Sepekan yang berat buat rupiah. Meski pada Jumat (10/7/2026) mata uang Garuda berhasil rebound tipis ke Rp18.045 per dolar AS atau terapresiasi 0,14% secara harian, gambaran mingguan tetap suram: rupiah ambruk 0,55% dan menjadi yang terburuk di antara seluruh mata uang Asia.
Perjalanan rupiah selama lima hari terakhir cukup dramatis. Pertengahan pekan, kurs sempat menyentuh level terlemah dalam sebulan terakhir sebelum akhirnya terkerek tipis berkat pelemahan dolar AS dua hari berturut-turut. Pemicunya? Kombinasi ketegangan Timur Tengah yang kembali membara setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan, ditambah kekhawatiran pasar terhadap arah inflasi global dan harga minyak.
Tapi pemulihan harian itu tidak cukup menutup luka mingguan. Won Korea dan yuan China masih bisa membukukan penguatan dalam sepekan. Dolar Singapura hingga rupee India? Ikut berguguran bersama rupiah.
Fakhrul Fulvian, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, menyebut kondisi ini bukan sekadar soal sentimen jangka pendek. Menurutnya, Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal asing yang cukup besar agar keseimbangan neraca pembayaran semakin kuat. "Oleh karena itu kita tidak boleh cepat berpuas diri," tegasnya dalam catatan yang dirilis Kamis (9/7/2026).
Yang paling menarik dari pekan ini justru bukan rupiah. Yuan-lah yang bikin pasar gelisah sekaligus penasaran. People's Bank of China (PBOC) menetapkan kurs referensi harian, atau fixing, di level CNY 6,7989 per dolar AS. Fixing ini menembus batas psikologis CNY 6,80 per dolar AS untuk pertama kalinya sejak 2023. Bukan angka sembarangan.
Level CNY 6,80 selama ini dipandang pelaku pasar sebagai garis yang tidak mudah dilewati PBOC. Ketika bank sentral mau menembus ke sisi yang lebih kuat, pasar membacanya sebagai lampu hijau. Yuan offshore langsung merespons, menguat hingga 0,3% ke CNY 6,7785, kenaikan harian terbesar dalam hampir sebulan.
Fiona Lim, Senior FX Strategist Malayan Banking Bhd, menilai PBOC tampak nyaman membiarkan yuan terus menguat terhadap dolar AS, seiring laju apresiasinya yang sudah mulai melambat sehingga pengendalian ketat dianggap tidak lagi mendesak. Sepanjang 2026 berjalan, yuan menjadi mata uang Asia dengan kinerja terbaik, naik sekitar 3% terhadap dolar AS. Angka yang tidak main-main.
Namun bukan berarti semua sepakat yuan masih layak dikoleksi. JPMorgan Asset Management sudah memangkas posisi beli yuan terhadap dolar AS. T. Rowe Price bahkan terang-terangan menyebut yuan kini terlihat "mahal" jika diukur terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang utama China. Eddie Cheung, Senior Emerging Markets Strategist di Credit Agricole CIB, mengingatkan bahwa penurunan indeks yuan berbasis perdagangan menunjukkan PBOC belum tentu sedang memberi sinyal apresiasi agresif, melainkan sekadar memberi ruang gerak yang lebih longgar. Setidaknya, itu pembacaan yang paling konservatif.
Di Tokyo, ada cerita lain. Yen justru memimpin penguatan harian di Asia, naik 0,42% pada Jumat, setelah pemerintah Jepang mengisyaratkan rencana mendorong Government Pension Investment Fund (GPIF), salah satu dana pensiun terbesar di dunia, untuk mengalihkan alokasi dari aset luar negeri ke aset domestik. Langkah ini, kalau benar-benar dieksekusi, bisa menjadi katalis yen yang lebih tahan lama ketimbang intervensi langsung di pasar valas. Pasar agaknya sudah mulai mempertimbangkan skenario itu.
Buat pemegang rupiah, pekan depan jelas masih penuh ketidakpastian. Selama arus modal asing belum deras masuk dan dolar AS masih bisa kembali perkasa kapan saja, ruang apresiasi rupiah terasa sempit. Pertanyaannya bukan apakah rupiah bisa menguat, tapi seberapa lama penguatan itu bisa bertahan.