Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menutup pekan lalu di level Rp 5.900, melemah 3,67% dalam sepekan dan 26,9% sejak awal tahun. Angka yang, jujur saja, cukup menyakitkan bagi pemegang saham bank terbesar swasta Indonesia ini.
Yang bikin situasi ini menarik: tekanan bukan datang dari kinerja yang ambrol, melainkan dari arus keluar dana asing yang deras dan konsisten. Sepanjang 19 hingga 22 Mei 2026, investor asing melepas BBCA senilai lebih dari Rp 1 triliun secara kumulatif. Rinciannya: net sell Rp 306,1 miliar pada 19 Mei, Rp 375,75 miliar pada 20 Mei, Rp 110,2 miliar pada 21 Mei, dan Rp 322,3 miliar pada 22 Mei. Total eksodus dalam empat hari itu mendekati Rp 1,1 triliun, hanya dari satu saham.
Sehari sebelumnya ceritanya justru terbalik. Pada 18 Mei, asing masuk bersih Rp 107,1 miliar dan BBCA hijau 0,41% ke Rp 6.125. Pembalikan arah dalam 24 jam ini cukup blak-blakan menggambarkan betapa volatilnya sentimen terhadap saham bank besar saat ini.
Fundamental April 2026 tetap di jalur. Laba bersih bank only BBCA sepanjang Januari-April 2026 mencapai Rp 20,81 triliun, tumbuh 3% dibanding periode yang sama tahun lalu. Secara bulanan, laba April memang amblas 29% dibanding Maret, tapi angka akumulasi empat bulan ini setara 34% dari estimasi konsensus untuk laba konsolidasi penuh 2026, nyaris identik dengan proporsi di periode 4M25. Stockbit Sekuritas mencatat realisasi ini sejalan ekspektasi.
NIM tertekan, turun ke 5,24% dari 5,7% di periode yang sama 2025, dan sudah berada di bawah guidance manajemen yang mematok kisaran 5,4-5,6%. Penyebabnya: asset yield melemah ketika BCA memilih tidak agresif menyalurkan kredit. Pertumbuhan kredit hanya 4,54% yoy per April, atau Rp 965,01 triliun secara nominal, jauh di bawah target 8-10% yoy. Empat bulan berturut-turut melambat.
Konservatif, tapi bukan tanpa perhitungan. Alih-alih mengejar volume kredit, BCA memilih parkir dana di instrumen lebih aman: penempatan di surat berharga naik 17,55% yoy menjadi Rp 425,41 triliun, penempatan di bank lain melesat 40,4% yoy ke Rp 24,61 triliun. Strategi defensif ini menekan beban provisi hingga tergerus 16,22% yoy menjadi Rp 1,06 triliun selama empat bulan. Cost of credit pun susut ke 0,33%, jauh di bawah batas bawah guidance manajemen di 0,4-0,5%.
Hasilnya tidak mengecewakan. ROA tercatat 4,00% dan ROE 23,43%, keduanya melampaui kisaran yang dicanangkan manajemen. DPK tumbuh 8,56% yoy ke Rp 1.246,05 triliun, CASA ratio solid di 84,97%. LDR 77,45% menunjukkan likuiditas masih sangat lapang.
Lalu kenapa harga sahamnya tetap dihajar? DBS Group Research memberi konteks yang cukup gamblang: kepemilikan asing di saham bank besar Indonesia sudah turun tajam, didorong kekhawatiran atas prospek pertumbuhan, ketidakpastian kebijakan, dan pelemahan rupiah yang berkepanjangan. Bukan cerita spesifik BBCA semata, tapi tekanan struktural yang menghantam seluruh sektor.
Meski begitu, DBS justru memilih BBCA sebagai salah satu dari delapan saham pilihan Indonesia, dengan target Rp 8.000. Valuasi saat ini, kata DBS, sudah sangat murah dan pasar dianggap telah menyerap semua sentimen negatif. Verdhana Sekuritas bahkan lebih agresif dengan target Rp 10.100, mencerminkan PBV 4,1 kali dan PER 20,8 kali, jauh di atas kondisi saat ini. MNC Sekuritas mematok Rp 6.425-Rp 6.775 dengan strategi buy on weakness di area Rp 5.625-Rp 5.775, stoploss di bawah Rp 5.575.
Secara teknikal, area Rp 5.900-Rp 5.950 beberapa kali jadi titik pantul intraday selama sepekan terakhir. CGS International Sekuritas menyebut support terdekat di Rp 5.750-Rp 5.825, dengan target dekat Rp 5.975-Rp 6.050. Selama BBCA belum mampu bertahan konsisten di atas MA20, momentum penguatan belum terbentuk.
Gap antara harga pasar Rp 5.900 dan target analis yang rata-rata jauh di atas Rp 8.000 itu ibarat pedang bermata dua: bisa jadi peluang akumulasi besar, atau sinyal bahwa pasar tahu sesuatu yang model valuasi belum sepenuhnya tangkap. Pertanyaan yang layak direnungkan sebelum klik tombol beli.