MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  DXY Menguat Dua Pekan Berturut-turut, Inflasi dan...

Finansial

DXY Menguat Dua Pekan Berturut-turut, Inflasi dan Geopolitik Jadi Bahan Bakarnya

Indeks dolar AS terus menguat ditopang data inflasi yang lebih panas dari perkiraan dan kebuntuan perundingan AS-Iran yang tak kunjung cair. DXY sempat menyentuh 98,49 dalam dua sesi terakhir.

DXY Masih Perkasa, Safe Haven dan Yield US Treasury Jadi Penopang

Dua faktor lama, dua dorongan baru. Itulah yang terjadi pada dolar AS sepanjang pekan ini.

Indeks dolar AS atau DXY naik 0,3 persen ke level 98,30 pada Selasa, 12 Mei 2026, dan melanjutkan reli ke 98,49 keesokan harinya setelah data inflasi produsen April mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 2022. Penguatan terpanjang dalam hampir dua pekan. Pasar, agaknya, belum siap membalikkan arah.

Pemicunya ganda. Laporan Consumer Price Index (CPI) yang masuk lebih panas dari ekspektasi langsung membekukan harapan pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Inflasi AS tercatat naik 3,8 persen, sebagian besar dihajar lonjakan harga bensin. Skenario "Fed pivot di semester II" terasa semakin jauh, kalau data ini bisa dipercaya.

Yield US Treasury ikut merespons. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat dolar kian menarik bagi investor global yang berburu return lebih tinggi, dinamika klasik yang belakangan kerap terlupakan.

Kebuntuan AS-Iran jadi faktor tersendiri. Optimisme terhadap perundingan damai yang sempat berhembus kini nyaris pudar. Pelaku pasar bergerak ke mode defensif, memburu aset safe haven, dengan dolar AS sebagai pilihan utama. Pasar juga mengamati kunjungan Presiden Donald Trump ke Tiongkok, memetakan sejauh mana Washington bisa bergerak dalam tekanan ganda: perang dagang dan konfrontasi Timur Tengah.

Tiffani Safinia dari Research & Development ICDX menyebut kombinasi sentimen safe haven dan yield yang naik sebagai tulang punggung penguatan DXY saat ini. "Kondisi tersebut membuat yield obligasi pemerintah AS kembali naik dan menopang permintaan terhadap dolar AS," ujarnya. "Jika inflasi AS tetap sticky dan pemangkasan suku bunga berjalan lebih lambat dari ekspektasi pasar, maka DXY masih berpeluang bertahan di level tinggi."

Proyeksinya, DXY akan bermain di rentang 97,5 hingga 99,5 dalam waktu dekat, dengan kisaran lebih lebar di 96 sampai 100 sepanjang semester I-2026, tergantung arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik.

Ada batasnya, tentu. Ruang penguatan mulai sempit kalau tiga hal terjadi bersamaan: pasar agresif memasang ekspektasi cut di semester II, tensi Timur Tengah mereda, dan risk appetite global pulih. Tiga kondisi yang belum terpenuhi hari ini, tapi bisa berubah cepat. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan?

Sejumlah mata uang diposisikan sebagai alternatif safe haven. Yen Jepang tetap jadi pilihan utama investor saat volatilitas meningkat, ditopang posisi eksternal Jepang yang kuat dan likuiditas pasar yang besar. Franc Swiss menarik sebagai aset defensif klasik, bak pelabuhan tua yang selalu ramai saat badai. Dolar Singapura punya daya tarik tersendiri di kawasan Asia berkat fundamental makro yang stabil, cadangan devisa yang kuat, dan kredibilitas kebijakan moneter Monetary Authority of Singapore.

Euro, poundsterling, hingga yen sendiri tercatat melemah dalam dua sesi terakhir. Bukan kebetulan.

Bagi investor domestik, penguatan DXY ini layak dicermati lebih dari sekadar berita valas. Tekanan pada rupiah biasanya mengikuti, dan kalau yield Treasury terus terkerek, arus modal dari emerging market ke AS bisa kembali mengencang. Portofolio obligasi dan saham sektor eksportir perlu dipantau lebih hati-hati.