MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  IMF: Utang Publik Sentuh Rekor, Tekanan Inflasi Da...

Ekonomi

IMF: Utang Publik Sentuh Rekor, Tekanan Inflasi Datang dari Segala Penjuru

IMF memperingatkan tekanan ganda yang mengimpit ekonomi dunia: utang publik melampaui level tertinggi sejak Perang Dunia II, sementara harga kebutuhan pokok terus mengikis daya beli masyarakat akibat rentetan konflik geopolitik.

IMF Ingatkan Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok Tekan Daya Beli Masyarakat

Dua angka dari IMF pekan ini cukup untuk membuat pelaku pasar berhenti sejenak. Utang publik global kini berada di level tertinggi sejak Perang Dunia II, sementara proyeksi inflasi dunia 2026 direvisi naik ke 4,7 persen, dari 4,1 persen tahun sebelumnya. Bukan sekadar statistik. Ini sinyal bahwa ruang manuver kebijakan global kian sempit.

IMF memproyeksikan rasio utang publik terhadap PDB akan menembus 100 persen sebelum 2030. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva secara terang-terangan menyoroti negara-negara maju, terutama Amerika Serikat, sebagai kontributor terbesar beban tersebut. Ironis: justru negara-negara yang selama ini menjadi jangkar stabilitas global itu rasio utangnya paling mengkhawatirkan, jauh di atas negara berkembang maupun negara berpendapatan rendah.

"Kami belum melihat langkah tegas di negara-negara maju dengan utang tinggi. Padahal, mereka membutuhkan rencana yang jelas untuk mengurangi defisit dalam jangka menengah," kata Georgieva.

Tekanan inflasi tak kunjung mereda. Perang di Ukraina menghajar rantai pasokan pangan dan energi secara masif, sementara konflik AS-Israel di Iran menutup jalur pasokan utama di Teluk, mendorong harga energi dan pupuk meroket. IMF mencatat harga barang kebutuhan pokok relatif terhadap barang-barang lain terus meningkat lebih dari satu tahun setelah dimulainya suatu kejadian tipikal, dan tetap tinggi secara persisten, bukan sekadar lonjakan sesaat.

Bagi rumah tangga kelas pekerja, ini bukan cerita tentang grafik. Pengeluaran untuk pangan dan energi tidak bisa ditunda atau dipangkas sembarangan. Beban inflasi, dengan kata lain, secara tidak proporsional menghantam mereka yang anggarannya paling tipis. IMF secara eksplisit menyebut konsekuensinya: peningkatan kemiskinan dan pelebaran ketimpangan pendapatan.

Bank sentral di banyak negara sudah bereaksi dengan menaikkan suku bunga, termasuk Federal Reserve, ECB, dan Bank of Japan, langkah yang Georgieva nilai tepat. Namun ada peringatan keras yang ia sampaikan: jangan sampai bank sentral terseret menjadi apa yang ia sebut "monetary cowboys", yaitu institusi yang buru-buru menyelamatkan pemerintah dari beban fiskal dengan meringankan kebijakan moneter sebelum waktunya. Independensi bank sentral, kata Georgieva, adalah syarat mutlak agar stabilitas harga bisa dijaga.

Tekanan inflasi kali ini agaknya lebih kompleks dari siklus biasa. Selain konflik geopolitik, IMF mencatat tekanan harga juga datang dari pembangunan infrastruktur AI, lonjakan belanja pertahanan global, dan biaya pembayaran utang yang terus membengkak. Inflasi yang tidak berasal dari satu titik, melainkan menyerang dari segala arah sekaligus.

Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, dilemanya jauh lebih pelik. Menaikkan suku bunga memang bisa meredam inflasi, tapi juga berpotensi membekukan aktivitas ekonomi di saat daya beli masyarakat sudah tergerus. IMF sendiri mengakui banyak negara berpenghasilan rendah tidak punya ruang fiskal yang cukup untuk memberikan bantuan sosial, terlebih dengan tumpukan utang yang makin tinggi akibat guncangan beruntun sejak pandemi. Pertanyaannya: sampai kapan mereka bisa bertahan tanpa ruang gerak?

Pembaruan lengkap World Economic Outlook dijadwalkan rilis minggu depan, lengkap dengan revisi angka pertumbuhan dan inflasi global. Bisa jadi lebih suram dari yang sudah bocor sejauh ini.