Sepanjang pekan kedua Juli 2026, rupiah seolah enggan beranjak jauh dari Rp 18.000 per dollar AS. Level yang tadinya dianggap batas psikologis kini terasa seperti rumah baru bagi mata uang Garuda, dan pasar saham ikut menanggung konsekuensinya.
Secara mingguan, rupiah masih terdepresiasi 0,56 persen dari posisi Rp 17.963 pada 3 Juli 2026. Jumat (10/7/2026), pasar spot mencatat penguatan 63 poin atau 0,35 persen ke Rp 18.065 per dollar AS, sementara kurs referensi Jisdor Bank Indonesia berada di Rp 18.069. Penguatan di penghujung pekan ini agaknya lebih terasa sebagai hembusan napas sesaat daripada pembalikan tren.
Awal pekan sudah memberi sinyal kurang menyenangkan. Senin (6/7/2026), rupiah dibuka di Rp 17.997 lalu tergelincir ke Rp 18.000 saat penutupan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sebenarnya ditutup di Rp 17.995, terdepresiasi 32 poin dari penutupan sebelumnya. Pengamat mata uang dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebut pemicunya adalah laporan terbaru Fitch Ratings yang menyoroti rapuhnya fondasi makroekonomi Indonesia: tekanan nilai tukar, cadangan devisa yang melorot, hingga arus modal keluar yang cukup masif. Yang lebih mengkhawatirkan, Fitch secara khusus menyinggung melemahnya kepercayaan investor terhadap tata kelola ekonomi.
Tengah pekan, tekanan datang dari arah berbeda. APBN semester I-2026 mencatat defisit Rp 196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB, naik dari Rp 180,4 triliun di Mei. Realisasi pendapatan hanya Rp 1.459,4 triliun, sementara belanja sudah tembus Rp 1.656 triliun. "Pelaksanaan APBN yang lebih cepat pada semester pertama tahun 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar," ujar Ibrahim. Rupiah pun ditutup di Rp 18.014 pada Rabu, lalu amblas ke Rp 18.128 pada Kamis, terkoreksi 114 poin dalam sehari.
Cadangan devisa sejatinya naik tipis, dari 144,9 miliar dollar AS di akhir Mei menjadi 145,6 miliar dollar AS di akhir Juni 2026. Tapi konteksnya membuat angka itu kurang menghibur: posisi tersebut masih berada di dekat level terendah dalam dua tahun terakhir.
Sentimen positif baru muncul di penghujung pekan. IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 5,0 persen untuk 2026 dan 5,1 persen untuk 2027, di atas rata-rata kawasan Emerging and Developing Asia yang diproyeksikan melambat ke 4,8 persen. ADB malah lebih optimis, memproyeksikan pertumbuhan 5,2 persen untuk dua tahun ke depan. Pasar merespons positif, dan rupiah akhirnya ditutup menguat di hari Jumat. Meski begitu, angka-angka itu masih di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen dalam APBN 2026, seperti yang diingatkan Ibrahim.
Mirae Asset Sekuritas bahkan lebih konservatif. Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, merevisi proyeksi PDB Indonesia menjadi 4,8 persen untuk 2026 dan 4,9 persen untuk 2027, turun dari estimasi sebelumnya 5,0 dan 5,1 persen. "Mencerminkan permintaan domestik yang lebih lemah, lingkungan eksternal yang kurang mendukung, dan kondisi keuangan yang lebih ketat," jelas Rully dalam riset tertulisnya. Inflasi, kata dia, kemungkinan akan merangkak ke sekitar 4,0 persen sebelum mereda kembali ke kisaran target BI di 2027.
Dampak ke pasar saham sudah terasa. Meski IHSG Jumat naik tipis 0,20 persen ke level 5.924, investor asing tetap mencatatkan net sell Rp 285 miliar di seluruh pasar. BBRI jadi sasaran utama dengan net sell Rp 107 miliar, disusul BBCA Rp 92 miliar dan TLKM Rp 81 miliar. Di sisi beli, BMRI mencatat net buy terbesar Rp 47 miliar, disusul ADRO Rp 41 miliar.
Bisa jadi tekanan ini belum berhenti. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai depresiasi rupiah secara langsung mengerek risk premium aset Indonesia sehingga investor asing terdorong mengurangi eksposur. "Jika level Rp 18.000 ditembus tanpa adanya intervensi agresif dari Bank Indonesia atau perbaikan dari sisi neraca pembayaran, dana asing (terutama hot money di pasar reguler saham dan SBN) akan terus keluar mencari perlindungan di aset safe haven seperti US Treasury atau mata uang dollar AS," papar Nafan.
Sektor-sektor paling rentan sudah cukup terbaca: barang konsumsi berbahan baku impor, farmasi, otomotif, maskapai, properti berbeban utang valuta asing, hingga emiten yang pendapatannya rupiah tapi kewajibannya dollar. Ancaman paling konkret? Unrealized forex loss saat mark to market di kuartal III nanti. Dalam skenario buruk, beban kurs yang menumpuk bisa membalikkan laba operasional menjadi rugi bersih di laporan akhir tahun.
Revisi laba ke bawah berarti forward P/E IHSG terlihat makin mahal. Valuasi mahal bertemu sentimen lesu. Koreksi tinggal soal waktu.