KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  BDMN Melesat 97% YTD, Valuasi Mulai Bikin Analis B...

Finansial

BDMN Melesat 97% YTD, Valuasi Mulai Bikin Analis Berkerut

Saham Bank Danamon melonjak hampir dua kali lipat sejak awal tahun, terbakar isu integrasi dengan MUFG. Tapi di balik euforia itu, valuasi mulai terlihat tidak murah dibanding peers sekelas.

Tersengat Isu Merger, Valuasi BDMN Kemahalan - Market

Hampir dua kali lipat dalam lima bulan. Kenaikan saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) yang tembus 97% sejak awal 2026 bukan angka biasa, bahkan untuk ukuran pasar yang sedang rally sekalipun.

Pada perdagangan Senin (11/5/2026), BDMN ditutup di Rp4.750 per saham, naik 230 poin atau sekitar 5,32% dalam sehari. Katalisnya sudah jelas: Danamon resmi menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan MUFG Bank Ltd untuk menjajaki integrasi operasional dengan MUFG Indonesia. Jika semua berjalan mulus dan persetujuan regulator serta pemegang saham dikantongi, integrasi ini diproyeksikan efektif pada 2027.

Namun ada yang layak dicermati di balik reli ini. Valuasi BDMN sekarang, jujur saja, sudah tidak semurah sebelumnya. Price to book value (PBV) BDMN saat ini berada di 0,82 kali, memang masih di bawah rata-rata bank BUKU 4 yang di kisaran 1,1 kali berdasarkan data Bloomberg. Tapi kalau disandingkan head to head dengan peers sekelas seperti BBTN dan BTPN, angka itu justru terlihat lebih mahal. Reli yang terlalu cepat kadang menyisakan celah antara harga dan fundamental. Pertanyaannya, berapa lama pasar rela menanggung celah itu?

Lalu apakah aksi korporasi ini layak mendapat premi sebesar itu?

Doddy Ariefianto, pengamat perbankan dari Binus University, agaknya melihat logika bisnis yang solid di balik rencana ini. Ia menilai integrasi Danamon dan MUFG bukan sekadar aksi korporasi biasa. "Danamon kuat di retail banking, sementara MUFG cenderung kuat di corporate banking terutama perusahaan Jepang atau afiliasinya. Dengan merger ini positioning-nya menjadi universal banking," ujarnya kepada Bisnis, Senin (11/5/2026).

Secara neraca, kombinasi ini menarik di atas kertas. Danamon membawa aset konsolidasian Rp275,7 triliun per akhir 2025, dengan jaringan yang mencakup segmen korporasi, UKM, hingga ritel, ditopang Adira Finance. MUFG Indonesia mencatatkan aset Rp207 triliun dengan basis nasabah yang lebih terkonsentrasi di korporasi besar dan perusahaan multinasional. Gabungkan keduanya, dan entitas yang terbentuk berpotensi menjadi salah satu pemain universal banking terbesar di Indonesia. Bukan main.

Doddy juga menepis spekulasi bahwa penjajakan ini semata-mata dipicu aturan free float minimum 15% di Bursa Efek Indonesia. "Saya enggak lihat begitu. Terlalu mahal kalau hanya gara-gara isu free float terus merger atau akuisisi bank baru. Motivasinya jadi aneh," tegasnya. Ia justru membaca langkah ini sebagai sinyal bahwa pasar Indonesia masih menarik di mata investor asing, kalau data dan gestur MUFG ini bisa dipercaya.

Danamon sendiri dalam keterbukaan informasinya menegaskan bahwa selama proses berlangsung tidak akan ada perubahan operasional, baik bagi nasabah maupun mitra usaha. Perseroan juga menyebut rencana ini selaras dengan agenda konsolidasi perbankan yang tengah didorong Otoritas Jasa Keuangan.

Apabila integrasi terealisasi, entitas hasil penggabungan tetap akan menjadi anak usaha terkonsolidasi MUFG Bank Ltd. Bukan bank baru, melainkan Danamon yang bertransformasi dengan otot jauh lebih besar.

Bagi investor ritel, pertanyaan yang lebih menusuk justru ini: apakah kenaikan 97% sudah memproyeksikan semua skenario terbaik sekaligus? Kalau iya, ruang untuk kecewa terbuka lebar begitu proses integrasi menemui hambatan di tingkat regulator atau pemegang saham. Bak pedang bermata dua, premi aksi korporasi selalu datang bersama tagihannya.