Inflasi April masih jinak di 2,42% secara tahunan, rupiah butuh sandaran, dan Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI Rate 50 basis poin ke 5,25%. Satu langkah yang secara makro bisa dipahami, tapi yang merasakannya langsung bukan bank sentral, melainkan jutaan nasabah kredit di seluruh Indonesia.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) merespons kebijakan ini dengan nada yang relatif tenang. Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista menyebut kenaikan ini mencerminkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan mengendalikan inflasi. Tidak ada sinyal panik, tidak ada revisi target kredit yang diumumkan. Setiap penyesuaian suku bunga, kata Adhika, akan dilakukan "secara terukur."
Kata "terukur" itu menarik. Artinya penyesuaian memang akan terjadi, baik di sisi bunga dana pihak ketiga maupun bunga kredit, tapi perbankan agaknya tidak ingin terlihat terburu-buru. Tekanan margin sudah nyata. Menaikkan bunga kredit terlalu agresif berisiko menekan permintaan pembiayaan yang susah payah dijaga tumbuh.
Bagi nasabah KPR yang sudah memasuki periode floating rate, kata "terukur" terasa kurang menghibur. Cicilan mereka berpotensi naik, bukan karena mereka gagal bayar atau kondisi keuangan memburuk, tapi semata karena kebijakan moneter bergeser. Kenaikan 50 bps bukanlah angka kecil bila dikalikan sisa pokok pinjaman ratusan juta hingga miliaran rupiah dan tenor yang masih panjang.
Logika kenaikan suku bunga BI cukup solid di level makro. Rupiah perlu ruang untuk menguat, atau paling tidak tidak terus tergerus ketidakpastian global yang belum mereda. Inflasi yang masih dalam target memberi BI waktu untuk bergerak tanpa terlihat panik, tapi cukup tegas untuk memberi sinyal ke pasar bahwa nilai tukar diperhatikan. Bak gayung bersambut dengan kebutuhan pasar obligasi yang juga memerlukan kepastian arah suku bunga.
BI juga memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan tetap terjaga agar penyaluran kredit ke sektor riil tidak tersumbat. Transmisi kebijakan moneter, kalau data ini bisa dipercaya, bukan sekadar soal bunga. Soal apakah dana benar-benar tersedia untuk dipinjamkan, itu sama pentingnya.
BMRI menyiratkan bahwa setiap langkah penyesuaian akan mempertimbangkan kondisi likuiditas, dinamika pasar, dan arah kebijakan moneter. Angkanya? Belum ada. Pertanyaannya sekarang bukan soal apakah bunga kredit akan naik, tapi seberapa cepat dan seberapa dalam. Itu yang akan menentukan nasib net interest margin perbankan di kuartal kedua ini, dan investor yang memantau kualitas aset tahu betul risikonya.