MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Pierre Lassonde Pasang Target Emas US$ 17.250, Uta...

Bisnis

Pierre Lassonde Pasang Target Emas US$ 17.250, Utang AS Jadi Bahan Bakarnya

Salah satu pendiri Franco-Nevada menegaskan kembali prediksi ekstremnya: harga emas bisa melonjak sepuluh kali lipat dalam tiga tahun, didorong oleh beban utang AS yang mendekati US$ 40 triliun.

Harga Emas Bisa Meledak ke US$ 17.250 - Halaman all

Pierre Lassonde bukan tipe orang yang bicara sembarangan soal emas.

Pendiri Franco-Nevada sekaligus mantan presiden Newmont Mining itu kembali menegaskan prediksinya yang sempat dianggap terlalu agresif: harga emas bisa menyentuh US$ 17.250 per troy ounce dalam tiga tahun. Bukan koreksi ke atas, bukan revisi proyeksi. Angka itu masih bertahan, katanya, dan ia yakin pasar akan membuktikannya.

Katalis utamanya bukan siklus inflasi biasa. Lassonde menunjuk langsung ke neraca fiskal Amerika Serikat yang sudah lama berada di zona berbahaya, jujur saja. Defisit anggaran AS diproyeksikan melampaui 7,9% dari PDB, sementara total utang kini mendekati US$ 40 triliun. Yang lebih menggerogoti: bunga bersih atas utang itu diprediksi Kantor Anggaran Kongres akan mencaplok hampir 14% dari seluruh belanja federal di tahun fiskal 2026.

Bukan angka kecil.

"Total utang AS pada 1981 saja, saat Reagan pertama kali terpilih, adalah US$ 1 triliun. Sekarang, itulah jumlah yang harus dibayar AS sebagai bunga setiap tahun," kata Lassonde, menekankan betapa jauh kondisi fiskal AS sudah bergeser dari titik referensi historis mana pun.

Argumen Lassonde bertumpu pada satu premis: ketika Federal Reserve memonetisasi utang dan terus mencetak dolar, emas berubah fungsi. Bukan sekadar lindung nilai, tapi mata uang cadangan terakhir yang tersisa saat kepercayaan terhadap fiat mulai goyah. Ia merujuk era 1970-an sebagai kerangka pembanding, di mana harga emas naik sepuluh kali lipat seiring lonjakan inflasi dan suku bunga yang terjadi bersamaan. Bedanya sekarang? Skala utangnya jauh lebih masif. Kondisi 1970-an, menurut Lassonde, ibarat pemanasan dibanding apa yang sedang dihadapi AS hari ini.

Skenario US$ 17.250 terdengar seperti angka dari alam mimpi bagi sebagian pelaku pasar. Emas saat ini masih berkutat jauh di bawah level itu. Untuk sampai ke sana dibutuhkan kombinasi yang tidak ringan: krisis kepercayaan terhadap dolar, resesi dalam, plus kebijakan moneter yang kehilangan kredibilitas sekaligus. Setidaknya itu skenario yang Lassonde bayangkan.

Tapi pasar emas tidak bergerak karena data fundamental semata. Ia bergerak karena narasi. Dan narasi krisis utang AS, entah kebetulan atau tidak, sedang punya banyak bahan bakar untuk terus membara.

Bagi investor ritel lokal yang terbiasa bermain emas fisik atau reksa dana berbasis komoditas, tarikan ke harga dolar yang lebih tinggi bisa jadi berkah berganda: apresiasi harga emas global sekaligus pelemahan rupiah yang biasanya menyertai tekanan eksternal. Pertanyaannya tinggal satu: seberapa lama kesabaran pasar bisa menunggu skenario tiga tahun itu terbukti?