Sepanjang pekan lalu, saham-saham sektor konsumer bergerak ke arah yang berbeda-beda. Benang merahnya cuma satu: tekanan biaya bahan baku belum usai, dan puncaknya bahkan belum datang.
BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan pendapatan sektor barang konsumsi tumbuh 5,9 persen secara tahunan pada kuartal III-2026. Angka yang terlihat cukup solid, tapi ada catatannya. Kenaikan harga komoditas dan dampak El Niño diperkirakan paling terasa justru pada kuartal IV-2026 hingga kuartal I-2027. "Kenaikan biaya bahan baku berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan. Dampak kenaikan biaya bahan baku dan El Nino diperkirakan memuncak pada kuartal IV-2026 hingga kuartal I-2027," tulis BRI Danareksa dalam riset hariannya.
Meski begitu, sekuritas itu tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor ini. Permintaan konsumen yang relatif resilien dan valuasi yang sudah tidak mahal, dengan estimasi P/E 2026 di level 9,3 kali, menjadi alasan mereka tidak menyerah pada sektor ini.
Dari empat emiten yang dicermati, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menjadi top picks BRI Danareksa. ICBP diproyeksikan membukukan pertumbuhan pendapatan 7,5 persen YoY, tertinggi di antara keempat emiten, dengan target harga Rp10.600 per saham. Jarak yang cukup jauh dari posisi harga terakhir di Rp6.950. Risiko sudah jelas: gandum, kentang, dan minyak goreng bisa menggerus margin meski topline terus tumbuh.
MYOR diproyeksikan tumbuh 7,3 persen YoY, ditopang penjualan domestik, dengan target harga Rp2.500. Dari posisi terakhir Rp1.375, upside-nya menggiurkan di atas kertas. Tapi RSI MYOR ada di 29,577, masuk wilayah jenuh jual, dan seluruh 12 indikator moving average kompak memberikan sinyal jual. ADX di 42,112 pun mengonfirmasi tren penurunan masih punya tenaga. Jenuh jual bukan berarti segera balik arah.
Di sinilah jarak antara proyeksi fundamental dan realita teknikal terasa paling nyata.
Secara teknikal, ICBP justru paling menjanjikan untuk jangka pendek. Naik 2,58 persen ke Rp6.950, ICBP jadi saham dengan gain terbesar pekan lalu di antara keempat emiten. Harga sudah melewati resistance pertama di Rp6.858, dan kini Rp6.967 jadi ujian berikutnya. RSI di 46,03 memang belum gagah, tapi setidaknya tidak dalam tekanan ekstrem. MA5 dan MA5 eksponensial sudah memberikan sinyal beli, agaknya ada perbaikan momentum jangka sangat pendek.
Rp6.950 juga. Tapi ceritanya beda.
INDF bergerak lebih kalem, naik Rp50 dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan 4,8 persen YoY ditopang kontribusi ICBP dan Bogasari, target harga Rp9.200. Yang menarik, RSI INDF bertengger persis di 50,065 dan MACD-nya sudah positif di 56,211. Sinyal pemulihan mulai muncul, tapi resistance pertama di Rp6.967 hanya berjarak Rp17 dari harga terakhir. Kalau level itu jebol, baru ada sesuatu yang bisa dikonfirmasi.
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) masih berkutat dengan gambaran teknikal yang berat. Naik tipis Rp15 ke Rp1.595, tapi harga masih di bawah semua moving average, dari MA5 hingga MA200 yang bertengger di Rp2.670. Williams %R di -90,909 masuk kategori oversold, namun seluruh 12 sinyal moving average seragam: jual. Target harga fundamental Rp2.500 terlihat sangat jauh. UNVR perlu menembus area Rp1.600-Rp1.630 dulu sebelum bisa bicara pemulihan, dan itu pun baru langkah pertama.
Bagi investor yang bermain di timeframe pendek, ICBP dan INDF menyajikan setup yang lebih bisa diukur saat ini. Untuk yang bersabar menunggu pemulihan fundamental sambil menanggung risiko teknikal, MYOR dengan upside ke target Rp2.500 bisa jadi taruhan, tapi perlu siap mental kalau support Rp1.365 jebol duluan. Angka yang tidak main-main untuk ditawar.