SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Meta Luncurkan Dua Kacamata AI di Connect 2026, Ta...

Tekno

Meta Luncurkan Dua Kacamata AI di Connect 2026, Tantang Hegemoni Ponsel Pintar

Meta meluncurkan dua perangkat wearable berbasis AI di ajang Meta Connect 2026: Meta VR Glasses seharga Rp23,2 juta dan Ray-Ban Meta Audio seharga Rp6,2 juta, menandai babak baru persaingan di segmen komputasi ambien yang mulai menggeser dominasi ponsel.

Kacamata Pintar AI: Perangkat yang Dapat Dipakai Menantang Dominasi Ponsel

Selama lebih dari satu dekade, ponsel pintar berkuasa penuh sebagai pusat kehidupan digital kita. Tapi babak baru tampaknya sedang dimulai, dan Meta menjadi salah satu yang paling agresif memancangkan bendera di sana.

Di ajang Meta Connect 2026, perusahaan milik Mark Zuckerberg itu memperkenalkan dua perangkat wearable sekaligus: Meta VR Glasses dan Ray-Ban Meta Audio. Berbeda karakter, berbeda segmen harga, tapi satu benang merah yang sama, eh, maaf, satu tujuan yang sama: mengurangi ketergantungan pengguna terhadap layar ponsel.

Meta VR Glasses adalah produk yang lebih ambisius dari keduanya. Bobotnya cuma 100 gram, lima kali lebih ringan dari Meta Quest 3. Pencapaian teknis yang tidak kecil, mengingat spesifikasi di dalamnya. Kacamata ini mengandalkan panel micro-OLED beresolusi 5K dengan kerapatan 37 piksel per derajat, didukung Dolby Vision dan speaker Dolby Atmos yang tertanam di bingkai. Prosesornya Snapdragon Reality Elite, chipset anyar Qualcomm yang memang dirancang khusus untuk perangkat extended reality.

Desainnya menolak konvensi headset VR yang tebal dan menyesakkan kepala. Meta memisahkan komponen prosesor, baterai, dan penyimpanan ke dalam unit berbentuk puck yang terhubung ke kacamata via kabel optik. Puck itu bisa dijepitkan ke saku atau tas, sehingga beban di kepala jauh berkurang. Hasilnya? Terlihat seperti kacamata biasa, bukan helm gaming.

Sertifikasi IMAX Enhanced yang berhasil dikantongi perangkat ini menjadikannya perangkat VR pertama yang meraih label tersebut. Film 3D berformat IMAX, termasuk konten Disney+, bisa ditonton langsung dari kacamata ini. Meta juga menggandeng Prime Video, YouTube, HBO Max, Paramount+, Peacock, hingga Crunchyroll sebagai mitra konten. Untuk olahraga, tersedia siaran imersif resolusi 8K dengan sudut pandang 180 derajat, dan Meta menargetkan lebih dari 100 pertandingan per tahun.

Ada pula fitur Hologram Calling yang membuat avatar digital pengguna tampil secara fotorealistik, lengkap dengan ekspresi wajah dan gerakan real-time saat video call via WhatsApp atau Zoom. Bukan main.

Harganya Rp23,2 juta, dan baru tersedia di Amerika Serikat pada musim semi 2027. Agaknya Meta masih hati-hati soal distribusi global, setidaknya untuk saat ini.

Berbeda jauh dari saudara mahalnya, Ray-Ban Meta Audio bermain di segmen yang lebih membumi. Ini kacamata pintar pertama kolaborasi Ray-Ban dan Meta yang sengaja tidak dipasangi kamera, keputusan yang cukup berani mengingat kamera selalu jadi daya jual seri sebelumnya. Gantinya, Meta memaksimalkan sisi audio dengan speaker open-ear terarah yang diklaim tidak mudah bocor ke sekitar selama volume dijaga normal.

43 gram. 12 jam baterai. Charging case yang menambah 48 jam lagi. Untuk pemakaian harian, angka-angka itu cukup meyakinkan. Meta AI tertanam di dalamnya, sanggup mencari informasi, mengirim pesan, menerjemahkan percakapan langsung, hingga mengatur pengingat via perintah suara. Tersedia dalam dua model, Clubmaster bergaya retro dan Burbank bingkai persegi, dengan total 23 kombinasi warna. Lensa resep juga bisa dipasang, detail kecil yang penting bagi pengguna berkacamata.

Harganya Rp6,2 juta dan pengiriman perdana dimulai 13 Oktober 2026.

Konteks lebih besarnya begini: industri teknologi sedang bergerak menuju apa yang disebut "komputasi ambien", di mana AI tidak lagi bersemayam di balik layar yang harus terus-terusan disentuh dan dilihat, melainkan hadir secara natural melalui suara, penglihatan, dan konteks. Ray-Ban Meta Audio adalah ujung tombak pendekatan ini. Meta VR Glasses menggarap ceruk hiburan imersif yang selama ini hanya bisa dinikmati dengan headset canggih yang tidak nyaman dipakai lebih dari satu jam.

Tantangannya tetap nyata. Baterai Meta VR Glasses hanya bertahan tiga jam untuk konten resolusi tinggi, batas yang akan terasa menyesakkan bagi penonton film panjang. Belum lagi soal privasi: perangkat dengan sensor dan mikrofon yang menempel di wajah sepanjang hari adalah klaim yang masih perlu dibuktikan bisa diterima pasar luas, bukan sekadar segmen early adopter. Kalau data penerimaan konsumen bisa dipercaya kelak, baru kita tahu apakah ini revolusi atau sekadar hype mahal.

Ponsel pintar belum ke mana-mana. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ada pesaing yang terasa serius.