SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  COCO Gelar Rights Issue Rp1,28 Triliun, Incar Akui...

Finansial

COCO Gelar Rights Issue Rp1,28 Triliun, Incar Akuisisi Sari Murni Abadi

PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) melaksanakan PMHMETD III senilai maksimal Rp1,28 triliun dengan menawarkan 10,67 miliar saham baru, sebagian besar dananya disiapkan untuk mengakuisisi PT Sari Murni Abadi.

COCO Akuisisi Bersyarat 99,99% Saham PT Sari Murni Abadi • Wahana Interfood Nusantara ($COCO) menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi hingga 99,99% saham PT Sari Murni Abadi dari pihak non–afil

PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) menggelar rights issue jumbo senilai maksimal Rp1,28 triliun, menawarkan sebanyak-banyaknya 10,67 miliar saham baru di harga pelaksanaan Rp120 per lembar. Produsen kakao dan cokelat ini memilih ekspansi lewat jalur akuisisi, bukan pertumbuhan organik.

Rasinya 1:3. Tiap pemegang satu saham lama berhak menebus tiga saham baru hasil HMETD. Recording date jatuh pada 10 Juli 2026, pencatatan di Bursa Efek Indonesia dimulai 14 Juli 2026, dan periode perdagangan serta pelaksanaan hak berlangsung hingga 21 Juli 2026.

Mahogany Global Investment Pte. Ltd, pemegang saham pengendali dengan porsi 51,32% atau setara 1,82 miliar lembar, sudah berkomitmen penuh mengeksekusi seluruh haknya sebanyak 5,48 miliar HMETD. Komitmen itu dituangkan lewat surat pernyataan tertanggal 20 Mei 2026. Mahogany sekaligus bertindak sebagai pembeli siaga, siap menyerap sisa saham hingga 4,30 miliar lembar bila pemegang saham publik memilih tidak ikut.

Sebagai pemanis, COCO menerbitkan maksimal 355,9 juta Waran Seri I secara gratis. Rasionya 30:1, artinya setiap 30 saham baru hasil HMETD melekat satu waran, dengan harga pelaksanaan Rp800 per lembar. Jika seluruh waran dieksekusi, tambahan dana yang bisa terhimpun mencapai Rp284,75 miliar. Masa berlaku waran membentang hingga Juli 2031.

Dari total dana bersih rights issue, sekitar Rp1,17 triliun dialokasikan khusus untuk mengakuisisi PT Sari Murni Abadi (SMA). Sisanya masuk ke modal kerja operasional, meliputi pembelian bahan baku, bahan kemas, riset dan pengembangan, serta pemasaran. Dana dari waran, bila terealisasi, dialokasikan untuk bahan baku, distribusi, dan biaya operasional pendukung.

Kondisi keuangan COCO saat ini? Jujur saja, tidak sedang prima. Penjualan neto sepanjang 2025 tumbuh tipis 2,48% menjadi Rp165,08 miliar dari Rp161,09 miliar setahun sebelumnya, ditopang cocoa powder dan compound chocolate. Tapi di sisi lain, beban operasi lain meledak ke Rp192,99 miliar akibat penyisihan penurunan nilai aset dan piutang, yang langsung menghantam profitabilitas. ROA tercatat minus 46,26%, ROE minus 222,42%. Bukan sekadar merah, ini darah.

Satu sinyal yang agak melegakan: current ratio membaik ke 1,64 kali dari sebelumnya 1,33 kali. Likuiditas jangka pendek setidaknya bergerak ke arah yang benar, kalau data ini bisa dipercaya sebagai tren.

Yang perlu diwaspadai adalah dilusi yang menanti pemegang saham lama. Persentase pengikisan kepemilikan mencapai 75,00% setelah HMETD berakhir, dan bisa membengkak hingga 75,61% jika seluruh Waran Seri I ikut dieksekusi. Pemegang saham publik yang memilih diam akan tergerus kepemilikannya secara masif, sementara Mahogany makin mengunci cengkeramannya.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah akuisisi Sari Murni Abadi cukup transformatif untuk membalik performa COCO yang kini masih tersungkur? Angka-angka berikutnya yang akan menjawab.