MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Supertanker Minyak Meledak di Hormuz, Iran Ancam K...

Internasional

Supertanker Minyak Meledak di Hormuz, Iran Ancam Kapal yang Langgar Rute

Sebuah supertanker berkapasitas dua juta barel minyak meledak setelah menghantam ranjau di Selat Hormuz, mempertegang situasi di jalur energi paling strategis di dunia.

An oil tanker exploded in the Strait of Hormuz after colliding with a naval mine after deviating from the maritime corridor specified by Iran. Live updates: https://en.royanews.tv/news/72053#8637

Sebuah supertanker minyak meledak di Selat Hormuz pada Sabtu (10/10/2026) setelah menghantam ranjau laut, saat mencoba keluar melalui jalur selatan yang tidak diakui Teheran. Satu insiden yang langsung mempertegang suasana di salah satu chokepoint energi paling vital di planet ini.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi kejadian itu. Kapal tersebut, menurut IRGC, sempat mematikan sistem navigasi sebelum nekat menerobos rute alternatif. Ledakannya terlihat dari kawasan pesisir. "Nasib setiap kapal yang mengabaikan aturan di Selat Hormuz adalah kobaran api yang mengerikan," demikian pernyataan resmi IRGC yang dikutip kantor berita Anadolu.

Dua juta barel minyak. Itulah kapasitas angkut supertanker yang kini entah sudah jadi apa di dasar selat. Bukan kapal sembarangan. Namun hingga berita ini diturunkan, identitas kapal, asal-usul bendera, jumlah awak, dan kemungkinan korban belum ada informasi resminya.

Insiden ini bukan datang dari ruang kosong. Iran pada 12 Juli lalu resmi menutup kembali Selat Hormuz setelah AS melanjutkan serangan ke wilayah Iran pada 8 Juli. Teheran sekaligus mengancam akan membidik setiap kapal yang berupaya melintasi selat tanpa izin atau menggunakan rute yang tidak ditetapkan otoritas Iran. Ancaman itu, kalau data ini bisa dipercaya, ternyata bukan sekadar gertakan.

Latar belakangnya lebih panjang dari sekadar sengketa navigasi. AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran sejak 28 Februari, yang menurut Teheran menewaskan lebih dari 3.000 orang. Iran membalas, korban berjatuhan di pihak AS dan Israel, sebelum gencatan senjata tercapai pada April. Tapi perdamaian itu rapuh. AS kembali menghajar sejumlah situs Iran, meski kedua pihak sempat menandatangani nota kesepahaman pada pertengahan Juni.

Perundingan Washington-Teheran kini buntu. Batu sandungannya persis soal ini: siapa yang berhak mengatur pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang setiap harinya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Bagi pelaku pasar komoditas dan energi, insiden ini bisa jadi sinyal awal eskalasi yang lebih serius. Setiap gangguan fisik di Hormuz, sekecil apapun, punya efek psikologis yang tidak proporsional terhadap harga minyak global. Pertanyaannya bukan lagi soal satu kapal yang karam, tapi soal berapa banyak operator pelayaran yang akan berpikir ulang melewati selat itu tanpa restu Teheran.