KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Krisis Solar Global: Kilang Kehabisan Napas, Harga...

Bisnis

Krisis Solar Global: Kilang Kehabisan Napas, Harga Tembus Rekor

Harga solar dunia menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, bukan karena minyak mentah langka, tapi karena kapasitas kilang global sudah di ujung batasnya. Indonesia punya bantalan, tapi seberapa kuat?

Bukan Cuma Harga Minyak Mahal, Dunia Hadapi Krisis Solar

Harga solar di Amerika Serikat mencapai US$6,505 per galon pada pertengahan September 2026, naik hampir 70% dibanding periode yang sama tahun lalu. Di Eropa, kontrak berjangka diesel sudah lebih dari dua kali lipat sejak awal tahun. Bukan angka kecil. Dan ini bukan sekadar lonjakan komoditas biasa.

Yang membuat krisis kali ini berbeda dari gejolak 2008 atau 2022: masalahnya bukan pada minyak mentah. Stok Brent memang mengetat, harganya rata-rata US$91 per barel di Agustus dan merangkak ke US$105 per barel saat laporan IEA bulan September disusun. Tapi lonjakan itu kalah jauh dibanding solar yang di pasar AS menembus US$200 per barel, atau 94% di atas level sebelum perang. Kilang-kilang dunia sudah beroperasi mendekati batas kapasitas, sementara dua eksportir solar terbesar, kawasan Teluk dan Rusia, kompak ambruk.

Data IEA dalam Oil Market Report September 2026 menggambarkan tekanan berlapis. Ekspor produk olahan dan LPG dari kawasan Teluk sudah hampir 60%, atau sekitar 3,7 juta barel per hari (bph), lebih rendah dibanding Februari. Khusus solar, ekspor bersih Teluk hanya tersisa 390.000 bph di Agustus, atau sedikit di atas seperempat volume sebelum perang. Rusia bahkan lebih parah: serangan drone Ukraina yang semakin intensif menghantam jaringan kilang, dan Moskow memberlakukan larangan ekspor solar sejak Juli. Separuh dari enam kilang solar terbesar Rusia sudah memangkas produksi tajam atau berhenti beroperasi. Gabungan ekspor bersih solar dari dua kawasan itu turun 1,6 juta bph dibanding Februari, padahal keduanya sebelumnya menyumbang hampir 45% perdagangan diesel lewat jalur laut global.

Kilang di luar zona konflik memang berupaya mengisi kekosongan. AS mendorong produksi solar ke level tertinggi untuk periode ini sejak 2018. Belum cukup. "Salah satu masalah utamanya adalah banyak kilang di seluruh dunia yang kapasitasnya sudah mencapai batas maksimal," tulis IEA dalam laporannya. Kapasitas pengolahan kilang global rata-rata hanya 81,5 juta bph pada 2026, turun dari sekitar 84 juta bph setahun sebelumnya. Penyangga kian tipis.

Dampaknya merembet ke mana-mana. Di lahan pertanian Missouri, petani jagung Addie Yoder harus memutar otak karena satu mesin combine saja butuh sekitar 300 galon bahan bakar per hari. Drew Peterson, petani kedelai di South Dakota, memperkirakan biaya bahan bakar musim panen tahun ini bisa mencapai US$1.500 per hari per mesin, dua kali lipat tahun lalu. Wayne Gularte, petani sayuran di California, sampai mengaktifkan kembali traktor tua berbahan bakar bensin buatan 1950-an. "Satu-satunya uang yang bisa kami hasilkan adalah uang yang kami hemat," kata Gularte kepada Reuters. Biaya pengangkutan produk pertanian dari California ke pasar sudah melonjak 40%-120% dibanding tahun lalu.

Efek domino ke inflasi pangan sudah mulai terbaca. Harga pangan konsumen AS naik 2,7% secara tahunan di Agustus. David Ortega, ekonom dari Michigan State University, menyebut sebagian besar makanan diangkut menggunakan truk berbahan bakar solar, dan rantai distribusi pangan hampir mustahil diisolasi dari kenaikan ini. Dean Croke, analis DAT Freight & Analytics, bahkan memperingatkan kebangkrutan perusahaan angkutan independen tinggal menunggu waktu.

Tekanan politik pun ikut memanas. Trump secara terbuka menyatakan dukungannya menghentikan ekspor solar. "Saya sudah mengatakan, jangan kirim solar ke luar. Kami memproduksi banyak solar," kata Trump dikutip Reuters. Menteri Keuangan Scott Bessent mengaku tengah mengkaji skema pembatasan, apakah penuh atau sebagian. Sejumlah senator Republik mengamini, karena pemilu paruh waktu November sudah di depan mata dan biaya hidup jadi isu panas. Tapi Menteri Energi Chris Wright dan Menteri Dalam Negeri Doug Burgum menentang. Larangan ekspor, menurut mereka, justru bisa memperburuk pasar global dan memancing negara lain seperti China dan India melakukan hal serupa.

Persediaan minyak global sudah terkuras 507 juta barel sejak Februari, dengan penurunan 95 juta barel hanya di Agustus. Stok diesel AS berada di level terendah setidaknya sejak 1982 untuk periode yang sama. Di Eropa, stok di hub utama Amsterdam-Rotterdam-Antwerp menyentuh level terendah untuk periode ini dalam setahun pada 10 September. Sinyal pahit. Adapun kapasitas penyimpanan yang tersedia untuk disewakan di Amerika Utara justru melonjak ke 13 juta barel, karena perusahaan dan trader tidak punya cukup bahan bakar untuk disimpan. Kalau data ini bisa dipercaya, gambaran yang muncul lebih suram dari yang terlihat di headline.

IEA memproyeksikan pemulihan pasokan dari produsen Timur Tengah baru terjadi pada 2027. Kebuntuan negosiasi AS-Iran menunda normalisasi arus minyak, sementara perang Rusia-Ukraina memasuki tahun kelima. Produksi minyak global 2026 diperkirakan rata-rata hanya 100,7 juta bph, turun 5,7 juta bph dibanding 2025. Kelangkaan diesel, singkatnya, bukan tamu musiman. Ia kemungkinan besar akan menemani kita sampai tahun depan.

Bagi Indonesia, krisis ini adalah cermin sekaligus ujian. Program biodiesel B50 yang berlaku sejak Juli 2026 memberi bantalan nyata. Pada 2025, pemanfaatan biodiesel mencapai 14,2 juta kiloliter, melampaui target, dan berkontribusi menekan impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter. RDMP Balikpapan yang kini beroperasi menambah kapasitas pengolahan dari 260.000 menjadi 360.000 bph, dengan tambahan produksi diesel sekitar 1,8 juta kiloliter per tahun. RAPBN 2026 mengalokasikan subsidi energi sekitar Rp210,1 triliun, dan pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak naik hingga akhir tahun bahkan jika harga minyak mentah menembus US$100 per barel.

Namun data BPS berbicara lebih keras dari yang kita akui. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Juli 2026 naik 5,66% secara tahunan, dengan solar industri sebagai salah satu pendorongnya. Inflasi volatile food pada Juni sempat menyentuh 5,58%. Tekanan energi sudah merambat ke harga produsen dan pedagang besar, bukan hanya ke SPBU.

Dua bantalan sudah ada. Yang belum terjawab adalah pertanyaan yang lebih mendasar: berapa lama roda ekonomi Indonesia tetap bisa berputar kalau guncangan ini berlangsung lebih panjang dari perkiraan?