Sepanjang 2026, pasar saham global berulang kali mencetak all-time high. Bitcoin? Masih terperangkap di kisaran US$62.000, jauh dari puncaknya di Oktober lalu. Kesenjangan ini mulai menarik perhatian, dan pertanyaannya cukup sederhana: apakah kripto sedang kehilangan relevansinya, atau sekadar ketinggalan giliran?
Hashdex dan Charles Schwab kompak menjawab: ini soal narasi, bukan fundamental. Dalam laporan prospek pasar tengah tahun, Chief Investment Officer Hashdex Samir Kerbage menulis bahwa arus modal saat ini sedang bergerak ke satu arah. "Arus modal selalu mengikuti perhatian investor. Saat ini fokus pasar tertuju pada infrastruktur AI, penawaran saham perdana (IPO), dan ekspektasi arah suku bunga," tulisnya. Dalam kondisi seperti ini, perkembangan positif di industri kripto nyaris tidak terliput radar.
Bukan berarti tidak ada yang terjadi. Justru sebaliknya. Volume transaksi stablecoin di semester pertama 2026 sudah melampaui total transaksi sepanjang 2025. Nilai aset dunia nyata yang ditokenisasi, atau dikenal sebagai real-world assets (RWA), tumbuh lebih dari 60% sejak Januari. Aktivitas transaksi di ekosistem kripto bahkan mencatat rekor tertinggi di kuartal II 2026. Angka-angka ini, jujur saja, tidak kecil.
Kerbage menyebut kondisi ini sebagai kesenjangan terlebar sepanjang sejarah antara kapitalisasi pasar dan aktivitas jaringan blockchain. Harga belum mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi di lapisan bawah. Adopsi institusional terus merayap naik, eh, terus merambat, sejumlah bank, perusahaan pialang, dan penyedia layanan pembayaran mulai memperluas infrastruktur aset digital mereka. Di sisi regulasi, kepastian hukum di Amerika Serikat dinilai membaik, dan bisa semakin kuat apabila CLARITY Act lolos di musim panas ini.
Charles Schwab membaca situasi dari sudut berbeda. Kesimpulannya tidak terlalu jauh. Jim Ferraioli, Direktur Riset dan Strategi Mata Uang Digital Schwab, mengingatkan bahwa bitcoin punya pola historis yang cukup konsisten pasca-halving. Dalam siklus sebelumnya, dibutuhkan lebih dari setahun sejak titik terendah bear market sebelum harga kembali melampaui biaya produksi penambang yang kurang efisien. Biaya itu diperkirakan ada di sekitar US$95.000 per bitcoin. Rata-rata harga beli investor? Sekitar US$80.000.
Dua angka itu sudah cukup untuk menjelaskan kenapa tekanan jual muncul setiap kali harga mulai mendaki mendekati level tersebut. Investor yang sempat nyangkut di harga tinggi cenderung memanfaatkan momen rebound untuk memotong kerugian, dan itu yang memperlambat laju kenaikan. Ferraioli tidak menyebut siklus empat tahunan sebagai hukum besi, tapi ia mengakui pola itu sudah mengakar dalam psikologi pasar kripto. Seiring matangnya pasar dan menurunnya volatilitas, dampak setiap halving berikutnya kemungkinan akan semakin teredam. Setidaknya, itu tesis yang ia pegang.
Bagi investor ritel, gambaran ini menawarkan dua kemungkinan baca. Bitcoin sedang menunggu katalis berikutnya. Atau pasar memang butuh waktu lebih lama untuk mencerna ulang naratifnya sendiri. Pertanyaannya, berapa lama selisih antara fundamental yang menguat dan harga yang stagnan ini bisa bertahan? Kalau sejarah jadi pegangan, bak gayung bersambut, fundamental dan harga biasanya bertemu juga, salah satunya yang harus bergerak.