MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  250 Tahun AS: Dolar Masih Raja, Tapi Sejarahnya Pe...

Finansial

250 Tahun AS: Dolar Masih Raja, Tapi Sejarahnya Penuh Luka

Di usia seperempat milenium, Amerika Serikat mewarisi dua hal sekaligus: dolar yang masih mendominasi 89% transaksi valas global, dan rekam jejak krisis yang berulang kali mengguncang dunia.

AS Berusia 250 Tahun, Kenapa Dolar Masih Jadi Mata Uang Terkuat Dunia?

Dua ratus lima puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Amerika Serikat sudah membuktikannya dengan cara yang paling dramatis: menjadi kekuatan ekonomi terbesar dunia sekaligus sumber guncangan paling destruktif dalam sejarah keuangan modern.

PDB nominal AS kini berada di kisaran US$31,8 triliun, sekitar Rp519.000 triliun dengan kurs Rp16.300. Bukan sekadar statistik. Skala sebesar itu berarti ketika Washington bersin, Jakarta bisa ikut demam, entah lewat pasar saham, nilai tukar, atau arus modal yang tiba-tiba membalik arah.

Yang paling menarik bukan ukurannya. Yang menarik adalah bagaimana dolar, mata uang yang secara formal baru ada sejak Coinage Act of 1792, bertahan sebagai raja sistem keuangan global selama lebih dari delapan dekade, bahkan setelah tali emas yang mengikatnya resmi dipotong pada 1971.

Perjalanan dolar ke puncak bukan linear. Awal abad ke-20, pound sterling masih lebih berpengaruh karena Inggris memegang kendali perdagangan dan industri dunia. Perang Dunia I mengubah peta itu secara fundamental. Negara-negara Eropa menguras keuangan mereka untuk membeli makanan, bahan baku, dan amunisi dari AS, sementara posisi finansial Amerika justru menguat. Dari debitor modal asing, AS berubah menjadi salah satu pusat pembiayaan dunia.

Lalu datanglah 1944. Di Bretton Woods, perwakilan 44 negara sepakat membangun tatanan moneter baru pascaperang: mata uang dunia dipatok ke dolar, dolar dipatok ke emas pada harga US$35 per ounce. AS saat itu punya ekonomi yang relatif utuh dan cadangan emas yang besar, sementara Eropa dan Asia sibuk menambal kehancuran perang. Posisi dolar sebagai jangkar sistem keuangan global pun tersegel.

Nixon Shock tahun 1971 seharusnya menjadi pukulan fatal. Presiden Richard Nixon memutus konvertibilitas dolar ke emas, secara teknis meruntuhkan fondasi Bretton Woods. Tapi dolar tidak jatuh. Justru sebaliknya. Kekuatannya berpindah ke fondasi yang lebih kokoh: ukuran ekonomi AS, kedalaman pasar keuangan, dan yang paling krusial, tidak ada alternatif yang cukup besar untuk menggantikannya.

Data IMF per kuartal I-2026 mencatat dolar masih menyumbang sekitar 57% cadangan devisa global. Di pasar valuta asing, dominasinya bahkan lebih mencolok. BIS mencatat dolar berada di salah satu sisi dari 89,2% transaksi valas global pada April 2025, naik dari 88,4% di 2022. Dalam perdagangan internasional, sekitar 54% faktur ekspor global masih ditulis dalam dolar.

Kenapa sulit digeser? Yuan China terbentur kontrol modal yang belum sepenuhnya dilonggarkan. Euro besar, tapi kawasan euro terdiri dari belasan negara dengan kebijakan fiskal masing-masing. Yen dan pound sterling penting, tapi skalanya tidak memadai untuk menyerap kebutuhan likuiditas global. Pasar US Treasury tetap menjadi satu-satunya pasar yang cukup dalam dan likuid untuk menampung dana dalam jumlah kolosal dari bank sentral dan investor institusional dunia. Tidak ada yang mendekati.

Tapi, agaknya, itulah juga beban terberatnya. Dominasi dolar memaksa AS terus mengucurkan dolar ke sistem global, salah satunya lewat defisit transaksi berjalan yang tak kunjung susut. Dolar yang kuat menguntungkan konsumen AS yang bisa belanja impor lebih murah. Bagi eksportir dan industri manufaktur dalam negeri, ini seperti bertarung dengan satu tangan terikat.

Sejarah 250 tahun ini juga menyimpan sisi kelam yang tidak bisa diabaikan. The Great Depression 1929 adalah yang paling brutal. PDB riil AS ambles 29% antara 1929 dan 1933. Pengangguran melonjak hingga 25%. Harga konsumen juga turun 25%, deflasi yang menggerus pendapatan sebelum sempat dibelanjakan. Itu semua berawal dari gelembung spekulasi di Wall Street yang meledak pada Black Tuesday, 29 Oktober 1929, lalu menjalar ke sistem perbankan, lalu ke sektor riil, lalu menyeberangi Atlantik dan Pasifik. Dari reruntuhan itu lahirlah FDIC dan SEC, dua lembaga yang hingga kini menjadi penjaga sistem keuangan AS.

Delapan dekade kemudian, sejarah mengulangi dirinya dengan format berbeda. Krisis subprime mortgage 2007-2008 bermula dari obsesi Amerika terhadap kepemilikan rumah yang dipaksakan lewat kredit kepada peminjam berkemampuan bayar rendah. Selama harga properti naik, semua tampak aman. Lalu kredit-kredit itu dikemas menjadi mortgage-backed securities dan collateralized debt obligations, dijual ke investor dari Tokyo sampai Frankfurt. Saat gelembung properti pecah, racunnya sudah ada di mana-mana.

Kolapsnya Lehman Brothers pada September 2008 menjadi simbol kehancuran itu. PDB riil AS tergerus 4,3% dari puncak ke lembah. Pengangguran menembus 10% pada Oktober 2009. Jutaan orang kehilangan rumah. The Fed memangkas suku bunga mendekati nol dan meluncurkan quantitative easing, sementara pemerintah Obama menggelontorkan stimulus US$800 miliar, sekitar Rp13.040 triliun. Masif, dan tetap saja tidak cukup untuk mencegah jutaan keluarga kehilangan atap.

Di luar dua krisis terbesar itu, AS juga pernah dihajar Panic of 1873, resesi stagflasi akibat krisis minyak 1970-an, kejatuhan dot-com bubble, sampai resesi kilat akibat pandemi 2020. Krisis datang silih berganti. Tapi AS selalu bangkit, dan ironisnya, dolar selalu kembali dicari justru di saat krisis paling parah. Bak pelarian ke satu-satunya rumah yang masih berdiri di antara reruntuhan.

Pertanyaannya, berapa lama fondasi itu bisa bertahan, ketika utang AS terus membengkak dan kepercayaan terhadap Washington sedang dalam tekanan dari berbagai penjuru? Kalau data ini bisa dipercaya, satu hal yang pasti: 250 tahun berikutnya tidak akan lebih tenang dari yang pertama.