SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Samsung Pangkas Produksi Hingga 30%, Divisi HP Mer...

Bisnis

Samsung Pangkas Produksi Hingga 30%, Divisi HP Merugi Pertama Kali dalam Sejarah

Lonjakan harga chip RAM hingga 175 persen memaksa Samsung memangkas target produksi smartphone dari 270 juta menjadi sekitar 200 juta unit, sementara industri HP global bersiap menghadapi pergeseran besar ke segmen layar lipat.

HP Mulai Ditinggalkan di 2026, Ramai-ramai Beralih ke Penggantinya

Harga satu chip RAM LPDDR5X berkapasitas 12GB kini menyentuh kisaran 145 dolar AS, setara Rp2,3 juta, melonjak 175 persen dibanding tahun lalu. Bagi Samsung, angka itu bukan sekadar statistik industri, bagi Samsung, itu adalah biang keladi dari keputusan paling dramatis yang mereka ambil tahun ini.

Divisi Mobile Experience (MX) Samsung dilaporkan telah menginstruksikan para pemasok untuk memangkas volume produksi smartphone antara 20 hingga 30 persen pada kuartal keempat 2026. Jika direalisasikan, target produksi tahunan yang semula dipatok 270 juta unit bakal melorot ke sedikit di atas 200 juta unit. Pemangkasan sebesar itu jauh di luar kebiasaan, penurunan produksi menjelang akhir tahun memang lazim karena konsumen biasanya menahan diri menunggu peluncuran seri Galaxy S generasi baru, tapi kali ini skalanya berbeda.

Ironis. Samsung justru mencatatkan penjualan smartphone yang kuat sepanjang tahun. Riset Counterpoint bahkan menempatkan Samsung kembali di puncak pasar global pada Q2 2026, menggeser Apple. Namun dominasi volume itu sama sekali tidak tercermin di laporan laba rugi. Divisi Device eXperience (DX) membukukan rugi bersih sekitar 544 juta dolar AS pada Q2 2026, dengan segmen mobile menyumbang kerugian terbesar, yakni sekitar 476 juta dolar AS. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, divisi mobile Samsung menanggung kerugian kuartalan. Para analis memperkirakan kondisi itu bakal memburuk di Q3 dan Q4, seiring harga chip DRAM yang diproyeksikan naik lagi sekitar 20 persen.

Samsung sudah mencoba meredam tekanan biaya dengan menaikkan harga jual. Seri Galaxy S26 dan Galaxy Z8 dirilis dengan banderol lebih mahal dari generasi sebelumnya, lini mid-range pun ikut disesuaikan. Kenaikan harga jual rata-rata mencapai 100 dolar AS per unit di pasar global, langkah yang agaknya tetap tidak cukup untuk menutup pembengkakan biaya produksi yang bergerak lebih cepat. Perlu dicatat, laporan tersebut belum merinci apakah kerugian berlaku merata untuk seluruh lini. Perangkat premium seperti Galaxy S26 Ultra dan Galaxy Z Fold 8 kemungkinan masih punya struktur margin yang berbeda.

Satu divisi lain justru panen besar dari krisis yang sama. Divisi semikonduktor (Device Solutions) Samsung mengantongi laba operasional 53,7 triliun won pada Q1 2026, lalu melejit ke 89,2 triliun won di Q2, melampaui NVIDIA dan menobatkan Samsung sebagai perusahaan teknologi paling menguntungkan di dunia pada kuartal itu. Di Q3, angka itu diprediksi tembus 100 triliun won. Samsung menderita dari kenaikan harga RAM sebagai pembeli komponen, sekaligus menikmatinya sebagai produsen chip. Bak pedang bermata dua yang ujungnya sama-sama tajam.

Tekanan pada bisnis smartphone konvensional ini datang bersamaan dengan pergeseran struktural yang lebih besar. IDC memproyeksikan pengiriman HP konvensional turun 1,4 persen pada 2026, sementara pasar keseluruhan berisiko tergerus hingga 5 persen dalam skenario pesimistis. Konsumen kian enggan mengganti perangkat tanpa alasan kuat, dan siklus penggantian yang memanjang menjadi beban nyata bagi seluruh produsen.

Segmen yang justru tumbuh adalah HP layar lipat. IDC memproyeksikan pengiriman foldable melonjak 29,7 persen pada 2026, jauh melampaui proyeksi sebelumnya yang hanya 6 persen. "Tahun 2026 akan bergairah untuk kategori HP lipat, dengan pertumbuhan tahunan diproyeksikan hampir 30 persen dibandingkan patokan 6 persen pada proyeksi sebelumnya," kata Nabila Popal, Direktur Riset Senior IDC. Ia menunjuk Samsung Galaxy Z TriFold dan iPhone lipat pertama Apple sebagai katalis utama. Francisco Jeronimo, Vice President IDC untuk Perangkat Klien, menilai kehadiran Apple akan membuka babak baru, mengingat harga jual rata-rata HP lipat bisa tiga kali lipat dibanding HP standar. Kalau proyeksi itu tepat, foldable bisa jadi mesin margin, persis saat bisnis smartphone konvensional kehilangan daya tariknya.

Dalam rentang 2026 hingga 2029, IDC memperkirakan foldable tumbuh dengan CAGR 17 persen, berbanding kurang dari 1 persen untuk HP konvensional. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan sebelum harga foldable yang mencekik mulai mengulang pola kejenuhan yang sama? Bagi investor yang mencermati ekosistem teknologi global, ini bukan sekadar tren gadget, ini pergeseran yang akan menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang perlahan kehilangan relevansi.