IHK September 2026 tercatat di angka 112,31, naik dari 108,74 pada September 2025. Di balik selisih angka itu, ada jutaan rumah tangga yang harus memutar otak lebih keras setiap kali belanja ke pasar.
Badan Pusat Statistik merilis data inflasi per 1 Oktober 2026 yang menunjukkan laju kenaikan harga secara tahunan mencapai 3,28 persen, sementara secara bulanan tercatat 0,30 persen. Angka ini agaknya sudah cukup untuk membuat siapa pun yang rutin memantau daya beli masyarakat mengernyitkan dahi, bukan karena besarannya yang ekstrem, tapi karena sumbernya: meja makan.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tahunan sebesar 4,37 persen, jauh melampaui inflasi umum. Andilnya terhadap inflasi keseluruhan mencapai 1,28 poin persentase. Bukan angka kecil, mengingat ini hanya dari satu kelompok pengeluaran yang paling sulit dihindari konsumen mana pun. Secara bulanan, kelompok ini naik 0,88 persen dengan kontribusi 0,26 poin persentase terhadap inflasi September.
Komoditas yang paling aktif menggerakkan angka ini antara lain ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, dan daging sapi. Nama-nama yang familiar. Hampir semuanya bersarang di keranjang belanja mingguan rumah tangga kelas menengah ke bawah.
Masalahnya bukan sekadar harga naik. Ini soal mengapa harga naik dan seberapa lama kenaikan itu bisa bertahan. Pasokan pangan domestik sangat rentan terhadap cuaca dan siklus panen, sementara rantai distribusi dari daerah produsen ke konsumen masih kerap tersumbat biaya logistik yang mencekik. Ketika salah satu titik itu putus, harga di pasar ujung langsung bereaksi, bahkan sebelum stok benar-benar habis.
Riset yang diterbitkan dalam Jurnal Ekonomi dan Pembangunan memperkuat tesis ini: interaksi sisi penawaran komoditas pangan dan perubahan biaya transportasi terbukti menjadi faktor penentu pergerakan harga. Kalau data ini bisa dipercaya, pengendalian inflasi pangan yang hanya mengandalkan operasi pasar atau subsidi harga di hilir bukan solusi, melainkan penundaan masalah.
Bagi rumah tangga berpendapatan rendah, setiap kenaikan harga bahan pokok bukan sekadar soal irit-iritan. Ketika pengeluaran untuk kebutuhan dasar membesar, pilihannya cuma dua: kurangi pengeluaran lain, atau turunkan kualitas konsumsi. Keduanya menyakitkan. Efek ini pun tidak merata, karena fluktuasi harga berbeda antarwilayah tergantung kondisi pasokan lokal masing-masing. Pertanyaannya, berapa lama kelompok paling rentan ini mampu menyerap tekanan tanpa bantalan kebijakan yang nyata?
Anda punya emas di brankas? Bagus. Tapi ancaman terbesar terhadap nilai riil uang Anda hari ini bukan di bursa komoditas, melainkan di los daging dan lapak cabai pasar tradisional terdekat.