Kupon 7% per tahun. Angka itu mungkin terlihat biasa, tapi dalam konteks obligasi negara ritel, ini tertinggi dalam delapan tahun terakhir, sejak ORI015 diterbitkan pada 2018.
Pemerintah resmi membuka penawaran ORI030 mulai 6 hingga 30 Juli 2026 lewat mitra distribusi yang terhubung sistem e-SBN. Dua pilihan tenor tersedia: ORI030T3 dengan kupon 6,90% per tahun dan jatuh tempo 15 Juli 2029, serta ORI030T6 dengan kupon 7,00% per tahun dan jatuh tempo 15 Juli 2032. Minimum pembelian Rp1 juta, batas maksimal Rp5 miliar untuk T3 dan Rp10 miliar untuk T6.
Bagaimana cara menghitung kupon yang masuk ke rekening setiap bulan? Berdasarkan Memorandum Informasi resmi ORI030, perhitungannya tidak sesederhana mengalikan persentase kupon dengan nominal. Kupon dihitung dari kupon per unit dikalikan jumlah unit kepemilikan untuk menghasilkan kupon bruto, baru kemudian pajak final 10% dikenakan atas total kupon bruto tersebut. Untuk ORI030T3, kupon per unit setara Rp5.750 per bulan per Rp1 juta investasi. Untuk ORI030T6, angkanya Rp5.833. Setelah dipotong pajak, kupon neto yang diterima investor menjadi Rp5.175 dan Rp5.250 per bulan per Rp1 juta investasi.
Satu hal yang agaknya luput dari banyak investor: kupon pertama ORI030 bersifat long coupon. Pembayaran pertama pada 15 September 2026 mencakup periode akrual yang lebih panjang dari sebulan penuh, karena dihitung sejak sehari setelah tanggal setelmen, yaitu 6 Agustus 2026. Untuk ORI030T6, kupon pertama per unit mencapai Rp7.715, jauh lebih besar dari kupon bulan reguler yang hanya Rp5.833. Bulan-bulan berikutnya baru kembali ke formula standar.
Soal pajak, ini salah satu keunggulan ORI030 yang kerap diremehkan. Kupon ORI030 dikenakan PPh Final 10%, separuh dari tarif yang berlaku untuk bunga deposito yang kena pajak 20%. Dalam jangka panjang, selisih ini bisa cukup material. Investor yang menempatkan Rp500 juta pada ORI030T3, misalnya, akan mengantongi kupon neto sekitar Rp2,59 juta per bulan. Bandingkan dengan deposito di tingkat bunga setara, di mana potongan pajaknya dua kali lipat. Kalau data ini bisa dipercaya, keunggulan setelah pajak ORI030 adalah argumen terkuat yang dimiliki instrumen ini.
Lalu berapa modal yang dibutuhkan kalau tujuannya untuk menutup sebagian biaya pendidikan anak? Mengacu ilustrasi resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kebutuhan kupon sekitar Rp1 juta per bulan memerlukan investasi sekitar Rp193 juta di ORI030T3 atau Rp190 juta di ORI030T6. Targetnya Rp2 juta per bulan? Modalnya naik ke kisaran Rp386 juta untuk T3 dan Rp381 juta untuk T6. Bukan angka yang bisa dijangkau semua orang, tapi bagi investor yang sudah punya dana idle dan ingin membangun arus kas rutin, ini opsi yang patut dicermati.
Rp3,78 triliun. Angka yang tidak main-main.
Itu total kupon neto yang bakal diterima investor pada pembelian maksimal ORI030T6 senilai Rp10 miliar, dihitung dari 72 kali kupon reguler selama enam tahun hingga jatuh tempo. Pertanyaannya, berapa banyak investor ritel yang benar-benar duduk dan menghitung angka ini sebelum memutuskan?
Pilihan antara T3 dan T6 pada dasarnya soal strategi dan kebutuhan likuiditas. T3 lebih fleksibel karena pokok kembali lebih cepat, membuka ruang rollover ke instrumen berikutnya. T6 menawarkan kupon neto bulanan sedikit lebih besar pada nominal yang sama, plus status SDG Bond Ritel yang dananya dialokasikan untuk proyek pembangunan berkelanjutan. Bagi investor yang juga mempertimbangkan faktor ESG, ini bisa jadi poin tambahan yang relevan.
Masa penawaran berakhir 30 Juli 2026. Bagi yang sudah punya dana parkir dan sedang menimbang opsi, hitung dulu kebutuhannya, cocokkan dengan tenor yang sesuai.