Isu penundaan ekspor komoditas lewat jalur Danantara langsung dibantah Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) tetap berjalan sesuai jadwal, 1 Juni 2026, tanpa penundaan.
Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Purbaya Yudhi Sadewa tampil offensif. Ia menyerukan para pemain valas untuk segera melepas dolar, karena penempatan DHE SDA di bank-bank Himbara akan membanjiri pasar domestik dengan pasokan dolar segar. Target yang ia pasang terang-terangan: rupiah ke Rp15.000 per dolar AS. "Saya bilang pemain valas cepat-cepat buang dolarnya. Kita akan dorong rupiah ke Rp 15.000 per dolar AS," kata Purbaya. Ia juga menegaskan, "Mulai Juni nanti akan ada tambahan suplai dolar yang signifikan ke ekonomi kita. Jadi rupiah akan menguat."
Klaim yang masih perlu dibuktikan.
Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai perjalanan menuju Rp15.000 bukan sekadar soal suplai dolar. "Kalau yang mengklaim kebijakan DHE ini bisa membawa rupiah ke level Rp 15.000, perjalanannya agak panjang," ujar Myrdal kepada Kontan, Minggu (24/5). Ia mengingatkan bahwa pergerakan rupiah jauh lebih ditentukan arus modal asing, baik portofolio maupun foreign direct investment (FDI), ketimbang surplus neraca dagang atau tambahan pasokan devisa dari eksportir.
Di situlah letak masalahnya. Kalau capital outflow masih deras dan lebih besar dari surplus neraca perdagangan yang kini sudah bertahan 71 bulan berturut-turut hingga Maret 2026, tambahan pasokan dari DHE belum tentu mampu menopang rupiah. "Kalau masih terjadi outflow dan outflow lebih besar daripada surplus neraca dagang, ini agak berat," kata Myrdal.
Efektivitas kebijakan DHE, menurut dia, juga bergantung pada satu hal yang sering luput dari sorotan: kepatuhan eksportir. Kebijakan ini sudah berjalan sejak PP Nomor 36 Tahun 2023, lalu diperkuat PP Nomor 8 Tahun 2025, tapi hasilnya belum maksimal karena tingkat konversi DHE ke rupiah belum optimal. Idealnya, kata Myrdal, konversi tembus di atas 90%, bahkan 100%. "Yang paling penting itu sebenarnya kepatuhan dari eksportirnya sendiri," tandasnya.
Lantas dari mana rupiah bisa menguat secara solid? Bukan dari satu kebijakan tunggal, agaknya. FDI yang kencang, arus investasi lain yang masuk, plus neraca pembayaran yang surplus selama dua atau tiga kuartal berturut-turut, itulah kombinasi yang dibutuhkan. Angkanya konkret: surplus balance of payment di atas 7 miliar dolar AS per kuartal. "Kalau balance of payment kita positif selama dua atau tiga kuartal berturut-turut dan surplusnya signifikan, misalnya lebih dari US$ 7 miliar per kuartal, rupiah bisa menguat lagi," jelas Myrdal.
Dengan IHSG yang masih volatile dan sentimen global yang belum sepenuhnya kondusif, target Rp15.000 terasa seperti gol yang dipasang di tiang jauh. Bukan tidak mungkin. Tapi jalan ke sana jauh lebih berliku dari kesan yang coba dibangun Danantara.