SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Ekspor China Melonjak 14,1% di April, Pasar Tahan...

Internasional

Ekspor China Melonjak 14,1% di April, Pasar Tahan Napas Jelang Trump-Xi

Kinerja ekspor China April 2026 melampaui ekspektasi dengan lonjakan 14,1%, berbalik tajam dari pertumbuhan seret 2,5% di Maret. Angka ini dirilis tepat sebelum pertemuan puncak Trump-Xi di Beijing pekan depan.

Surplus perdagangan China tembus USD 84,82 miliar pada April 2026. Bukan angka kecil.

Data dari Administrasi Umum Bea Cukai China yang dirilis Sabtu (9/5) mencatat ekspor tumbuh 14,1% secara tahunan, jauh melampaui perkiraan median ekonom Bloomberg di angka 8,4%. Bandingkan dengan Maret yang nyaris stagnan di 2,5%, dan jelas ini bukan sekadar rebound biasa.

Yang agak mengejutkan, ekspor China ke Amerika Serikat justru naik 11,3%, berbalik dari amblesan 26,5% di bulan Maret. Pemulihan yang cukup dramatis, mengingat tarif tinggi Washington masih berlaku dan ketegangan teknologi kedua negara belum juga mereda.

Apa yang mendorong lonjakan ini? Sebagian besar jawabannya ada di satu kata: AI. Booming investasi global di sektor kecerdasan buatan mendorong permintaan masif terhadap peralatan pusat data dan perlengkapan listrik, dan China kebetulan ada di posisi tepat sebagai pemasok. Volume pengiriman sepanjang 2026 agaknya masih bertengger di atas rekor tahun lalu, ketika China membukukan surplus perdagangan tahunan yang belum pernah terjadi sebelumnya sebesar USD 1,2 triliun.

Impor pun tak kalah mengejutkan: tumbuh 25,3%, sedikit melambat dari 27,8% di Maret, tapi tetap membuktikan bahwa permintaan domestik China jauh dari kolaps. Impor chip dan produk teknologi tinggi lainnya melesat, cermin betapa agresifnya Beijing membangun ekosistem AI dalam negeri meski digempur pembatasan ekspor dari Washington.

Konteks geopolitiknya tidak bisa diabaikan. Perang Iran yang meletus akhir Februari 2026 sempat membuat jalur pengiriman global berantakan. Penutupan efektif Selat Hormuz memukul lalu lintas perdagangan energi, mengerek harga minyak, dan membuat ekspor China tersandung di bulan pertama konflik. Maret jadi saksi bisu surplus perdagangan China menyentuh titik terendah dalam lebih dari setahun, dipukul gangguan pengiriman sekaligus lonjakan impor teknologi.

April membuktikan Beijing bisa beradaptasi lebih cepat dari dugaan banyak pihak.

Tapi cerita yang sesungguhnya baru dimulai pekan depan. Pertemuan Trump-Xi di Beijing pada 14-15 Mei dipastikan akan menjadikan ketidakseimbangan perdagangan sebagai isu paling panas di meja negosiasi. Defisit perdagangan barang AS terhadap China, berdasarkan data Departemen Perdagangan, sudah melebar tiga bulan berturut-turut hingga Maret 2026. Surplus April yang kembali membengkak memperkuat posisi tawar Beijing, tapi itu juga berarti tekanan dari kubu Trump ikut naik.

Agenda negosiasi diperkirakan mencakup kontrol ekspor teknologi, logam tanah jarang yang dominasinya oleh China sulit ditandingi siapapun, dan dinamika konflik Iran yang memengaruhi kedua negara secara berbeda. Pertanyaannya, berapa banyak konsesi yang bisa digali Trump dari data perdagangan yang sudah sekuat ini?

Bagi investor yang mengikuti pasar komoditas dan saham-saham berorientasi ekspor, kombinasi data yang kuat ini dengan momen diplomatik pekan depan adalah paduan yang layak dicermati. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai tren, bukan anomali sesaat, implikasinya cukup luas.