MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Produksi Baja China Terendah Sejak 2018, Impor Bij...

Ekonomi

Produksi Baja China Terendah Sejak 2018, Impor Bijih Besi Justru Meroket

China mencetak produksi baja April terendah dalam delapan tahun, tapi impor bijih besi malah naik 8% dalam empat bulan pertama 2026. Ada pergeseran struktural di balik kontradiksi ini.

Produksi baja China melemah, impor bijih besi tetap kuat. Mengapa?

Produksi baja China pada April 2026 tercatat 86,63 juta ton, level terendah untuk bulan April sejak 2018 dan turun 2,8% dibanding periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif Januari hingga April, output baja negeri tirai bambu itu mencapai 331,12 juta ton, anjlok 4,1% year-on-year. Angka yang tidak main-main bagi produsen baja terbesar dunia.

Yang bikin pasar garuk kepala: impor bijih besi justru bergerak berlawanan arah. Empat bulan pertama 2026, China mengantongi 418,6 juta ton bijih besi impor, naik 8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus April, impor tercatat 103,9 juta ton, sedikit turun dari Maret yang sebesar 104,74 juta ton, tapi secara harian relatif stagnan karena April memang satu hari lebih pendek. Analis DBX Commodities memperkirakan angka Mei tetap solid di kisaran 104,67 juta ton.

Kontradiksi ini agaknya bukan sekadar anomali musiman. Banyak pengamat mulai menyebutnya pergeseran struktural, bukan gangguan sementara.

Dua penyebab utama pelemahan produksi sudah cukup gamblang. Sektor properti China yang masih terpuruk terus menggerogoti konsumsi baja domestik, dan ekspor baja pun ikut tergerus. Pengiriman ke luar negeri amblas 9% pada April menjadi 9,5 juta ton, sementara total ekspor Januari hingga April terpangkas 9,7% menjadi 34,2 juta ton. Bukan tren yang bisa dikesampingkan begitu saja.

Lantas kenapa impor bijih besi tetap kencang? Jawabannya berlapis. Dari sisi jangka pendek, penumpukan stok di pelabuhan jadi faktor dominan. Data SteelHome mencatat persediaan bijih besi mencapai 160,35 juta ton pada pekan 22 Mei, masih mendekati rekor 165,67 juta ton yang dicetak Maret lalu. Sejak titik terendah Juli 2025, stok telah melonjak sekitar 22%. Pertanyaannya, apakah persediaan ini akan ikut pola musiman dan menyusut menjelang musim panas belahan utara, atau justru bertahan tinggi karena produksi baja yang loyo?

Faktor geopolitik juga ikut bermain. Ketegangan di Timur Tengah dan risiko penutupan Selat Hormuz mendorong pelaku pasar melakukan pembelian antisipatif, ibarat menimbun payung sebelum hujan. Harga bijih besi yang relatif stabil di sekitar US$105 per ton selama hampir 10 bulan terakhir juga menjaga minat impor tetap hidup, dengan kontrak terbaru di Singapura ditutup di US$109,09 per ton.

Faktor jangka panjang, justru yang lebih menarik. Produksi bijih besi domestik China terus menyusut, turun 1% menjadi 326,8 juta ton pada Januari hingga April, melanjutkan penurunan 2,8% sepanjang 2025 dari 1,04 miliar ton menjadi 983 juta ton. Masalahnya bukan cuma volume. Bijih besi domestik China hanya mengandung besi sekitar 20 hingga 30%, jauh di bawah standar impor yang mencapai 60 hingga 65%, dan untuk menyamakan kualitas, bijih lokal perlu diproses ulang dengan biaya lebih mahal dan konsumsi energi yang, kalau data ini bisa dipercaya, jauh lebih boros dari yang kerap diasumsikan.

Dengan kualitas domestik yang kian merosot dan volume yang terus menyusut, bijih impor secara alamiah mengisi celah yang makin menganga, bahkan jika produksi baja China stabil atau sedikit pulih. Bukan respons jangka pendek. Ini cermin dari ketergantungan struktural yang sedang terbentuk diam-diam.

Bagi pelaku pasar komoditas, pola ini layak masuk radar. Produsen bijih besi dari Australia dan Brasil, dua eksportir utama ke China, setidaknya punya alasan untuk bernafas lebih lega dibanding yang dikhawatirkan banyak analis belakangan ini.