SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  COCO Terbang 126% Sepekan, Rights Issue Rp1,28 T J...

Finansial

COCO Terbang 126% Sepekan, Rights Issue Rp1,28 T Jadi Pemicunya

Saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk melesat lebih dari 126% dalam lima hari perdagangan, tersengat rencana rights issue senilai Rp1,28 triliun dan akuisisi produsen camilan Momogi.

Saham Porto Maruarar Sirait (COCO) Terbang 129 Persen Tersengat Rights Issue - News+ on RCTI+

Dalam lima hari perdagangan, saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) melesat lebih dari 126% dan menjadi salah satu saham dengan kenaikan mingguan paling mencolok di bursa pekan ini.

Pada perdagangan Senin (6/7/2026), COCO ditutup di dua level berbeda tergantung waktu pencatatan: Rp328 per saham versi Bloomberg Technoz, atau Rp332 versi IDX Channel yang mencatat harga sore. Transaksi harian menembus kisaran Rp126-150 miliar, dengan hampir setengah miliar saham berpindah tangan. Ramai, untuk emiten seukuran ini.

Katalis utamanya sudah cukup jelas. COCO tengah bersiap menggelar Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) III atau rights issue bulan ini. Perseroan akan menerbitkan hingga 10,68 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp120 per saham, berpotensi menghimpun dana sekitar Rp1,28 triliun.

Nah, di sinilah spekulasi mulai bekerja. Harga pelaksanaan Rp120 itu jauh di bawah harga pasar saat ini, dan pasar agaknya sedang melakukan price discovery versinya sendiri. BRI Danareksa Sekuritas menilai diskon harga rights issue inilah yang memicu aksi spekulasi investor, bukan semata-mata ekspektasi fundamental.

Tapi ada yang lebih menarik dari sekadar angka rights issue. Sebagian besar dana hasil penggalangan modal itu disebut akan dipakai untuk mengakuisisi PT Sari Murni Abadi, produsen camilan Momogi yang cukup dikenal di segmen makanan ringan. Akuisisi ini, kalau terlaksana, akan memperbesar skala bisnis COCO secara lumayan berarti. Seberapa besar kontribusinya ke bottom line, itu yang masih perlu dibuktikan.

Faktor pemanis lainnya: pemegang saham pengendali berkomitmen menyerap seluruh haknya sekaligus bertindak sebagai standby buyer. Sinyal klasik yang biasanya dibaca pasar sebagai jaminan bahwa rights issue tidak akan gagal di tengah jalan, dan itu sendiri sudah cukup untuk mengerek sentimen.

Satu nama yang ikut muncul ke permukaan seiring reli ini adalah Maruarar Sirait, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman dalam Kabinet Merah Putih. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026, Ara tercatat mengantongi 113.262.600 saham COCO atau setara 3,18% kepemilikan. Data ini kembali bisa diakses publik setelah sebelumnya sempat terbatas, dan langsung menarik perhatian.

Portofolio publik Maruarar tidak hanya COCO. Ia juga tercatat memegang 737.518.000 saham PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (CARS) atau 4,92%, lalu 114.864.500 saham PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) senilai 1,91%, dan 78.444.800 saham PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) sekitar 1,10%. Beragam, untuk seorang menteri aktif.

Bagi investor ritel yang sudah terlanjur masuk di harga tinggi, ada satu hal yang patut diingat: kenaikan 126% dalam lima hari di saham berkapitalisasi kecil lazimnya tidak turun secara linear. Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bertahan? Kalau rights issue beres dan akuisisi Momogi berjalan sesuai rencana, ceritanya bisa berlanjut. Tapi kalau salah satu variabel itu meleset, koreksi bisa sama kejamnya dengan penguatan yang sudah terjadi.