SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  IHSG Rebound 3,57% di Awal Oktober, Gema Goeyardi:...

Ekonomi

IHSG Rebound 3,57% di Awal Oktober, Gema Goeyardi: Politik Kini Bagian dari Analisis Saham

IHSG berbalik arah sejak 1 Oktober 2026 dengan penguatan 3,57% per 6 Oktober, sesuai proyeksi Astronacci International. Di saat yang sama, CEO Astronacci Gema Goeyardi mengingatkan investor ritel bahwa geopolitik bukan lagi isu sampingan di pasar modal.

IHSG Rebound sejak Awal Oktober, Terbuka Peluang Penguatan Lanjutan

IHSG menyentuh low 5.973 pada awal Oktober, lalu memantul keras. Bukan kebetulan, setidaknya itu klaim Astronacci International.

Per 6 Oktober 2026, indeks telah menguat 3,57% dari titik pembalikannya di 1 Oktober. Sepanjang September, indeks berada di bawah tekanan jual yang cukup konsisten. Jauh sebelum pembalikan itu terjadi, Founder Astronacci International Gema Goeyardi mengaku pihaknya sudah mengantisipasinya. Dalam program Mata Market di kanal YouTube Astronacci pada 29 September, ia sudah menyoroti potensi false break di level support 5.980 sebagai sinyal bahwa tekanan jual akan segera mereda. Benar saja, IHSG sempat menembus ke 5.973 sebelum langsung berbalik naik. Pola itulah yang ia sebut sebagai konfirmasi bottoming.

"Saat market merah, jangan panik," kata Gema dalam Investor Daily Summit 2026, Kamis (8/10/2026). Fase koreksi, menurutnya, justru menjadi peluang bagi investor yang bisa membaca waktu dengan tepat, khususnya di sektor perbankan dan energi yang ia sebut memimpin pergerakan rebound kali ini.

Metode yang digunakan Astronacci, Eye of Future, berfokus pada proyeksi waktu terjadinya titik balik pasar. Rekam jejaknya di episode Oktober ini, kalau data ini bisa dipercaya, agaknya cukup meyakinkan: fase bottoming yang diprediksi mulai 1 Oktober terbukti sesuai dengan pergerakan aktual indeks. Target berikutnya, menurut Gema, adalah gap atas yang sudah diidentifikasi sebelum koreksi September dimulai.

Tapi Gema tidak cuma bicara soal chart dan timing. Di forum yang sama, ia menyampaikan sesuatu yang lebih mendasar.

Masih banyak trader yang memisahkan analisis saham dari perkembangan politik. Cara pandang itu, tegasnya, keliru. "Kalau dulu orang bilang, ngapain sih lu ngurusin politik? Udahlah kalau trading saham ya ngurusin saham aja. Nah ini kesalahan investor ritel tuh di situ," ujarnya. Ia mencontohkan Donald Trump yang secara terang-terangan menggunakan kebijakan politik sebagai instrumen untuk memengaruhi perdagangan global. Dalam konteks itu, geopolitik bukan lagi variabel latar. Ia variabel utama.

"Jadi geoekonomi dan geopolitik itu adalah satu kesatuan untuk membaca arah market, itu yang penting," tegasnya. Kebijakan suatu pemerintah, hubungan antarnegara, hingga dinamika di Washington atau Beijing semuanya bisa menggerakkan indeks, nilai tukar, dan harga komoditas secara bersamaan. Bagi investor yang masih berparadigma lama, cukup analisis fundamental dan teknikal tanpa mau membaca peta geopolitik, risikonya makin besar. Pertanyaannya, berapa banyak dari mereka yang benar-benar sadar?

Penguatan IHSG di Oktober ini memberi napas. Seberapa jauh kelanjutannya, itu soal lain, tergantung pada sentimen yang lebih luas, termasuk variabel yang tidak akan pernah muncul di laporan keuangan mana pun.