Realisasi investasi triwulan I 2026 tumbuh hanya 7,2% secara tahunan, turun jauh dari 15,9% di periode yang sama tahun lalu. Momentumnya melambat, sementara pemerintah sudah mematok target pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) nasional di kisaran 6,5%-7% untuk 2027. Angka yang, kalau mau jujur, tidak kecil tantangannya.
Dua ekonom yang dimintai pandangan memberi nada senada: batas bawahnya masih bisa dikejar, batas atasnya lain cerita. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut target tersebut "cukup menantang, tetapi masih mungkin dicapai" selama proyek-proyek yang sudah direncanakan benar-benar bergerak dari komitmen ke konstruksi. Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet lebih blak-blakan: untuk tembus 6,5%-7%, laju investasi harus tumbuh lebih kencang dari kondisi sekarang yang baru menyentuh 5,96% secara tahunan.
Dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027, pemerintah bahkan memasang target lebih ambisius: pertumbuhan investasi di kisaran 6,8%-8,8%, dengan realisasi penanaman modal asing dan dalam negeri ditargetkan antara Rp 2.361,6 triliun hingga Rp 2.451 triliun. Angka besar. Tapi angka komitmen dan angka PMTB adalah dua hal berbeda yang kerap dicampuradukkan.
Josua mengingatkan bahwa PMTB dalam perhitungan PDB mencerminkan pembentukan aset tetap riil: gedung yang berdiri, mesin yang dibeli, infrastruktur yang terbangun. Komitmen investasi di atas kertas baru berdampak nyata ke PMTB kalau belanja modal terjadi di dalam negeri, kandungan impornya tidak keterlaluan, dan proyeknya tidak mangkrak. "Realisasi investasi memang bisa terlihat besar, tetapi dampaknya ke PMTB baru akan kuat jika belanja modal benar-benar terjadi di dalam negeri, kandungan impornya tidak terlalu tinggi, dan proyeknya tidak banyak tertunda," kata Josua.
Soal Danantara, keduanya kompak: jangan berharap terlalu banyak dalam waktu dekat. Yusuf memperkirakan dampaknya baru mungkin terlihat di akhir 2026 hingga 2027, sebab sebagian besar proyek masih di tahap awal. Ia juga mengingatkan bahwa sebagian dana yang dikelola Danantara masih terpakai untuk restrukturisasi aset BUMN, bukan langsung menciptakan pembentukan modal baru. Josua senada: Danantara lebih berperan sebagai "jangkar" yang menurunkan risiko awal proyek agar modal swasta mau masuk lebih besar, bukan sebagai penyumbang utama tunggal PMTB.
Di sinilah inti persoalannya. Dari total kebutuhan investasi nasional sepanjang 2025-2031 yang diperkirakan mencapai Rp 62,54 ribu triliun, sekitar 85,6% atau Rp 53,56 ribu triliun harus datang dari sektor swasta. Kontribusi BUMN termasuk Danantara diperkirakan hanya sekitar 9,3%, APBN tidak lebih dari 5%. Kalau swasta tidak ikut masuk lewat skema crowding in, keseluruhan konstruksi target ini runtuh.
Anggota DPR Fraksi Gerindra Azis Subekti punya catatannya sendiri. Indonesia, kata dia, sudah punya daya tarik: nilai komitmen investasi dari negara-negara mitra mencapai sekitar 175 miliar dolar AS. Tapi komitmen tidak otomatis jadi proyek. "Persoalannya bukan apakah Indonesia memiliki peluang. Persoalannya adalah apakah institusi negara mampu mengubah peluang menjadi hasil," tegasnya. Hambatan klasik masih menghantui: perizinan, tata ruang, koordinasi lintas lembaga, kepastian regulasi, pembebasan lahan. Azis menyebut Korea Selatan, Vietnam, dan Malaysia sebagai contoh negara yang berhasil mengakselerasi investasi karena koordinasi kelembagaan yang solid. Bukan karena angka MoU yang banyak.
Efisiensi juga jadi sorotan. ICOR Indonesia masih berkisar 5-6, artinya setiap tambahan investasi belum menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang optimal. Rasio PMTB terhadap PDB baru di kisaran 28%. Yusuf menyebutnya lugas: yang dibutuhkan bukan hanya lebih banyak proyek, tapi investasi yang lebih produktif. Josua menambahkan bahwa pemerintah tidak cukup hanya mengejar angka, karena investasi yang masuk harus punya pengganda ekonomi tinggi, menyerap tenaga kerja, memperkuat ekspor, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Sektor-sektor penopang PMTB 2027 yang konsisten disebut keduanya: hilirisasi mineral dan logam dasar, pembangunan infrastruktur, kawasan industri, perumahan, dan manufaktur. Energi terbarukan serta ekonomi digital termasuk data center terus tumbuh. Agaknya kontribusinya belum bisa menggeser dominasi hilirisasi dalam waktu dekat.
Target 6,5%-7% bukan mustahil. Tapi dengan momentum yang mulai amblas dan struktur pembiayaan yang bertumpu hampir sepenuhnya pada swasta, pemerintah tidak punya banyak ruang untuk menunggu.