Angka Rp10,8 triliun itu bukan angka kecil, terutama bagi emiten dengan ekuitas yang kini baru menyentuh Rp533 miliar. PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) sedang membangun ambisi yang tidak main-main: pipeline proyek pembangkit listrik tenaga air dengan total kapasitas lebih dari 300 MW. Dengan estimasi capex sekitar US$2 juta per MW, tagihan totalnya mendekati US$600 juta atau setara Rp10,8 triliun.
Gap antara kebutuhan dana dan kekuatan neraca sendiri agaknya sudah diperhitungkan manajemen sejak awal. Perusahaan yang menjual 100% listriknya ke PLN melalui kontrak jangka panjang ini sedang menjajaki sejumlah jalur pembiayaan: pinjaman perbankan, penerbitan obligasi, hingga rights issue. Pilihan mana yang akhirnya dieksekusi akan sangat menentukan dilusi pemegang saham dan beban bunga yang harus ditanggung.
Dari kapasitas terkontrak 62,8 MW, baru 32,8 MW yang sudah beroperasi di empat lokasi. Dua proyek terdekat yang bakal mengangkat produksi adalah PLTA Kukusan 2 (5,4 MW) yang sudah mulai beroperasi komersial pada Februari 2026, dan PLTA Tomoni (10 MW) dengan progres konstruksi 73%. Manajemen menargetkan produksi tumbuh sekitar 30% per tahun pada 2026 dan 2027, dari proyeksi 197 GWh menjadi 257 GWh. PLTA Pongbembe (20 MW) yang konstruksinya dimulai akhir 2025 ditargetkan beroperasi komersial pada 2029.
Secara historis, ARKO mencatat CAGR produksi listrik 12,2% sepanjang 2021-2025, dengan pendapatan tumbuh 14,7% CAGR. Laba bersih tumbuh lebih modest di kisaran 6,9% CAGR. Margin EBITDA bergerak fluktuatif di rentang 40-70%, tergantung porsi pendapatan dari pekerjaan konstruksi dan beban operasional. Tidak konsisten, tapi juga tidak mengkhawatirkan.
Keekonomian proyek diklaim menarik. IRR di kisaran 12-13% bisa melar menjadi 18-19% kalau pembiayaan bank masuk dengan porsi memadai. Tarif jual ke PLN bersifat tetap dan bertahap: lebih tinggi pada sepuluh tahun pertama, lalu turun mulai tahun ke-11. Proyek terbaru sudah menggunakan basis sen dolar AS per kWh, yang memberikan lindung nilai alami terhadap gejolak rupiah.
Struktur pemegang saham juga mulai ramai. Kelompok pendiri melalui PT Arkora Bakti Indonesia mengendalikan 38,89% saham, dengan Aldo Artoko sebagai pemilik manfaat akhir. Dukungan Grup Astra datang lewat anak usaha yang memberikan akses pendanaan, legal, dan tata kelola. Yang baru masuk: sekelompok entitas terafiliasi Happy Hapsoro telah mengakumulasi sekitar 6,9% saham melalui dua entitas, ditambah kepemilikan langsung Hapsoro sebesar 2,04%. Manajemen menyambut positif masuknya investor ini sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek perseroan.
Valuasi ARKO bukan untuk yang mudah kaget. P/E saham ini tercatat sekitar 312 kali, P/BV menyentuh 35 kali. Mahal? Jelas. Analis menilai premium ini lebih banyak mencerminkan ekspektasi pertumbuhan jangka panjang dan kepercayaan pada reputasi konglomerat yang melatarbelakanginya, ketimbang kinerja yang sudah tercetak.
Perubahan iklim bukan sekadar wacana bagi emiten hidro. ARKO mewaspadai proyeksi El Nino pada semester II-2026 yang bisa menekan produksi selama musim kemarau. Manajemen mengklaim proyeksi produksi sudah mempertimbangkan studi hidrologi jangka panjang, klaim yang masih perlu dibuktikan konsistensinya ketika anomali cuaca semakin sulit diprediksi.
Pipeline lebih dari 300 MW ARKO setara sekitar 2,5% dari target penambahan kapasitas PLTA dan PLTM dalam RUPTL PLN 2025-2034 sebesar 11,7 GW. Porsi kecil dari target besar. Tapi bagi emiten seukuran ARKO, ini bukan soal skala relatif terhadap peta nasional. Pertanyaannya sederhana: apakah eksekusi bisa mengejar ekspektasi yang sudah terlanjur dibangun pasar?