Rp30 triliun. Angka itulah yang berpotensi masuk ke kas negara sebagai bonus tak terduga dari lonjakan harga komoditas, kalau semuanya berjalan sesuai skenario terbaik.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede memproyeksikan tambahan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari kenaikan harga komoditas sepanjang 2026 berada di kisaran Rp15 triliun hingga Rp30 triliun. Proyeksi ini muncul seiring harga mineral yang terus terkerek, sebagian dipicu tensi geopolitik di Timur Tengah yang belum juga mereda.
Josua langsung memasang rem. Ruang revisi target memang ada, tapi sebaiknya bersifat konservatif. "Kalau terlalu agresif, APBN justru akan kembali rentan bila harga komoditas berbalik arah. Volume produksi batu bara tahun 2026 ini pun diperkirakan lebih rendah secara tahunan, sehingga kenaikan harga tidak selalu sepenuhnya berubah menjadi lonjakan penerimaan," kata Josua.
Estimasi yang jauh lebih lebar datang dari Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto. Ia menghitung potensi tambahan pendapatan dari nikel, batu bara, dan tembaga bisa menyentuh Rp20 triliun hingga Rp90 triliun di atas target PNBP 2026 yang dipatok Rp134 triliun khusus dari sumber daya alam. Rentang selebar itu bukan tanpa alasan: semua bergantung pada tiga syarat sekaligus. Harga harus bertahan di level yang menguntungkan, Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) direvisi naik, serta instrumen fiskal seperti bea keluar atau windfall tax betul-betul dijalankan.
Kemenkeu agaknya sudah ancang-ancang. Dalam APBN 2026, target PNBP total dipasang di angka Rp459,2 triliun, turun 14% dibanding realisasi 2025. Kini angka itu terlihat terlalu pesimistis, dan revisi ke atas sedang disiapkan seiring membaiknya prospek harga komoditas unggulan Indonesia.
Soal windfall tax, perdebatannya tidak sesederhana menambahkan baris baru di regulasi. Pengusaha di sektor nikel, misalnya, dikenal vokal soal tekanan biaya produksi setiap kali harga turun, tapi cenderung bungkam ketika harga melonjak dan margin mereka melebar. Sikap itu rupanya sudah sampai ke telinga otoritas. Kalau untung, jangan diam saja.
Pertanyaan yang relevan buat investor: seberapa jauh windfall ini bisa memperbaiki postur fiskal yang dalam beberapa kuartal terakhir tertekan oleh kebutuhan belanja yang terus menumpuk? Kalau revisi PNBP betul-betul terealisasi dan instrumen windfall tax berjalan, ruang fiskal untuk menjaga defisit tetap terkendali jelas akan lebih longgar.
Semester dua adalah variabel paling kritis. Normalisasi harga komoditas global, terutama jika ketegangan geopolitik mereda lebih cepat dari perkiraan, bisa memangkas proyeksi yang sekarang terlihat menggiurkan itu. Rp90 triliun di skenario optimistis, Rp15 triliun di skenario konservatif. Selisihnya tidak main-main.