Harga pokok produksi Rp7.000 per tanaman, harga jual bisa tembus Rp30.000 per kilogram. Kalau angka-angka itu belum cukup untuk bikin kamu melirik agribisnis, entah apa lagi yang perlu ditunjukkan.
Dua cerita dari Jawa Timur ini ibarat blueprint yang bisa direplikasi: lahan kosong, sistem hidroponik, melon premium yang pasarnya datang sendiri. Di Desa Gondangmanis, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang, Tri Mardi Walyono menyulap lahan tak produktif menjadi greenhouse yang kini dikenal sebagai Pondok Melon Gondangmanis. Di Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, BUMDes Sumber Jaya membuktikan model serupa bisa dijalankan pemerintah desa sekalipun.
Keduanya menanam varietas serupa, termasuk melon premium Lavender, dengan sistem yang menempatkan nutrisi sebagai kunci utama. Satu pohon, satu buah. Bukan kebetulan, itu strategi konsentrasi nutrisi agar bobot dan kualitas buah maksimal.
Di Pondok Melon Gondangmanis, Tri mengandalkan sistem Deep Flow Technique (DFT), metode hidroponik berbasis media cair di mana larutan nutrisi disirkulasikan dari bak penampungan ke talang horizontal, lalu kembali ke bak kontrol. Dibanding Nutrient Film Technique (NFT) yang lebih lazim dipakai, DFT punya keunggulan spesifik: tahan terhadap pemadaman listrik. "Ketika listrik mati satu sampai dua hari masih relatif aman karena masih ada larutan nutrisi yang berada di dalam talang," kata Tri. Bagi petani pemula yang belum punya infrastruktur listrik stabil, itu selisih risiko yang tidak kecil.
Baru berjalan tiga bulan. Dua greenhouse Pondok Melon Gondangmanis sudah beroperasi dengan kapasitas gabungan sekitar 2.200 tanaman, greenhouse pertama sekitar 1.000 tanaman, kedua sekitar 1.200. Greenhouse ketiga sedang dibangun dengan kapasitas 2.800 tanaman, ditargetkan rampung dua minggu dari sekarang. Kalau selesai, total produksi satu periode panen bisa menyentuh 10 ton melon, dengan masa tanam 65 hari dan bobot rata-rata 2 kilogram per buah.
Soal harga, Tri mematok berdasarkan grade: Grade A di kisaran Rp19.000 per kilogram, Grade B Rp18.000, Grade C Rp15.000. Dengan HPP sekitar Rp7.000 per tanaman untuk satu buah, marginnya, jujur saja, cukup untuk membuat banyak usaha konvensional terlihat kurang menggoda. Masif, kalau boleh dibilang.
Di Pasuruan, BUMDes Sumber Jaya bermain di segmen sedikit lebih premium. Greenhouse 500 meter persegi dengan seribu lebih tanaman berhasil panen hampir 2 ton di panen perdana, harga jual dipatok Rp30.000 per kilogram. Ummul Hakimah, pengelola BUMDes, menyebut keuntungan dari panen pertama sudah "cukup lumayan besar dari modal tanam." Angka pastinya memang tidak disebutkan, tapi konteksnya bicara sendiri.
Yang menarik dari dua kisah ini bukan sekadar angkanya. Pasar datang tanpa dikejar. Pembeli melon Pondok Melon Gondangmanis berdatangan dari Mojokerto, Blitar, bahkan Surabaya, dan itu terjadi sebelum ada promosi serius di media sosial. Di Pasuruan, konsep agrowisata greenhouse membuat pengunjung hadir langsung, dan Fatik, salah satu pembeli rutin, sudah dua kali balik beli di musim panen yang sama.
Model agrowisata greenhouse ini, bisa jadi, justru diferensiasi yang lebih kuat dari produk melonnya sendiri. Orang tidak hanya beli buah. Mereka beli pengalaman memetik langsung, melihat bagaimana buah itu tumbuh dari akar hingga matang. Pertanyaannya: berapa banyak lahan "tidak produktif" lain di Jawa Timur yang menunggu formula yang sama?