KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  ORI030 Diburu Investor, Kupon 7% Jadi Senjata di T...

Bisnis

ORI030 Diburu Investor, Kupon 7% Jadi Senjata di Tengah Ketegangan AS-Iran

Pemesanan ORI030 secara nasional tembus Rp3,12 triliun hanya dalam beberapa hari masa penawaran, didorong kupon tetap hingga 7% per tahun dan ketidakpastian geopolitik yang mendorong investor mencari instrumen aman.

Bareksa Insight: AS-Iran Memanas, ORI030 Laku Keras, Cek Peluang Reksadana & Emas

Baru beberapa hari masa penawaran dibuka, ORI030 sudah dihajar antrean. Total pemesanan nasional mencapai Rp3,12 triliun per Kamis pagi (9/7/2026), terdiri dari ORI030T3 sebesar Rp2,36 triliun dan ORI030T6 sebesar Rp760 miliar. Angka itu setara 19,7% dari target Rp12 triliun untuk seri tiga tahun, sementara seri enam tahun baru menyerap 9,5% dari target Rp8 triliun.

Masa pembelian masih panjang, berlangsung hingga 30 Juli 2026. Tapi momentum awal ini sudah cukup bicara banyak.

Ada konteks yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, setelah AS melancarkan serangan terhadap target-target di wilayah Iran, memicu kekhawatiran terganggunya aliran minyak melalui Selat Hormuz. Harga minyak dunia langsung melonjak lebih dari 1%: WTI naik ke US$74,34 per barel, Brent ke US$78,89. Yield SBN tenor 10 tahun Indonesia pun bertahan di atas 7%, tepatnya 7,25% per 8 Juli.

Masuk di saat yang agaknya pas. Ketika yield obligasi pemerintah di pasar sekunder masih tinggi, instrumen dengan kupon tetap 6,90% untuk ORI030T3 dan 7,00% untuk ORI030T6 terasa kompetitif, khususnya bagi investor yang ingin mengunci imbal hasil tanpa harus ikut-ikutan fluktuasi pasar. Skema fixed rate berarti kupon yang diterima tidak berubah sampai jatuh tempo. Kondisi yang nyaman, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal jangka panjang.

ORI030T6 punya keistimewaan tambahan karena dikategorikan sebagai SDG Bond Ritel, instrumen yang dana hasil penerbitannya diarahkan pemerintah untuk proyek-proyek selaras Sustainable Development Goals. Bagi sebagian investor, label ESG ini sudah mulai masuk ke dalam kalkulasi.

Satu angle yang kadang luput: capital gain. Jika yield obligasi di pasar sekunder turun setelah ORI030 mulai diperdagangkan, harga obligasi akan naik dan investor bisa menikmati selisih harga di atas nilai pembelian. Bukan jaminan, tapi skenario yang realistis jika tekanan geopolitik mereda dan Bank Indonesia mulai melonggarkan suku bunga. Pertanyaannya, berapa lama kondisi ini bertahan?

Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) menjadi salah satu agen distribusi resmi yang memasarkan ORI030. Lewat platform digital bank bjb, pemesanan bisa dilakukan dengan mudah. Ada pula program cashback hingga Rp9.000.000 sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku, insentif yang bisa jadi pertimbangan tambahan bagi investor yang membandingkan berbagai platform distribusi.

Namun ORI030 hanyalah satu keping dari strategi yang lebih luas. Volatilitas geopolitik biasanya pendek tapi intens, bak badai yang cepat reda tapi meninggalkan bekas. Reksadana pasar uang tetap berguna untuk menjaga likuiditas sambil menunggu arah pasar lebih jelas. Reksadana pendapatan tetap pun mulai menunjukkan pemulihan dalam sebulan terakhir, dengan beberapa produk membukukan return satu bulan di atas 1%.

Emas? Jangan diabaikan. Harga emas spot memang terkoreksi 0,74% ke US$4.076,04 per ons pada penutupan 8 Juli, setelah risalah rapat The Fed bernada hawkish menekan selera aset tanpa yield. Tapi World Gold Council menilai prospek semester II 2026 masih solid, dengan potensi bargain hunting jika koreksi melampaui 10% dari level saat ini. Per 9 Juli, harga beli emas digital berkisar antara Rp2,43 juta hingga Rp2,53 juta per gram tergantung platform.

Bagi investor ritel yang selama ini menumpuk semua aset di deposito, ORI030 dengan kupon 7% adalah tamparan halus: ada opsi yang lebih menarik dari bunga bank, dengan jaminan penuh dari pemerintah.