Rupiah menutup perdagangan Selasa (22/9/2026) di level Rp 17.884 per dolar AS, terdepresiasi 37 poin atau 0,21 persen dari penutupan Senin di Rp 17.847. Bukan kejatuhan yang dramatis dalam sehari, tapi kalau dihitung sejak Januari, mata uang garuda sudah tergerus 6,5 persen. Angka yang patut dicermati.
Tekanan datang dari dua arah sekaligus, dan keduanya tidak saling mengimbangi. Di luar negeri, nada hawkish dari pejabat The Fed Goolsbee kembali mempertebal ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama, pasar bahkan mulai memasukkan peluang kenaikan lanjutan pada Oktober. DXY menguat tipis ke 100,481 pada sore hari, konsisten menekan mata uang pasar berkembang. Termasuk rupiah.
Harga minyak Brent yang masih bertenaga di kisaran 101 dolar AS per barel menambah kerumitan tersendiri. Memang, Brent sempat amblas lebih dari 2 persen pada Senin seiring sinyal pemulihan negosiasi AS-Iran, tapi level segitu masih jauh di atas asumsi APBN 70 dolar per barel. Bagi Indonesia yang statusnya net importer energi, setiap dolar kenaikan harga minyak artinya tambahan gesekan pada neraca perdagangan dan fiskal.
Dari sisi domestik, sentimen tak kalah berat. Pasar masih mencerna pergantian Menteri Keuangan pekan lalu, dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara, yang berlangsung bersamaan dengan pembahasan revisi UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Revisi itu berpotensi membuka ruang defisit melampaui 3 persen PDB, sinyal yang bisa dibaca sebagai pelonggaran disiplin fiskal. Pasar obligasi dan valas, entah kebetulan atau tidak, langsung merespons dengan penghindaran risiko.
"Tekanan eksternal memang nyata. Akan tetapi, kekuatan rupiah juga ditentukan oleh fondasi ekonomi domestik," kata Achmad Nur Hidayat, pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Jakarta. Ia menyoroti defisit transaksi berjalan Indonesia yang sudah mencapai 12,5 miliar dolar AS atau sekitar 3,3 persen PDB pada triwulan II-2026. Bantalan ketahanan eksternal yang semakin tipis.
Besok, semua mata tertuju ke Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Mayoritas analis memperkirakan BI akan menahan suku bunga demi menjaga momentum pertumbuhan, mengandalkan bauran kebijakan seperti lelang SRBI, swap point, dan intervensi pasar obligasi yang diklaim masih efektif. Tapi Ibrahim Assuaibi dari PT Traze Andalan Futures justru menghitung kemungkinan kenaikan 25 basis poin. "Melihat situasi inflasi global yang tinggi, kemungkinan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin," ujarnya.
BI sendiri menegaskan komitmen intervensinya. Transaksi NDF di pasar offshore, spot dan DNDF di domestik, plus pembelian SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa 146,5 miliar dolar AS per akhir Agustus masih dianggap memadai sebagai amunisi. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Erwin Gunawan Hutapea menyebut bahwa secara quarter-to-date rupiah sebenarnya masih menguat 0,37 persen, framing yang agaknya dimaksudkan untuk meredam kepanikan.
Rupiah bergerak persis dalam kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.900 sepanjang hari, sesuai proyeksi. Tapi Rp 17.900 kini terasa bukan sekadar batas atas teknikal harian. Kalau tembus, konsekuensi psikologisnya lain cerita.