Kamis pagi (21/5/2026), lantai bursa seolah dibombardir. Saham-saham di bawah bendera konglomerat Prajogo Pangestu rontok berjamaah, menyeret IHSG anjlok 2,78% ke level 6.143 menjelang penutupan sesi pertama.
Pemantiknya sudah diketahui sejak akhir pekan lalu: MSCI mencoret sejumlah emiten Indonesia dari MSCI Global Standard Index dalam siklus rebalancing terbarunya. Hampir seluruh portofolio saham Prajogo kompak masuk jajaran top losers dalam beberapa hari berturut-turut.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) paling parah dihajar. Saham petrokimia ini ambrol 14,66% ke Rp 2.270, langsung menyentuh batas auto reject bawah sejak sesi pagi dibuka. Dalam sepekan, TPIA sudah ambles 47,2%. Sebulan: ambrol 62,6%. Year to date? Terjun bebas 67,5%. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) merosot 13,08% ke Rp 1.495, sementara PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terkoreksi 11,47% ke Rp 2.470. PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) masing-masing melemah 12,25% dan 11,02%. Hampir tidak ada yang selamat.
Dampaknya pada IHSG terasa telak. Dari 591 saham yang bergerak, mayoritas masuk zona merah. Nilai transaksi pasar mencapai Rp 9,345 triliun dengan kapitalisasi pasar BEI ikut susut ke Rp 10.635,303 triliun.
Nasib serupa menimpa PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten Grup Sinar Mas yang juga tercoret dari MSCI. Harga sahamnya sudah ambles 81,44% sejak awal tahun. Pada sesi pertama Selasa (19/5), DSSA minus 8,52% ke Rp 805, sehari setelah rontok hampir 15%. Meski demikian, ada yang memanfaatkan momentum. Broker Mandiri Sekuritas dan Semesta Indovest tercatat membukukan net buy masing-masing Rp 29,1 miliar dan Rp 11,1 miliar untuk investor domestik, entah kebetulan atau tidak, keduanya serok di kisaran harga Rp 880-an.
Ini soal efek passive outflow. Ketika sebuah saham didepak dari indeks global, dana-dana yang tracking MSCI dipaksa melepas posisi, terlepas kondisi fundamental emiten yang bersangkutan. "Tekanan jangka pendek masih mungkin berlanjut sampai proses rebalancing selesai. Tapi untuk jangka lebih panjang, arahnya akan ditentukan fundamental, likuiditas, dan kemampuan emiten jaga pertumbuhan bisnis," kata Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi kepada Investor Daily.
Wafi memperkirakan grup Prajogo akan melancarkan sejumlah strategi defensif: memperkuat narasi fundamental, menjaga pertumbuhan laba, memperbesar free float, hingga mempererat komunikasi dengan investor institusi global. Untuk TPIA, dia masih pasang target harga Rp 5.250 dengan alasan diversifikasi bisnis pasca integrasi Aster. BREN dipatok Rp 3.250, meski volatilitasnya dianggap masih akan tinggi dalam waktu dekat.
Yang agaknya paling terasa: kejatuhan ini merobohkan posisi Prajogo sebagai orang terkaya Indonesia. Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires per 20 Mei 2026, total kekayaannya tercatat USD 15,2 miliar atau sekitar Rp 269 triliun, turun sekitar 14,77% hanya dalam beberapa hari terakhir. Dalam lima bulan pertama 2026, kekayaannya menyusut USD 13,4 miliar atau setara Rp 237,2 triliun. Dibanding puncaknya di 2024 yang sempat menyentuh USD 43,4 miliar, total kerugian akumulatif sudah melampaui USD 28 miliar.
Posisi orang terkaya Indonesia kini direbut Low Tuck Kwong, Presiden Direktur PT Bayan Resources Tbk, dengan kekayaan USD 16 miliar atau sekitar Rp 283,2 triliun. Robert Budi Hartono berada di posisi kedua dengan USD 15,5 miliar. Prajogo tergeser ke urutan tiga.
DSSA menyimpan cerita tersendiri, dan lebih rumit dari sekadar efek MSCI. Di balik kejatuhan harganya ada kisah pivot bisnis yang mahal: laba bersih menyusut 25,41% YoY menjadi USD 230,53 juta, sementara utang membengkak dari USD 1,75 miliar menjadi USD 2,15 miliar demi mendanai ekspansi ke serat optik, satelit, dan kecerdasan buatan. Total aset memang tumbuh menjadi USD 4,41 miliar, tapi dibiayai dengan utang yang kian tebal di saat laba mengempis. Gross margin tersisa 33,7%, laba usaha terjun 38,4%. Batu bara masih jadi sapi perah, tapi harga komoditasnya sudah tidak seramah dulu.
Saham DSSA sendiri pernah terbang nyaris 3.000% antara Mei 2023 hingga September 2025. Kini harganya di bawah Rp 900. Pertanyaannya bukan lagi soal apakah ini oversold atau tidak, melainkan seberapa lama transisi bisnis yang mahal ini bisa terus ditopang sebelum pasar kehilangan kesabaran.