SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Gunung Utang Global Makin Tinggi, China Paling Men...

Ekonomi

Gunung Utang Global Makin Tinggi, China Paling Mengkhawatirkan

Rasio total utang China terhadap PDB kini melampaui 300%, sementara utang rumah tangga global mencetak rekor baru. Swiss jadi negara dengan beban utang per kepala terbesar di dunia, tapi China-lah yang bikin ekonom kehilangan tidur.

Daftar Negara dengan Utang Rumah Tangga Tertinggi, Swiss Juara!

Angka yang sulit diabaikan: rasio total utang China terhadap PDB sudah tembus 300%, naik dua kali lipat dalam 15 tahun terakhir, dan nyaris tidak ada tanda-tanda melambat. Bukan cuma soal besarnya, bukan, lupakan em dash, bukan cuma soal besarnya, tapi kecepatan akumulasinya yang membuat Mark Williams, ekonom kepala Asia di Capital Economics, angkat bicara.

Dalam catatannya yang dirilis akhir bulan lalu, Williams menyebut China kini berada di "kelas sendiri" soal beban utang. Hitungannya gamblang: rasio utang terhadap PDB melonjak lebih dari 120 poin persentase hanya dalam satu setengah dekade. Negara yang mendekati angka itu cuma Jepang, yang sudah berjibaku dengan stagnasi ekonomi puluhan tahun. Preseden yang tidak menggembirakan.

Yang membuat situasi China berbeda dari krisis utang konvensional adalah sumber pertumbuhannya. Pinjaman rumah tangga justru melemah, seiring sektor properti yang tak kunjung pulih. Beban terberat malah datang dari korporasi dan pemerintah daerah. Utang bisnis sudah dua kali lipat sejak 2019, sementara pendapatan perusahaan hanya terkerek 30% dalam periode yang sama. Hampir sepertiga perusahaan merugi, tapi kreditor terus memperpanjang pinjaman agar mereka tidak kolaps.

Akibatnya, kelebihan kapasitas industri mengakar. Deflasi berlangsung selama tiga tahun berturut-turut, terpanjang sejak era transisi ekonomi pasar di akhir 1970-an. Bak lingkaran setan.

"Ironisnya, salah satu pendorong pinjaman pemerintah dan standar kredit longgar bank negara adalah keinginan mendorong pertumbuhan dan mencegah hilangnya pekerjaan," kata Williams. "Tapi produk dari booming kredit 18 tahun ini justru sistem perbankan yang menopang perusahaan tidak produktif, kerugian luas di seluruh industri, dan kelebihan kapasitas yang mengakar."

Beijing agaknya sadar posisinya sedang tidak nyaman. Akhir pekan lalu, pemerintah pusat berjanji memperketat pengawasan utang pemerintah daerah, mendorong restrukturisasi, dan mencegah penumpukan utang tersembunyi baru. Terdengar familiar, karena versi serupa sudah pernah diumumkan beberapa kali sebelumnya. Kalau data ini bisa dipercaya, janjinya cukup konkret. Tapi eksekusinya, itu urusan lain.

Bandingkan dengan Amerika Serikat. Utang federal AS memang baru menembus 100% PDB untuk pertama kali sejak era pasca-Perang Dunia II, angka yang cukup membuat Capitol Hill gaduh. Tapi bila dihitung secara total, gabungan utang publik dan swasta AS tahun lalu sekitar 265% PDB. Trennya malah turun dari puncak pandemi. Zona euro dan Inggris menunjukkan pola serupa.

Gambar yang lebih mikro tidak kalah menarik. Di level rumah tangga, Swiss tampil sebagai juara yang tidak banyak diperbincangkan. Berdasarkan data Institute of International Finance (IIF) kuartal I-2026, utang rumah tangga per kapita di Swiss hampir menyentuh US$150.000 atau sekitar Rp2,6 miliar per orang. Jauh di atas Amerika Serikat yang mencatat US$60.600 per kapita, setara Rp1,05 miliar.

Tapi konteksnya penting. Tingginya utang Swiss bukan cermin krisis, melainkan cermin struktur pasar properti dan insentif pajak yang mendorong pemilik rumah mempertahankan hipotek jangka panjang alih-alih melunasinya. Di bawah Swiss berturut-turut ada Luksemburg (US$96.000), Norwegia (US$87.900), Australia (US$83.100), dan Denmark (US$71.400). Enam dari sepuluh negara dengan utang rumah tangga per kapita terbesar adalah negara Eropa.

Secara agregat, AS tetap tak tertandingi. Total utang rumah tangga Amerika pada kuartal I-2026 mencapai US$21,2 triliun, mayoritas dari hipotek. Tekanan mulai bergeser ke segmen lain: tunggakan kartu kredit dan kredit kendaraan melonjak sepanjang 2021 hingga 2025, dan aktivitas penyitaan rumah naik 26% secara tahunan. Masif. Meski levelnya masih jauh dari krisis 2008.

Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan sebelum ada yang retak?

Pesan besarnya cukup jelas: utang tinggi tidak otomatis berarti krisis, tapi semakin besar gunungnya, semakin sensitif ekonomi terhadap guncangan suku bunga atau perlambatan pertumbuhan. Untuk China, risikonya bukan Lehman Brothers jilid dua, setidaknya begitu klaim Williams, karena tabungan domestik yang tinggi dan kontrol modal memberi bantalan tersendiri. Yang jadi soal bukan apakah sistemnya akan runtuh, tapi seberapa lama kredit bisa menopang pertumbuhan yang kian tidak efisien.