Dua pekan berturut-turut, investor asing menjadikan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sasaran utama akumulasi saat gelombang jual bersih menghajar Bursa Efek Indonesia. Bukan angka kecil. Net buy asing pada BREN mencapai Rp358,86 miliar dalam sepekan perdagangan 22-26 Juni 2026, menjadikannya emiten dengan nilai pembelian bersih terbesar di BEI, melampaui PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang dibeli senilai Rp293,5 miliar dan PT Antam Tbk (ANTM) dengan net buy Rp224,9 miliar.
Aksi borong itu berlanjut sepekan kemudian, periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026. Tiga broker menjadi penampung terbesar dana asing masuk: TP dengan nilai Rp47,5 miliar, disusul BK sebesar Rp40,5 miliar, dan IF senilai Rp38,6 miliar. Dari arah sebaliknya, tekanan jual asing paling besar datang dari broker DP dengan net sell Rp71,5 miliar. Arus deras masuk dan keluar secara bersamaan ini agaknya mencerminkan rotasi, bukan sekadar aksi beli serempak.
Harga BREN menutup perdagangan Jumat, 3 Juli 2026 di level Rp3.400, naik 4,62 persen dalam satu hari. Sepanjang sepekan terakhir, saham ini menguat tipis 1,49 persen dengan fluktuasi di kisaran Rp3.040 hingga Rp3.550. Pemulihan jangka pendek memang ada. Tapi gambar besarnya jauh kurang menyenangkan: secara year-to-date, BREN amblas 64,95 persen dari level awal tahun yang sempat menyentuh Rp9.800 per lembar.
Meski begitu, ada alasan mengapa asing tidak begitu saja meninggalkan saham ini. Dari sisi fundamental, BREN mencatat kinerja yang cukup solid di kuartal I 2026. Pendapatan emiten Prajogo Pangestu ini tumbuh 9,8 persen secara tahunan menjadi USD165,17 juta, sementara laba bersih melonjak 25,6 persen menjadi USD43 juta dibanding USD34 juta pada periode yang sama tahun lalu. Efisiensi biaya ikut berkontribusi: beban bunga dipangkas dari USD29,22 juta menjadi USD27,79 juta, beban karyawan turun dari USD11,84 juta menjadi USD10,59 juta. Gross profit margin tembus 100 persen, angka yang mencerminkan watak bisnis energi panas bumi dengan biaya variabel yang sangat rendah setelah aset terbangun.
Arus kas operasional juga menguat dari USD62,12 juta di kuartal I 2025 menjadi USD77,27 juta di kuartal I 2026. Total aset BREN kini mencapai USD3,94 miliar per 31 Maret 2026, dengan posisi kas yang jauh lebih tebal: USD168,68 juta dibanding USD114,99 juta di akhir 2025.
Prospek jangka panjang BREN bukan sekadar brosur. Sebagai salah satu produsen energi panas bumi terbesar di Indonesia dengan kapasitas terpasang 910 MW, perseroan membidik angka 1 GW tahun ini dan berpotensi lebih dari dua kali lipat menjadi 2.430 MW dalam skenario optimistis pada 2032. Analis KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Adriyanti, menulis bahwa BREN telah menyiapkan peta jalan pertumbuhan yang jelas untuk meningkatkan kapasitas pembangkitnya secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang, bak gayung bersambut dengan agenda transisi energi pemerintah Indonesia.
Satu hal yang membuat sebagian pelaku pasar mengernyitkan dahi: valuasinya. Dengan harga Rp3.400, BREN diperdagangkan pada current PE ratio (TTM) 194,43 kali dan price-to-book value 39,33 kali. Entah kebetulan atau tidak, angka ini jauh di atas rata-rata sektor energi terbarukan kawasan. Total liabilitas perseroan sudah menyentuh USD3,01 miliar, dengan debt-to-equity ratio 3,04 kali, angka yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh investor konservatif.
Apakah akumulasi asing ini pertanda pemulihan yang lebih serius, atau sekadar trading jangka pendek memanfaatkan harga yang sudah ambles 65 persen sejak awal tahun? Pertanyaan itu yang harus dijawab sendiri oleh masing-masing investor sebelum ikut-ikutan serok.