JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rupee Amblas, BBM Naik: India Terseret Badai Energ...

Bisnis

Rupee Amblas, BBM Naik: India Terseret Badai Energi dan Devisa

Rupee India merosot ke 95,9 per dolar AS, sementara harga BBM naik untuk pertama kalinya dalam empat tahun. Konflik AS-Israel di Iran jadi pemantik, tapi masalahnya jauh lebih dalam dari sekadar harga minyak.

Devisa Tergerus, Nilai Tukar Tetap Anjlok

Sepanjang 2026, rupee India dan rupiah Indonesia kompak mencatat kinerja terburuk di kawasan Asia, berdasarkan data Bloomberg. Keduanya terseret kombinasi tekanan yang saling menguatkan: capital outflow, kenaikan harga minyak, dan erosi kepercayaan pada kemampuan bank sentral mengamankan cadangan devisa.

Per Senin (18/5/2026), rupee sudah menyentuh 95,9 per dolar AS. Sejak Maret 2026, mata uang India itu sudah tergerus 5 persen. Angka yang terlihat moderat di atas kertas, tapi efeknya berantai. "Semuanya terganggu," ungkap Dilip Parmar, pialang HDFC Securities India, merujuk pada arus modal keluar, perlambatan pertumbuhan, dan lonjakan harga minyak yang semuanya menghantam bersamaan.

Pemantiknya jelas: serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Harga minyak melewati 100 dolar AS per barel sejak saat itu, memukul negara-negara importir energi besar. India termasuk yang paling babak belur. Hampir 50 persen kebutuhan energinya bergantung pada kawasan Timur Tengah, dengan nilai impor energi mencapai 180 miliar dolar AS sepanjang 2024.

Konflik di Selat Hormuz memperparah situasi. Jalur pelayaran yang menanggung sekitar 20 persen pengiriman minyak global itu terganggu, mendongkrak biaya logistik dan memaksa perusahaan minyak nasional India menanggung kerugian hampir 10 miliar rupee atau setara sekitar 104,5 juta dolar AS per hari, hanya demi menjaga harga di dalam negeri tidak meledak.

Strategi itu akhirnya tidak bisa dipertahankan. Senin kemarin, pemerintah India resmi menaikkan harga bensin sebesar 3 rupee menjadi 97,77 rupee per liter di New Delhi, sementara solar menyusul ke 90,67 rupee per liter. Kenaikan BBM pertama sejak April 2022. Sebelum kebijakan ini diumumkan, Modi sudah lebih dulu meminta warga mengurangi konsumsi BBM, menerapkan WFH dua hari sepekan untuk pegawai pemerintah, bahkan memangkas jumlah kendaraan dalam iring-iringannya sendiri.

Di sisi cadangan devisa, India sudah menghabiskan setidaknya 35 miliar dolar AS sejak serangan ke Iran, sebagian untuk mendanai impor, sebagian lagi untuk intervensi menjaga nilai rupee. Angka cadangan devisa RBI secara resmi masih di atas 600 miliar dolar AS, jauh lebih besar dari Indonesia atau negara tetangga India mana pun. Pasar agaknya tidak terlalu terkesan dengan besarnya angka itu. Yang bikin investor gelisah bukan nominalnya, tapi laju pengeroposan yang dianggap terlalu cepat.

Upaya lain juga ditempuh. Pada 13 Mei 2026, India menaikkan tarif impor emas dan perak dari 6 persen menjadi 15 persen, dengan Modi secara pribadi menganjurkan penundaan pembelian dua komoditas itu. Bukan tanpa alasan: setelah minyak, emas dan perak adalah impor terbesar India. Tapi di negara yang warganya, bersama China, membeli 55 persen perhiasan emas global, kebijakan ini ibarat menyuruh lautan surut dengan sapu.

Kasus India bukan berdiri sendiri. Turki dihajar tekanan serupa setelah asumsi harga minyak 65 dolar AS per barel yang dipakai Menteri Keuangan Mehmet Şimşek hancur berantakan. Bank sentral Turki (CBRT) terpaksa mengucurkan 26 miliar dolar AS untuk intervensi pasar sepanjang Maret 2026 saja, termasuk menjual 22 ton emas dan menukar 36 ton emas lain dengan valas. Inflasi Turki, yang awalnya ditarget turun ke kisaran 15-21 persen tahun ini, kini sudah melesat ke 32,37 persen di Mei 2026. Target resminya sudah direvisi jadi 27-29 persen. Bukan main.

Ada benang merah yang mengikat semua ini. DXY, indeks dolar AS, sudah tergerus 14 persen dibanding 2022, sebagian karena pasar mempertanyakan independensi The Fed di bawah tekanan politik pemerintahan Trump. Pertanyaannya: kalau suaka aman global sendiri goyah, bagaimana nasib mata uang negara berkembang yang secara fundamental sudah rentan?

Buat investor di sini, pola ini patut dicermati. Rupiah masuk dalam daftar yang sama dengan rupee, dan tekanan eksternal yang kini menghajar India bukan tidak mungkin memperumit kalkulasi Bank Indonesia dalam waktu dekat.