SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  BJTM dan TOTL Amblas 9% di Ex Dividen, Dividend Tr...

Finansial

BJTM dan TOTL Amblas 9% di Ex Dividen, Dividend Trap Mengintai

Saham BJTM dan TOTL kompak ambles lebih dari 9 persen saat memasuki masa ex dividen, hampir persis setara yield yang ditawarkan. Fenomena dividend trap kembali jadi pelajaran mahal bagi spekulator jangka pendek.

Pembagian Dividen Jadi Pelipur Lara Saat Pasar Anjlok

Investor yang semalaman sudah membayangkan cuan dari dividen BJTM dan TOTL harus menelan kenyataan pahit. Selasa pagi (19/5/2026), kedua saham itu langsung dihajar tekanan jual begitu memasuki masa ex dividen, dengan koreksi yang nyaris simetris dengan yield yang dijanjikan.

Saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) amblas 9,48 persen ke Rp525 per saham hingga pukul 10.19 WIB, nilai transaksi Rp8,80 miliar. Angka itu hampir persis cerminan dari dividend yield BJTM di cum date Senin (18/5), yakni sekitar 9,76 persen. PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) bernasib sama: turun 9,28 persen ke Rp1.075 per saham dengan transaksi Rp3,49 miliar, sejajar dengan yield 9,28 persen yang ditawarkan sehari sebelumnya.

Bagi yang masuk hanya untuk memburu dividen, hitungannya sederhana dan menyakitkan. Kenaikan portofolio dari dividen nyaris terhapus habis oleh penurunan harga. Belum lagi kalau koreksi berlanjut setelah sesi pertama.

Secara teori, penurunan harga setelah ex dividen memang sesuatu yang wajar, bahkan bisa diprediksi. Pembeli baru tidak lagi punya hak atas dividen, sehingga valuasi saham secara mekanis tergerus. Yang kerap memperparah keadaan adalah aksi profit taking pelaku pasar yang masuk sebelum cum date semata-mata untuk mengejar dividen, lalu keluar begitu haknya terkunci. Pola klasik yang berulang setiap musim pembagian.

BJTM sendiri menetapkan total dividen Rp850,18 miliar atau Rp56,62 per saham, naik tipis dari Rp54,71 per saham tahun sebelumnya. Nilai itu setara 55 persen dari laba bersih tahun buku 2025. TOTL membagikan Rp375,1 miliar atau Rp110 per saham, bersumber dari laba bersih yang diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp414,3 miliar. Angka-angka yang menggoda di atas kertas, tapi ternyata tidak gratis.

Fenomena ini bukan hal baru, tapi agaknya tetap saja ada yang terjebak setiap musim dividen. Yield tinggi memang menggoda, apalagi ketika pasar sedang tertekan dan pilihan instrumen terasa makin sempit. Pekan ini saja ada sejumlah emiten yang menjadwalkan pembagian dividen dengan imbal hasil yang beragam, dari yang cuma 0,6 persen seperti CDIA hingga yang dua digit seperti BJTM dan TOTL.

Yield tinggi bukan berarti return bersih tinggi. Kalau harga saham turun lebih dalam dari nilai dividen yang diterima, atau tekanan jual berlanjut beberapa hari setelah ex date, investor justru keluar dengan tangan kosong. Bisa jadi malah nyangkut. Pertanyaannya, berapa banyak yang sadar risiko ini sebelum masuk, bukan sesudah?

Pelajaran yang sama, diulang setiap tahun: mengejar dividen jangka pendek tanpa mempertimbangkan risiko pergerakan harga bukan strategi. Itu spekulasi.