MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  FTSE Russell Siap Coret Saham HSC dari Indeks Juni...

Finansial

FTSE Russell Siap Coret Saham HSC dari Indeks Juni 2026

FTSE Russell mengumumkan akan menghapus saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari indeksnya mulai Juni 2026, sekaligus memperpanjang periode pemantauan pasar modal Indonesia hingga September 2026.

FTSE Russell Umumkan Bakal Coret Saham HSC di Indeks Juni - Market

Satu per satu, konsekuensi dari keputusan Februari lalu mulai terasa.

FTSE Russell resmi mengumumkan bahwa pembaruan indeks Juni 2026 akan mencakup penghapusan saham-saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) di pasar modal Indonesia. Bukan sekadar penyesuaian teknis rutin. Ini kelanjutan dari proses evaluasi panjang yang sudah membayangi bursa domestik sejak awal tahun.

Dalam keterangan resminya, FTSE Russell menyebut bahwa sejak keputusan Februari lalu, Indonesia dinilai sudah mengambil sejumlah langkah ke arah yang benar: pengungkapan data kepemilikan saham di atas 1%, publikasi daftar saham HSC secara terbuka, hingga pembaruan klasifikasi pelaporan untuk investor. Langkah-langkah itu diakui. Tapi agaknya belum cukup untuk menghentikan laju pembenahan yang sudah dijadwalkan.

Untuk indeks Juni 2026, beberapa basis perubahan ditetapkan. Pembaruan Industry Classification Benchmark (ICB) akan diberlakukan, begitu pula perubahan free float kuartalan dan penyesuaian kapitalisasi pasar akibat aksi korporasi seperti spin-off. Yang paling krusial: pembaruan saham kuartalan tanpa memandang ukuran, tanpa penerapan standar buffer 1%. Saham yang tidak memenuhi kriteria tidak punya ruang abu-abu untuk bertahan. Titik.

Penghapusan, kata FTSE Russell, bisa diterapkan jika suatu entitas berada jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan. Kalimat yang terdengar teknis, tapi implikasinya konkret bagi emiten-emiten yang selama ini masuk radar HSC.

FTSE Russell tidak sepenuhnya menutup pintu. Lembaga pemeringkat indeks global ini menegaskan akan terus melakukan pembaruan peringkat, kenaikan free float, dan penambahan emiten baru lewat IPO, setidaknya sampai reviu September 2026. Periode observasi diperpanjang, bukan diakhiri. Bisa jadi ini sinyal bahwa ruang bagi Indonesia untuk berbenah masih terbuka, kalau data ini bisa dipercaya, selama momentum reformasi tidak mandek.

Bagi investor institusi yang benchmarknya mengacu ke indeks FTSE, ini bukan informasi yang bisa dikesampingkan begitu saja. Saham yang tercoret otomatis kehilangan salah satu katalis permintaan dari dana pasif global. Dalam skala tertentu, itu bisa menghajar likuiditas dan valuasi, khususnya di segmen saham kecil-menengah yang dari dulu sudah lebih rentan terhadap aksi jual.

Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan akan terjadi. Melainkan seberapa panjang daftar yang akhirnya terdampak.