Sepanjang pekan 10-13 Agustus 2026, satu nama konsisten muncul di puncak daftar saham paling diborong investor asing: PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Net buy asing di saham ini mencapai Rp 219,4 miliar, menyalip PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang sempat memimpin pada 10-12 Agustus dengan net buy Rp 174 miliar.
Khusus Kamis (13/8), asing menggelontorkan net buy Rp 129,43 miliar ke BBCA dalam satu sesi. Angka yang tidak main-main. Apalagi ini terjadi di hari ketika IHSG justru amblas 1,13% terseret sentimen rebalancing MSCI. BBCA malah ditutup naik tipis 0,39% ke Rp 6.375, bergerak berlawanan arah dengan pasar.
Ada alasan mengapa asing memilih BBCA sebagai pelabuhan aman. Kinerja semester I-2026 bank swasta terbesar di Indonesia ini, jujur saja, lebih baik dari yang banyak dikhawatirkan. Laba bersih tercatat Rp 29,5 triliun, tumbuh 1,8% secara tahunan. Pertumbuhan yang tidak spektakuler di atas kertas, tapi konteks tekanan yang menghantam industri perbankan saat ini membuat angka itu punya bobot yang berbeda.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mencatat laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) tumbuh 2,5% yoy sebagai salah satu penopang utama. "Pendapatan non-bunga yang lebih kuat juga membantu BBCA menahan dampak pelemahan net interest income dan tekanan NIM," tulis Liza dalam risetnya.
Dari sisi kredit, total portofolio BBCA menyentuh Rp 1.035,6 triliun, naik 8% yoy. Yang menarik adalah komposisinya: kredit korporasi melesat 13,6% yoy ke Rp 513,4 triliun, sedangkan kredit konsumer masih lesu akibat perlambatan pembiayaan kendaraan bermotor. Pertumbuhan BBCA saat ini, dengan kata lain, lebih banyak ditarik segmen korporasi ketimbang ritel.
Pendanaan BBCA tetap menjadi keunggulan struktural yang sulit ditandingi bank lain. CASA mencapai Rp 1.082,3 triliun, tumbuh 10,2% yoy. Biaya dana murah yang rendah inilah yang membuat BCA relatif lebih tahan terhadap tekanan margin dibanding kompetitor, meski total simpanan sedikit tergerus secara kuartalan.
Kualitas aset masih terkendali. Gross NPL di level 1,9%, loan at risk 4,9%. Angka yang agaknya cukup menenangkan bagi investor yang khawatir dengan risiko kredit saat ekonomi melambat.
Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 8.075 dalam 12 bulan, menggunakan pendekatan kombinasi P/BV dan dividend discount model. Target itu mencerminkan valuasi P/BV 3,3 kali untuk proyeksi 2026, atau potensi kenaikan sekitar 26,6% dari harga penutupan Kamis kemarin.
Tentu ada risiko yang harus dihitung. Tekanan NIM yang berlangsung lebih lama dari perkiraan, kredit yang tumbuh lebih lambat, hingga persaingan penghimpunan dana yang makin sengit bisa menggerus thesis investasi ini. Memburuknya kualitas aset dan kenaikan biaya kredit juga masuk radar Kiwoom.
Tapi asing agaknya sudah menimbang semua itu dan tetap memilih masuk. Pertanyaannya tinggal satu: sampai mana mereka mau terus borong?