-diam ke Abu Dhabi menemui MBZ, sementara Trump dan Teheran saling lempar sinyal bertolak belakang soal kelanjutan negosiasi.

5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

Pekan terakhir September 2026 diwarnai pergerakan diplomatik yang tidak semuanya diumumkan ke publik. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan melakukan kunjungan mendadak ke Uni Emirat Arab, menemui Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan dalam pertemuan yang tidak masuk agenda resmi manapun.

Sejumlah media Israel melaporkan kunjungan itu pada Minggu (27/9): Channel 12, KAN, Haaretz, dan The Jerusalem Post. AFP mengonfirmasi laporan ini beredar luas, meski tak satu pun dari mereka menyebut dari mana sumber informasinya. Kunjungan semacam ini bukan yang pertama bagi Netanyahu ke kawasan Teluk, tapi timingnya mencolok: tepat ketika dinamika AS-Iran sedang di titik paling rawan.

Sementara Netanyahu terbang ke Abu Dhabi, di New York drama diplomatik lain sedang berlangsung. Trump, usai menolak mentah-mentah usulan Iran soal gencatan senjata tujuh hari dan pembukaan kembali Selat Hormuz, justru bilang ke media Axios bahwa ia memperkirakan negosiasi dengan Teheran akan segera dilanjutkan. Klaim yang, kalau data ini bisa dipercaya, tidak disambut dengan cara yang diharapkan.

Iran tidak butuh waktu lama untuk membalas. Kantor berita resmi IRNA mengutip sumber anonim yang dekat dengan delegasi Iran di New York, menegaskan bahwa tidak ada rencana pembicaraan baru dengan Washington. "Delegasi Iran di New York tidak memiliki rencana untuk melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat," begitu pernyataan IRNA yang beredar Senin (28/9). Teheran tidak mau terlihat berlari mengejar meja perundingan setelah tawarannya ditolak.

Proposal Iran sendiri disampaikan kepada mediator konflik di sela Sidang Majelis Umum PBB pekan lalu, berisi rencana gencatan senjata bersyarat dan normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz. Trump menolak, sempat mempertimbangkan opsi serangan lanjutan ke Teheran, sebelum akhirnya memilih retorika lebih lunak ke Axios. Dua sinyal yang saling bertabrakan. Dalam selang 24 jam.

Dari Washington, ada berita lain yang tidak kalah mengejutkan. Duta Besar AS untuk China David Perdue mengungkap dalam wawancara dengan Fox News bahwa Trump pernah menawarkan penjualan senjata buatan AS langsung kepada Presiden Xi Jinping, sebagai respons atas keberatan Beijing soal penjualan senjata AS ke Taiwan. Kalau benar, ini salah satu manuver paling kontroversial dalam sejarah diplomasi segitiga Washington-Beijing-Taipei. Reaksi resmi Beijing hingga kini belum ada.

Protes di Tel Aviv terhadap Netanyahu juga dilaporkan kembali memanas, massa mendesak akuntabilitas sang PM atas keputusan-keputusan yang dianggap merugikan rakyat Israel. Tekanan domestik ini berjalan bersamaan dengan manuver luar negerinya yang justru terkesan makin aktif. Bak pedang bermata dua.

Dari Kuala Lumpur datang kabar berbeda. Dr. Siti Hasmah, istri mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad, meninggal dunia di Institut Jantung Nasional pada Senin pagi waktu setempat, di usia 100 tahun. Kabar wafatnya dikonfirmasi putranya, Mokhzani Mahathir, kepada kantor berita Bernama.

Sepekan penuh di panggung geopolitik global. Hampir semua pihak sedang bermain di dua meja sekaligus: meja perang dan meja perundingan.