JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rupiah di Level Terlemah Sejak 1998, Margin Emiten...

Bisnis

Rupiah di Level Terlemah Sejak 1998, Margin Emiten Mulai Tergerus

Rupiah ditutup di Rp 17.668 per dolar AS pada Senin (18/5), level terlemah sejak krisis moneter 1997-1998. Emiten dengan utang dolar dan pendapatan rupiah paling rentan terkena dampaknya.

Rupiah Memburuk, Margin Emiten Bisa Terpuruk

Rupiah kembali menyentuh titik yang tidak pernah ingin dikenang pasar: Rp 17.668 per dolar AS, level terlemah sejak krisis moneter 1997-1998. Bukan sekadar angka psikologis. Bagi emiten-emiten di Bursa Efek Indonesia yang hidupnya bergantung pada bahan baku impor atau menanggung utang denominasi dolar, posisi kurs seperti ini bisa menggerus margin dengan cepat.

Rupiah melemah sekitar 0,4% dibanding penutupan Jumat (15/5) di level Rp 17.597 per dolar AS. Dalam hitungan hari, ribuan poin melayang. Bagi CFO yang sedang menyusun proyeksi laba kuartal dua, agaknya malam ini bakal panjang.

Emiten mana yang paling kepepet? Edwin Sebayang, Direktur PT Purwanto Asset Management, menyebut profil risiko tertinggi ada pada perusahaan dengan tiga kombinasi maut: utang dolar besar, pendapatan mayoritas rupiah, dan hedging yang lemah. Arus kas tipis membuat ruang manuver makin sempit ketika nilai tukar bergerak agresif ke arah yang salah.

Sektor paling terpapar antara lain farmasi dan alat kesehatan, properti, manufaktur, otomotif, hingga penerbangan. Benang merahnya sama: ketergantungan pada komponen atau bahan baku impor yang harus dibayar dalam dolar. Ketika rupiah amblas, biaya produksi melar. Harga jual tidak bisa serta-merta dinaikkan tanpa risiko kehilangan volume.

Sejumlah perusahaan kini mulai menjalankan strategi lindung nilai untuk membentengi diri dari volatilitas kurs. Langkah ini bukan baru, tapi efektivitasnya sangat bergantung pada seberapa disiplin perusahaan menjalankannya sebelum tekanan datang. Hedging yang dilakukan terburu-buru ketika kurs sudah di level ini, jujur saja, biayanya tidak murah.

Konteks historisnya patut diingat. Rupiah terakhir ada di kisaran ini ketika Indonesia dihajar krisis moneter hampir tiga dekade lalu. Fundamental ekonomi hari ini jelas berbeda: cadangan devisa lebih tebal, sistem perbankan lebih solid. Tapi pasar tidak selalu bergerak berdasarkan fundamental, terutama ketika sentimen global sedang tidak bersahabat. Entah kebetulan atau tidak, pola ini terasa familiar bagi veteran yang melewati 1998.

Buat investor ritel yang memegang saham-saham sektor rentan tadi, ini saat yang tepat untuk mengecek ulang struktur keuangan emiten di portofolio. Bukan panik, tapi juga jangan abai.