KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Direktur AMMN Mundur, Saham Sudah Amblas 50% YtD

Bisnis

Direktur AMMN Mundur, Saham Sudah Amblas 50% YtD

Irwin Ka Pui Wan resmi mengajukan pengunduran diri dari jajaran direksi Amman Mineral di tengah tekanan bertubi-tubi: dibuang dari MSCI, ancaman revisi royalti, dan saham yang sudah separuh harganya menguap sejak awal tahun.

Indonesian Stocks Sink as Rupiah Hits Rp 17,505 Ahead of MSCI Review: JCI fell 1.43% at intraday close as MSCI rebalancing concerns, rupiah weakness, and foreign selling weighed on sentiment.

Satu per satu beban AMMN menumpuk. Paling anyar, Irwin Ka Pui Wan secara resmi mengajukan pengunduran diri dari posisi Direktur PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), jabatan yang sudah diembannya sejak 2021. Pengunduran diri itu dikonfirmasi lewat keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada Senin (18/5/2026), persis sehari sebelum RUPST dijadwalkan digelar.

Corporate Secretary AMMN Vemmy Febrianti menyebut perseroan telah menerima pemberitahuan resmi dari Irwin pada 14 Mei 2026. Persetujuan pemegang saham atas pengakhiran jabatannya akan dimintakan dalam RUPST hari ini, Selasa (19/5/2026). Soal alasan kepergiannya, manajemen menyebut pengunduran diri ini terkait berakhirnya masa jabatan Irwin sebagai direktur.

Bukan nama sembarangan. Irwin bergabung dengan AMMN sejak 2016, jauh sebelum emiten tambang tembaga-emas milik Grup Salim ini mencatatkan diri di bursa. Lebih dari dua dekade pengalaman global di sektor pertambangan, pekerjaan tanah, dan teknik jadi modal yang dibawanya masuk. Sebelum ke AMMN, dia pernah menjabat di Leighton (Thiess) Contractors, menjadi penasihat utama untuk Grup HKND pada proyek Terusan Besar Nikaragua, hingga memimpin operasi tambang batu bara kokas di Mongolia untuk Hunnu Coal Limited dan Banpu. Irwin juga anggota Institut Pertambangan dan Metalurgi Australia dengan kualifikasi Competent Person untuk pelaporan JORC.

Kepergiannya datang di momen yang agaknya tidak bisa lebih buruk untuk investor.

Saham AMMN sudah rontok separuhnya sejak Januari. Senin (18/5), harga menyentuh Rp3.370 per lembar, atau minus 50,44% secara year-to-date dari posisi awal tahun di kisaran Rp6.800. Tekanan jual asing di sesi yang sama tercatat mencapai Rp123,67 miliar, dengan frekuensi transaksi 15.470 kali atas volume 1,01 juta saham. Harga bahkan sempat amblas ke Rp3.150, turun 550 poin atau 14,86% dalam satu sesi. Masif.

Pemicunya? Dua sekaligus. Rabu (13/5), MSCI merilis hasil Semi-Annual Index Review periode Mei 2026. AMMN masuk daftar enam emiten yang dibuang dari MSCI Global Standard Index, bersama BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Tidak satu pun saham Indonesia yang berhasil masuk. Keluarnya AMMN dari konstituen MSCI memaksa fund-fund pasif yang melacak indeks tersebut untuk melepas kepemilikan mereka, tekanan jual yang tidak bisa dihindari. Belum cukup, pada 8 Mei, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengusulkan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2025 soal tarif royalti komoditas, termasuk emas dan tembaga, dua komoditas utama AMMN. Pasar yang sudah gelisah langsung menghitung ulang proyeksi laba.

Di tengah badai ini... ah, lupakan framing itu. Yang terjadi adalah: manajemen bergerak dengan satu langkah yang setidaknya terlihat elegan secara korporasi. Dalam agenda RUPST yang sama, perseroan akan meminta restu pemegang saham untuk mengalihkan 105,8 juta saham treasuri senilai Rp788,28 miliar (sekitar USD48,43 juta) ke program ESOP/MSOP bagi karyawan, direksi, dan dewan komisaris. Pengalihan dilakukan dalam tiga tahun, dengan harga pelaksanaan mengacu pada harga pasar saat distribusi. Tidak ada lock-up, tapi ada vesting period.

Vemmy menegaskan perseroan tidak menyimpan informasi material yang belum diungkap ke publik, dan belum ada rencana aksi korporasi lain dalam waktu dekat selain pengalihan saham treasuri tersebut. "Sampai dengan saat ini, kami juga belum memiliki rencana untuk melakukan tindakan korporasi dalam waktu dekat, kecuali terkait dengan pengalihan saham hasil pembelian kembali," tegasnya.

Program ESOP itu sendiri secara teknis tidak menimbulkan dilusi karena menggunakan saham hasil buyback, bukan menerbitkan saham baru. Cara yang tepat untuk menjaga loyalitas karyawan sambil menghindari kritik soal pengenceran kepemilikan. Pertanyaannya, apakah cukup untuk menahan eksodus talenta di saat saham perusahaan sudah kehilangan setengah nilainya dalam lima bulan?